Petunjuk Teknis Akuntansi Penerimaan Negara Bukan Pajak Dari Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi
Unduh / Lihat PDFAbstrak PDF (Indonesia)
MENTER] KEUANGAN REPUBLIK !NDONESIA SALINAN PERA TURAN MENTER! KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61/PMK.02/2020 TENTANG PETUNJUK TEKNIS AKUNTANSI PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK DARI KEGIATAN USAHA HULU MINYAK DAN GAS BUMI Menimbang DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTER! KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA, a. bahwa sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 256/PMK.05/2015 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Transaksi Khusus, transaksi pengelola penerimaan negara bukan pajak minyak bumi dan gas bumi diatur secara terpisah dalam Peraturan Menteri Keuangan tersendiri; b. bahwa sesuai dengan ketentuan Pasal 5 ayat (1) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 225/PMK.05/2019 tentang Kebijakan Akuntansi Pemerintah Pusat, menteri/ pimpinan lembaga dapat menyusun petunjuk teknis akuntansi di lingkungan kementerian negara/ lembaga masing-masing dengan mengacu pada Kebijakan Akuntansi Pemerintah Pusat; c. bahwa untuk memberikan pedoman penyelenggaraan akuntansi penerimaan negara bukan pajak dari kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi agar sejalan dengan kebijakan akuntansi Pemerintah Pusat, telah diatur Peraturan Menteri Keuangan Nomor 124/PMK.02/2016 www.jdih.kemenkeu.go.id Mengingat - 2 - tentang Petunjuk Teknis Akuntansi Penerimaan Negara Bukan Pajak dari Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 203/PMK.02/2018 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 124/PMK.02/2016 tentang Petunjuk Teknis Akuntansi Penerimaan Negara Bukan Pajak dari Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi; d. bahwa ketentuan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 124/PMK.02/2016 tentang Petunjuk Teknis Akuntansi Penerimaan Negara Bukan Pajak dari Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 203/PMK.02/2018 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 124/PMK.02/2016 tentang Petunjuk Teknis Akuntansi Penerimaan Negara Bukan Pajak dari Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan, sehingga perlu diganti; e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a sampai dengan huruf d, perlu menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Petunjuk Teknis Akuntansi Penerimaan Negara Bukan Pajak dari Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi; 1. Pasal 17 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 2. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 166, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4916); 3. Peraturan Presiden Nomor 57 Tahun 2020 tentang Kementerian Keuangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 98); 4. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 256/PMK.05/2015 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan www.jdih.kemenkeu.go.id Menetapkan - 3 - Transaksi Khusus (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 2054) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 127 /PMK.05/2018 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 256/PMK.05/2015 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Transaksi Khusus (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2018 Nomor 1347); 5. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 217 /PMK.0 1/2018 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Keuangan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2018 Nomor 1862) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 87 /PMK.01/2019 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 217 /PMK.01/2018 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Keuangan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2019 Nomor 641); 6. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 225/PMK.05/2019 tentang Kebijakan Akuntansi Pemerintah Pusat (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2019 Nomor 1729) MEMUTUSKAN: PERATURAN MENTER! KEUANGAN TENTANG PETUNJUK TEKNIS AKUNTANSI PENERIMMN NEGARA BUKAN PAJAK DARI KEGIATAN USAHA HULU MINYAK DAN GAS BUMI. Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Penerimaan Negara Bukan Pajak yang selanjutnya disingkat PNBP adalah pungutan yang dibayar oleh orang pribadi atau badan dengan memperoleh manfaat langsung maupun tidak langsung atas layanan atau pemanfaatan sumber daya dan hak yang diperoleh negara berdasarkan peraturan perundang-undangan, yang menjadi penenmaan Pemerintah Pusat di luar penenmaan perpajakan dan hibah dan dikelola dalam mekanisme anggaran pendapatan dan belanja negara. e www.jdih.kemenkeu.go.id -4 - 2. PNBP Sumber Daya Alam Minyak dan Gas Bumi yang selanjutnya disebut PNBP SDA Migas adalah PNBP yang dihasilkan dari penerimaan bagian negara atas hasil eksploitasi sumber daya alam minyak dan/ atau gas bumi setelah memperhitungkan kewajiban pemerintah atas kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi sesuai kontrak dan ketentuan peraturan perundang-undangan. 3. PNBP Minyak dan Gas Bumi Lainnya yang selanjutnya disebut PNBP Migas Lainnya adalah PNBP yang dihasilkan dari penerimaan bagian negara yang terkait dengan kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi dan/ atau sesuai dengan kontrak kerja sama minyak dan gas bumi selain dari hasil eksploitasi sumber daya alam minyak dan/ atau gas bumi. 4. PNBP dari kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi yang selanjutnya disebut dengan PNBP Migas adalah PNBP yang dikelola oleh Bendahara Umum Negara yang terdiri dari PNBP SDA Migas dan PNBP Migas Lainnya. 5. Domestic Market Obligation yang selanjutnya disingkat DMO adalah kewajiban penyerahan bagian kontraktor berupa minyak dan/atau gas bumi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. 6. Standar Akuntansi Pemerintahan yang selanjutnya disingkat SAP adalah prinsip-prinsip akuntansi yang diterapkan dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan pemerintah. 7. Kebijakan Akuntansi Pemerintah Pusat adalah pnns1p- prinsip, dasar-dasar, konvensi-konvensi, aturan-aturan, dan praktik-praktik spesifik yang dipilih dalam penyusunan dan penyajian laporan keuangan Pemerintah Pusat. 8. Entitas Akuntansi adalah unit pemerintahan pengguna anggaran/barang dan oleh karenanya wajib menyelenggarakan akuntansi dan menyusun laporan keuangan untuk digabungkan pada entitas pelaporan. www.jdih.kemenkeu.go.id - 5 - 9. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang selanjutnya disingkat APBN adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan negara yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat. 10. Laporan Keuangan adalah bentuk pertanggungjawaban pemerintah atas pelaksanaan APBN berupa Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas, Laporan Operasional, Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih, Laporan Perubahan Ekuitas, Neraca, dan Catatan atas Laporan Keuangan. 11. Rekening Departemen Keuangan k/ Hasil Minyak Perjanjian Karya Production Sharing Nomor: 600.000411980 pada Bank Indonesia, yang selanjutnya disebut Rekening Minyak dan Gas Bumi, adalah rekening dalam valuta USD untuk menampung seluruh penerimaan dan membayar pengeluaran terkait kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi. 12. Bendahara Umum Negara yang selanjutnya disingkat BUN adalah pejabat yang diberi tugas menjalankan fungsi bendahara umum negara. 13. Rekening Kas Umum Negara, yang selanjutnya disingkat Rekening KUN adalah rekening tempat penyimpanan uang negara yang ditentukan oleh Menteri Keuangan selaku BUN untuk menampung seluruh penerimaan negara dan membayar seluruh pengeluaran negara pada Bank Sentral. 14. Kontraktor Kontrak Kerjasama Minyak dan/atau Gas Bumi yang selanjutnya disebut Kontraktor adalah badan usaha atau bentuk usaha tetap yang ditetapkan untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi pada suatu wilayah kerja berdasarkan kontrak kerja sama dengan badan pelaksana. 15. Satuan Kerja PNBP Khusus BUN Pengelola PNBP minyak bumi dan PNBP gas bumi, yang selanjutnya disebut dengan Satker PNBP Migas merupakan satuan kerja di lingkungan Kementerian Keuangan yang tugas dan fungsinya meliputi pengelolaan PNBP minyak dan gas www.jdih.kemenkeu.go.id - 6 - bumi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan dan bertindak selaku entitas akuntansi dalam pelaporan keuangan terkait PNBP dari kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi. 16. Instansi pelaksana kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi, yang selanjutnya disebut dengan Instansi Pelaksana, adalah instansi yang dibentuk berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan untuk menyelenggarakan pengelolaan kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi di Indonesia. 17. Instansi Pemerintah adalah instansi Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. 18. Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam Minyak dan Gas Bumi, yang selanjutnya disingkat dengan DBH SDA Migas adalah bagian daerah yang berasal dari PNBP SDA Migas. Pasal 2 (1) Ruang lingkup PNBP Migas dalam Peraturan Menteri ini meliputi: a. PNBP SDA Migas terdiri atas: 1. pendapatan minyak bumi; dan 2. pendapatan gas bumi. b. PNBP Migas Lainnya terdiri atas: 1. pendapatan minyak mentah DMO; 2. pendapatan denda, bunga, dan penalti terkait kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi; dan 3. pendapatan lainnya dari kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi. (2) Petunjuk teknis akuntansi PNBP Migas dalam Peraturan Menteri ini disusun berdasarkan SAP berbasis akrual dan mengacu pada Kebijakan Akuntansi Pemerintah Pusat. (3) Ruang lingkup petunjuk teknis akuntansi PNBP Migas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi proses pengakuan, pengukuran, penyajian, dan pengungkapan unsur-unsur Laporan Keuangan yang terdiri atas: a. aset; b. kewajiban; www.jdih.kemenkeu.go.id - 7 - c. ekuitas; d. pendapatan; dan e. beban. Pasal 3 Petunjuk teknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 digunakan bagi: a. Satker PNBP Migas selaku Entitas Akuntansi sebagai pedoman dalam penyusunan Laporan Keuangan Satker PNBP Migas; b. Instansi Pelaksana sebagai pedoman dalam menyediakan dokumen pendukung pencatatan transaksi dan pelaporan keuangan dari kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi; c. Kuasa BUN sebagai pedoman dalam konsolidasian Laporan Keuangan BUN; d. Instansi Pemerintah sebagai pedoman dalam menyampaikan dokumen pendukung atas pencatatan transaksi kewajiban dari kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi; e. Satker PNBP Migas dan Kuasa BUN sebagai pedoman dalam pelaksanaan pemindahbukuan PNBP Migas dari Rekening Minyak dan Gas Bumi ke Rekening KUN; dan/atau f. Satker PNBP Migas dan instansi pelaksana kebijakan transfer dana bagi hasil ke daerah sebagai pedoman dalam penghitungan PNBP SDA Migas per Kontraktor dalam rangka penyediaan data untuk penghitungan alokasi DBH SDA Migas ke Daerah. Pasal 4 (1) Petunjuk teknis akuntansi PNBP Migas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 tertuang dalam modul petunjuk teknis yang terdiri atas: a. modul petunjuk teknis akuntansi umum, yang mengatur ketentuan mengenai pengakuan, pengukuran, penyajian, dan pengungkapan unsur- unsur Laporan Keuangan; www.jdih.kemenkeu.go.id - 8 - b. modul petunjuk teknis pemindahbukuan dalam rangka proses pengakuan dan pengukuran PNBP Migas, yang mengatur ketentuan mengenai proses pengakuan dan pengukuran pendapatan melalui Rekening Minyak dan Gas Bumi; dan c. Modul petunjuk teknis pengukuran PNBP SDA Migas per kontraktor, yang mengatur ketentuan mengenai proses pengukuran PNBP SDA Migas yang akan menjadi DBH SDA Migas. (2) Modul petunjuk teknis akuntansi PNBP Migas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini. Pasal 5 Ketentuan lebih lanjut yang diperlukan untuk pelaksanaan Peraturan Menteri ini diatur oleh Direktur Jenderal Anggaran dan Direktur Jenderal Perbendaharaan secara bersama-sama maupun sendiri-sendiri sesuai dengan kewenangannya. Pasal 6 Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku: a. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 124/PMK.02/2016 tentang Petunjuk Teknis Akuntansi Penerimaan Negara Bukan Pajak dari Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 1176); b. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 217/PMK.02/2017 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 124/PMK.02/2016 tentang Petunjuk Teknis Akuntansi Penerimaan Negara Bukan Pajak dari Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 1964); dan c. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 203/PMK.02/2018 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 124/PMK.02/2016 tentang Petunjuk Teknis Akuntansi Penerimaan Negara Bukan Pajak dari www.jdih.kemenkeu.go.id -9 - Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2018 Nomor 1846), dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Pasal 7 Peraturan Menteri m1 mulai berlaku pada tanggal diundangkan. e www.jdih.kemenkeu.go.id -10 - Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 29 Mei 2020 MENTER! KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA, ttd. SRI MULYANI INDRAWATI Diundangkan di Jakarta pada tanggal 2 Juni 2020 DIREKTUR JENDERAL PERATURANPERUNDANG-UNDANGAN KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA, ttd. WIDODO EKATJAHJANA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2020 NOMOR 552 Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum u.b. Kepala Bagian 1 , ·ministrasi Kementerian II www.jdih.kemenkeu.go.id -11 - LAMPIRAN PERATURAN MENTER! KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61/PMK.02/2020 TENTANG PETUNJUK TEKNIS AKUNTANSI PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK DARI KEGIATAN USAHA HULU MINYAK DAN GAS BUMI I. MODUL PETUNJUK TEKNIS AKUNTANSI UMUM BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Dasar Hukum 1. Latar Belakang Sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, menteri/pimpinan lembaga sebagai pengguna anggaran/barang mempunyai tugas antara lain menyusun dan menyampaikan Laporan Keuangan kementerian negara/lembaga yang dipimpinnya. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan Dan Kinerja Instansi Pemerintah, entitas pelaporan terdiri dari Pemerintah Pusat, Pemerintahan Daerah, kementerian negara/lembaga dan BUN. Setiap kuasa pengguna anggaran di lingkungan suatu kementerian negara/lembaga merupakan Entitas Akuntansi. Satker PNBP Migas adalah salah satu Entitas Akuntansi dari BUN yang berkewajiban menyelenggarakan akuntansi dan laporan pertanggungjawaban atas pelaksanaan APBN dengan menyusun Laporan Keuangan paling sedikit berupa Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, dan Catatan atas Laporan Keuangan. Pasal 32 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara mengamanatkan bahwa bentuk dan isi laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBN / Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) disusun dan disajikan sesuai dengan SAP. www.jdih.kemenkeu.go.id -12 - Penyusunan Laporan Keuangan Satker PNBP Migas selama ini mengacu pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 171/PMK.05/2007 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 233/PMK.05/2011 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 171/PMK.05/2007 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerin tah Pu sat serta Peraturan Direktur J enderal Perbendaharaan Nomor PER-57 /PB/2013 tentang Pedoman I Penyusunan Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga. Dengan terbitnya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 213/PMK.05/2013 tentang Sistem Akuntansi Dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 225/PMK.05/2019 tentang Kebijakan Akuntansi Pemerintah Pusat, praktik akuntansi dan pelaporan keuangan Satker PNBP Migas mengalami perubahan yang signifikan, yakni dari "basis kas menuju akrual" (cash towards accruan menjadi "basis akrual" (accruan. Kebijakan-kebijakan akuntansi penting yang digunakan dalam penyusunan Laporan Keuangan Satker PNBP Khusus BUN, khususnya yang terkait dengan pendapatan adalah sebagai berikut: a. Pendapatan-Laporan Realisasi Anggaran (cash basis) adalah semua penerimaan KUN yang menambah ekuitas dana lancar dalam periode tahun yang bersangkutan yang menjadi hak Pemerintah Pusat dan tidak perlu dibayar kembali oleh Pemerintah Pusat. b. Pendapatan berbasis kas diakui pada saat kas diterima pada KUN atau di Kas Negara melalui bank persepsi. c. Pendapatan-Laporan Operasional diakui pada saat timbulnya hak negara. d. Akuntansi pendapatan dilaksanakan berdasarkan asas neto untuk penerimaan yang disetor ke Rekening Minyak dan Gas Bumi dan asas bruto untuk penerimaan yang disetor langsung ke Kas Negara melalui bank persepsi. e. Pendapatan disajikan sesuai dengan jenis pendapatan. Asas neto dilakukan antara lain karena adanya prinsip "ditanggung dan dibebaskan" (assume and discharge) bagi para www.jdih.kemenkeu.go.id -13 - Kontraktor yang di dalam Kontrak Kerjasamanya mengatur prinsip tersebut. Berdasarkan prinsip assume and discharge tersebut, Kontraktor dianggap telah menyelesaikan kewajiban perpajakan dan pungutan lainnya apabila telah menyetorkan bagian hasil penjualan minyak dan gas bumi (Migas) kepada negara. Dengan demikian, Satker PNBP Migas terlebih dulu menghitung kewajiban Pemerintah dari kegiatan usaha hulu Migas (yang selanjutnya disebut kewajiban Pemerintah) dan mengalokasikan dana di Rekening Min yak dan Gas Bumi, se belum dilakukannya pengakuan pendapatan ( earning process). Pengecualian terhadap asas bruto pada penyusunan Laporan Keuangan Satuan Kerja PNBP Khusus BUN adalah untuk penerimaan Migas tidak langsung disetorkan ke Kas Negara, melainkan ditampung terlebih dahulu di dalam Rekening Minyak dan Gas Bumi Nomor 600.000411980. Hal ini didasarkan bahwa earning process atas penerimaan Migas tersebut belum selesai, karena penenmaan Migas pada Rekening Migas N omor 600.000411980 masih harus memperhitungkan unsur-unsur kewajiban Pemerintah seperti pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan Migas (PBB Migas), pengembalian (reimbursement) PPN, underlifting Kontraktor, fee kegiatan usaha hulu Migas, dan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD). Penerimaan Migas pada Rekening Minyak dan Gas Bumi Nomor 600.000411980 setelah dikurangi dengan pengeluaran kewajiban Pemerintah yang dapat diestimasi diakui sebagai "Pendapatan yang Ditangguhkan" oleh Bendahara Umum Negara. Selanjutnya, terhadap pengeluaran kewajiban Pemerintah yang membebani rekening tersebut akan dikeluarkan terlebih dahulu, apabila masih terdapat saldo penerimaan disetorkan sebagai PNBP ke Rekening KUN di Bank Indonesia. PNBP SDA Migas merupakan pendapatan negara yang dibagihasilkan ke daerah berdasarkan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (UU PKPD). Di dalam Pasal 19 ayat (1) UU PKPD tersebut diatur pula ketentuan mengenai perhitungan PNBP SDA Migas sebagai berikut: www.jdih.kemenkeu.go.id -14 - ((Penerimaan Pertambangan Minyak Bumi dan Gas Bumi yang dibagikan ke Daerah adalah Penerimaan Negara dari sumber day a alam Pertambangan Minyak Bumi dan Gas Bumi dari wilayah Daerah yang bersangkutan setelah dikurangi komponen pajak dan pungutan lainnya)J. Norma perhitungan PNBP SDA Migas tersebut diatur pula dalam peraturan pelaksanaan UU PKPD, yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan. Di dalam Pasal 21 ayat (1) dan Pasal 23 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tersebut diatur ketentuan sebagai berikut: Pasal 21 ayat (1) ((DBH pertambangan min yak bumi sebesar 15, 5% (Zima belas setengah persen) berasal dari penerimaan negara sumber daya alam pertambangan min yak bumi dari wilayah kabupaten/ kota yang bersangkutan setelah dikurangi komponen pajak dan pungutan lainnya)J Pasal 23 ayat ( 1) ((DBH pertambangan gas bumi sebesar 30,5% (tiga puluh setengah persen) berasal dari penerimaan negara sumber daya alam pertambangan gas bumi dari wilayah kabupaten/ kota yang bersangkutan setelah dikurangi komponen pajak dan pungutan lainnya)J. Selain itu, dalam Pasal 28 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 diatur juga ketentuan sebagai berikut: ((Dalam hal realisasi DBH sumber daya alam berasal dari penerimaan pertambangan minyak bumi dan/ atau gas bumi perhitungannya didasarkan atas realisasi lifting minyak bumi dan/ atau gas bumi dari departemen teknis)J. Yang dimaksud dengan lifting dalam penjelasan Pasal terse but yaitu jumlah produksi minyak bumi dan/ atau gas bumi yang dijual. Di dalam Laporan Hasil Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Bendahara Umum Negara, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menyatakan beberapa isu penting antara lain: a. Metode penghitungan PNBP SDA Migas belum didukung dengan kebijakan formal. www.jdih.kemenkeu.go.id -15 - b. Kebijakan pengakuan kewajiban Pemerintah yang diterapkan selama ini menyebabkan saldo utang kepada pihak ketiga belum dapat menggambarkan nilai kewajiban Pemerintah yang sesungguhnya. c. Pencatatan realisasi pendapatan atas hasil penjualan minyak yang disetor langsung ke Rekening KUN Rupiah tidak memiliki dasar yang memadai. Berkaitan dengan hal dimaksud, BPK merekomendasikan kepada Pemerintah (dalam hal ini Menteri Keuangan) agar mengatur dan menetapkan secara formal kebijakan dan tata cara penghitungan PNBP SDA Migas dan pencadangan saldo kas di Rekening Migas agar lebih transparan, akuntabel, dan konsisten. Saat ini, SAP tersebut telah ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan yang antara lain mengamanatkan bahwa Laporan Keuangan disusun berdasarkan basis akrual. Peraturan Pemerintah ini sekaligus mencabut Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan yang sebelumnya menganut "basis kas menuju akrual" (basis cash towards accruaij. Dalam rangka memberikan pedoman bagi seluruh entitas pelaporan maupun Entitas Akuntansi, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 225/PMK.05/2019 tentang Kebijakan Akuntansi Pemerintah Pusat. Menteri/Pimpinan Lembaga dapat menyusun petunjuk teknis akuntansi di lingkungan Kementerian Negara/Lembaga masing-masing dengan mengacu pada Kebijakan Akuntansi Pemerintah Pusat yang diatur di dalam Peraturan Menteri Keuangan tersebut. Sesuai ketentuan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 256/PMK.05/2015 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Transaksi Khusus sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 127 /PMK.05/2018 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 256/PMK.05/2015 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Transaksi Khusus, transaksi pengelola PNBP Migas akan diatur secara terpisah di dalam Peraturan Menteri Keuangan tersendiri. www.jdih.kemenkeu.go.id -16 - Disamping itu, standardisasi metode penghitungan PNBP SDA Migas nantinya dapat dijadikan sebagai acuan dalam menghitung PNBP SDA Migas per Kontraktor dalam rangka penghitungan DBH SDA Migas. Penghitungan PNBP SDA Migas per Kontraktor merupakan data penting yang akan dijadikan sebagai bahan dalam perhitungan perkiraan alokasi DBH SDA Migas per daerah penghasil. Hal ini sejalan dengan pengaturan dalam Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur mengenai pengalokasian transfer ke daerah. Berdasarkan rekomendasi Badan Pemeriksa Keuangan tersebut di atas dan memperhatikan ketentuan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 225/PMK.05/2019 tentang Kebijakan Akuntansi Pemerintah Pusat, Peraturan Menteri Keuangan Nomor 256/PMK.05/2015 tentang Sistem Akuntansi Dan Pelaporan Keuangan Transaksi Khusus sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 127 /PMK.05/2018 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 256/PMK.05/2015 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Transaksi Khusus, dan Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur mengenai pengalokasian transfer ke daerah, dipandang perlu bagi Kementerian Keuangan untuk menyusun petunjuk teknis akuntansi yang berkaitan dengan pengelolaan PNBP Migas. Petunjuk teknis tersebut disusun dengan mengacu pada kaidah umum yang diatur di dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur standar dan Kebijakan Akuntansi Pemerintah Pusat. 2. Dasar Hukum Di dalam penyusunan petunjuk teknis ini mengacu kepada beberapa sumber rujukan sebagai berikut: a. Undang-Undang APBN dan Peraturan Pelaksanaannya. b. Undang-Undang mengenai penerimaan negara bukan pajak. c. Undang-Undang mengenai keuangan negara. d. Undang-Undang mengenai perbendaharaan negara. e. Undang-Undang mengenai minyak dan gas bumi. f. Undang-Undang mengenai perimbangan keuangan antara pemerintahan pusat dan pemerintah daerah. www.jdih.kemenkeu.go.id g. Peraturan pemerintah. -17 - Pemerintah mengenai standar akuntansi h. Peraturan Pemerintah mengenai pelaporan keuangan dan kinerja instansi pemerintah. 1. Peraturan Pemerintah mengenai kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi. J. Peraturan Pemerintah mengena1 biaya operas1 yang dapat dikembalikan. k. Peraturan Pemerintah mengenai penenmaan negara dari kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi. 1. Peraturan Pemerintah mengenai dana perimbangan. m. Peraturan Presiden mengenai pengalihan pelaksanaan tugas dan fungsi kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi. n. Peraturan Presiden mengenai penyelenggaraan pengelolaan kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi. o. Peraturan Menteri Keuangan mengenai pedoman umum sistem akuntansi pemerintahan. p. Peraturan Menteri Keuangan mengenai kebijakan akuntansi pemerintah pusat. q. Peraturan Menteri Keuangan mengenai sistem akuntansi dan pelaporan keuangan pemerintah pusat. r. Peraturan Menteri Keuangan mengenai jurnal akuntansi pemerintah pada pemerintah pusat. s. Peraturan Menteri Keuangan mengenai sistem akuntansi dan pelaporan keuangan transaksi khusus. t. Peraturan Menteri Keuangan mengenai penentuan kualitas piutang dan pembentukan penyisihan piutang tidak tertagih pada kementerian negara/lembaga dan bendahara umum negara. u. Peraturan Menteri Keuangan mengenai bagan akun standar. v. Peraturan Menteri Keuangan mengenai rekening minyak dan gas bumi. w. Peraturan Menteri Keuangan mengenai tata cara penyetoran dan pelaporan penerimaan negara dari kegiatan usaha hulu minyak dan/ atau gas bumi dan penghitungan pajak penghasilan untuk keperluan pembayaran pajak penghasilan www.jdih.kemenkeu.go.id -18 - minyak bumi dan/ atau gas bumi berupa volume minyak dan/atau gas bumi. x. Peraturan Menteri Keuangan mengenai tata cara pembayaran DMO fee, overlifting kontraktor dan/ atau underlifting kontraktor dalam kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi. y. Peraturan Menteri Keuangan mengenai organisasi dan tata kerja Kementerian Keuangan. z. Kontrak Kerja Sama Kegiatan Hulu Migas. B. Tujuan dan Ruang Lingkup Petunjuk teknis akuntansi PNBP Migas digunakan oleh: 1. Satker PNBP Migas selaku Entitas Akuntansi sebagai pedoman dalam penyusunan Laporan Keuangan Satker PNBP Migas. 2. Instansi Pelaksana sebagai pedoman dalam menyediakan dokumen pendukung pencatatan transaksi dan pelaporan keuangan dari kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi. 3. Instansi Pemerintah sebagai pedoman dalam menyampaikan dokumen pendukung atas pencatatan transaksi kewajiban dari kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi; 4. Kuasa Bendahara Umum Negara sebagai pedoman dalam konsolidasian Laporan Keuangan Bendahara Umum Negara. 5. Satker PNBP Migas dan Kuasa Bendahara Umum Negara sebagai pedoman dalam pelaksanaan pemindahbukuan PNBP Migas dari Rekening Min yak dan Gas Bumi ke Rekening KUN. 6. Satker PNBP Migas dan instansi yang melaksanakan kebijakan transfer dana bagi hasil ke daerah se bagai pedoman dalam penghitungan PNBP SDA Migas per Kontraktor dalam rangka penyediaan data untuk penghitungan alokasi DBH SDA Migas ke Daerah. Ruang lingkup pengaturan dalam petunjuk teknis ini meliputi: 1. Ruang lingkup akuntansi umum meliputi pengakuan, pengukuran, penyaJ1an, dan pengungkapan unsur-unsur Laporan Keuangan Satker PNBP Migas, sebagai berikut: a. Aset Aset yang dikelola atau ditatausahakan oleh Satker PNBP Migas dalam petunjuk teknis ini meliputi Piutang Jangka www.jdih.kemenkeu.go.id -19 - Pendek, dan Piutang Jangka Panjang, termasuk Akumulasi Penyisihan Piutang Tidak Tertagih. b. Kewajiban Kewajiban yang akan diatur meliputi Utang kepada Pihak Ketiga yang berasal dari kewajiban Pemerintah. c. Ekuitas Ekuitas merupakan selisih dari Aset dan Kewajiban. d. Pendapatan Pendapatan yang dibukukan oleh Satker PNBP Migas terdiri dari pendapatan untuk Laporan Realisasi Anggaran (basis kas) dan pendapatan untuk Laporan Operasional (basis akrual), yang masing-masing terdiri dari pendapatan PNBP SDA Migas dan PNBP Migas Lainnya. e. Beban Beban yang diatur dalam petunjuk teknis ini merupakan beban kewajiban Pemerintah dan Penyisihan Piutang Tidak Tertagih. 2. Ruang lingkup pendapatan yang diatur dalam Peraturan Menteri ini meliputi: a. Pendapatan PNBP SDA Migas Pendapatan PNBP SDA Migas pada prinsipnya merupakan penerimaan negara yang earning process-nya belum selesai, sehingga untuk dapat diakui sebagai pendapatan dalam Laporan Realisasi Anggaran, dibutuhkan proses identifikasi dan perhitungan kewajiban Pemerintah untuk dicadangkan terlebih dahulu. Dana penenmaan Migas sebagian disetorkan ke rekening Kas Negara melalui bank persepsi dan sebagian lagi disetorkan melalui Rekening Minyak dan Gas Bumi yang akan dikurangi terlebih dahulu dengan cadangan atas kewajiban Pemerintah sebelum kemudian diproses pemindahbukuannya ke Rekening KUN untuk diakui sebagai pendapatan PNBP SDA Migas dalam Laporan Realisasi Anggaran. Yang termasuk penerimaan jenis ini antara lain: 1) Penerimaan hasil penjualan minyak bumi a) penerimaan minyak bumi dari kilang Pertamina; dan b) penerimaan minyak bumi dari non kilang Pertamina www.jdih.kemenkeu.go.id -20 - 2) Penerimaan hasil penjualan gas bumi, yang terdiri atas: a) Penerimaan LNG b) Penerimaan LPG c) Penerimaan Natural Gas d) Penerimaan Coal Bed Methane (CBM) 3) Penerimaan atas setoran overlifting Migas Kontraktor Jenis penerimaan ini apabila di Rekening Minyak dan Gas Bumi masih terdapat sisa dana yang dapat dipindahbukukan ke Rekening KUN akan diakui sebagai PNBP SDA Migas dengan kode akun 421111 (Pendapatan Minyak Bumi) dan 421211 (Pendapatan Gas Bumi). b. Pendapatan PNBP Migas Lainnya Pendapatan PNBP Migas Lainnya merupakan penenmaan selain PNBP SDA Migas yang berasal dari hak negara dari kegiatan usaha hulu Migas yang diatur dalam kontrak atau ketentuan perundang-undangan. Untuk jenis penerimaan ini, telah disediakan 3 (tiga) kode akun pada Bagan Akun Standar: 1) Pendapatan Minyak Mentah DMO (Kode Akun 425162); 2) Pendapatan Denda, Bunga, Penalti dari Kegiatan Usaha Hulu Migas (Kode Akun 425819); dan 3) Pendapatan Lainnya dari Kegiatan Usaha Hulu Migas (Kode Akun 425169). Pendapatan Minyak Mentah DMO berasal dari penerimaan hasil penjualan minyak bumi bagian Kontraktor yang diserahkan kepada negara dalam rangka memenuhi kebutuhan minyak dalam negeri sebagaimana diatur dalam kontrak dan ketentuan perundangan. Untuk dapat diakui sebagai pendapatan dalam Laporan Realisasi Anggaran harus diperhitungkan terlebih dahulu dengan pembayaran kewajiban Pemerintah atas DMO Fee. Sementara itu, untuk pendapatan PNBP Lainnya selain Pendapatan Minyak Mentah DMO pada pnns1pnya merupakan penenmaan yang earning process-nya telah selesai (tidak perlu diperhitungkan dengan unsur lainnya), sehingga se bagian besar setorannya tidak lagi dilakukan ke Rekening Minyak dan Gas Bumi, tetapi disetorkan ke Kas www.jdih.kemenkeu.go.id -21 - Negara melalui bank persepsi. Yang termasuk penerimaan jenis ini antara lain: 1) Penerimaan atas setoran bonus produksi dari Kontraktor. 2) Penerimaan atas setoran transfer aset dari Kontraktor. 3) Penerimaan atas setoran denda, bunga dan penalti terkait kegiatan usaha hulu Migas. 4) Penerimaan Lainnya dari Kegiatan Usaha Hulu Migas sesuai kontrak dan ketentuan peraturan perundang- undangan. Namun demikian, terdapat penenmaan yang berasal dari denda keterlambatan pembayaran hasil penjualan minyak dan gas bumi bagian negara yang setorannya tetap dilakukan ke Rekening Minyak dan Gas Bumi. Hal ini disebabkan setoran atas denda keterlambatan tersebut setorannya melekat dengan nilai pokok hasil penjualan atau nilai setoran ouerlifting Kontraktor. Oleh karena itu, dalam rangka proses pengakuan pendapatan dalam Laporan Realisasi Anggaran, untuk penerimaan ini tetap dilakukan proses pemindahbukuan dari Rekening Minyak dan Gas Bumi ke Rekening KUN. C. Acuan Penyusunan Penyusunan Peraturan Menteri didasarkan pada: 1. Kontrak Kerjasama Migas (Production Sharing Contract-PSC), berupa Kontrak Bagi Hasil (Production Sharing Contract) atau bentuk Kontrak Kerja Sama Lain. 2. Peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai PNBP. 3. Peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai minyak dan gas bumi. 4. Kerangka konseptual akuntansi pemerintahan, Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan (PSAP), Interpretasi Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan (ISAP), dan Kebijakan Akuntansi Pemerintah Pusat. 5. Peraturan perundang-undangan yang relevan dengan Laporan Keuangan. www.jdih.kemenkeu.go.id -22 - 6. Surat persetujuan atau ketetapan yang dikeluarkan oleh Kementerian yang membidangi urusan energi dan sumber daya mineral. 7. Dokumen-dokumen lainnya yang berkaitan langsung dengan Kontrak Kerja Sama. D. Gambaran Petunjuk Teknis Peraturan Menteri ini mengatur tentang metode, tata cara, dan prosedur yang perlu ditempuh dalam menyelenggarakan akuntansi yang terkait dengan pengelolaan PNBP Migas. Penyusunan petunjuk teknis dilaksanakan dengan menggunakan prms1p-pnns1p pengelolaan keuangan negara dan menjadi satu kesatuan dalam sistem akuntansi Pemerintah Pusat. Petunjuk teknis antara lain mengacu pada Kebijakan Akuntansi Pemerintah Pusat yang telah diatur berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan. Petunjuk teknis dimaksudkan untuk memberikan pedoman bagi pembuat standar dalam menyusun dan mengembangkan standar akuntansi, penyelenggaraan akuntansi dan pelaporan keuangan dalam melakukan kegiatannya, serta pengguna Laporan Keuangan dalam memahami Laporan Keuangan yang disajikan. Disamping itu, Peraturan Menteri ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran mengenai kekhususan praktik penyelenggaraan akuntansi di sektor kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi yang mungkin sedikit berbeda ( seperti pengecualian dari asas bruto dalam pengakuan pendapatan) dengan praktik akuntansi yang lazim digunakan dalam kerangka akuntansi Pemerintah Pusat. Pengecualian praktik akuntansi dilaksanakan dengan tetap memegang teguh prinsip-prinsip umum yang diatur dalam Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan. Basis akuntansi yang digunakan dalam Peraturan Menteri ini adalah basis akrual sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 225/PMK.05/2019 tentang Kebijakan Akuntansi Pemerintah Pusat. Dalam basis akrual ini, pendapatan diakui pada saat hak untuk memperoleh pendapatan telah terpenuhi meskipun kas belum diterima di Rekening KUN atau di Kas Negara pada bank persepsi dan beban diakui pada saat kewajiban yang mengakibatkan www.jdih.kemenkeu.go.id -23 - penurunan nilai kekayaan bersih telah terpenuhi, walaupun kas belum dikeluarkan dari Rekening KUN. Pendapatan dan beban tersebut akan disajikan dalam Laporan Operasional. Namun demikian, basis kas tetap digunakan dalam penyusunan Laporan Realisasi Anggaran sepanjang dokumen anggaran disusun berdasarkan basis kas. Selanjutnya, petunjuk teknis ini juga mengatur mengenai tata cara perhitungan PNBP SDA Migas, dimana angka realisasi PNBP SDA Migas yang dapat diakui sebagai pendapatan negara menurut basis kas, perlu memperhitungkan terlebih dahulu dengan kewajiban Pemerintah. Di dalam proses perhitungan kewajiban Pemerintah tersebut, memerlukan proses perhitungan, pencadangan atau pun alokasi beban yang diperhitungkan untuk menyelesaikan kewajiban Pemerintah secara periodik. Perhitungan PNBP SDA Migas juga dibutuhkan dalam rangka penyediaan data untuk keperluan penyaluran DBH SDA Migas oleh instansi terkait. Dalam hal ini, Peraturan Menteri ini akan memberikan petunjuk teknis mengenai perhitungan PNBP SDA Migas per kontraktor sebagai basis perhitungan DBH SDA Migas per daerah. E. Ketentuan Lain-lain Ilustrasi jurnal yang digunakan di dalam Peraturan Menteri ini disajikan sebagai gambaran proses akuntansi secara manual. Petunjuk teknis secara periodik akan dievaluasi dan disesuaikan dengan perkembangan proses bisnis, ketentuan PSAP, ketentuan pemerintahan, kebijakan akuntansi, dan ketentuan lainnya yang terkait dengan PNBP dan penyelenggaraan kegiatan usaha hulu Migas. www.jdih.kemenkeu.go.id -24 - BAB II PETUNJUK TEKNIS PELAPORAN KEUANGAN A. Kerangka Dasar 1. Tujuan Laporan Keuangan Tujuan umum penyusunan Laporan Keuangan Satker PNBP Migas adalah menyajikan informasi mengenai posisi keuangan, realisasi anggaran, perubahan ekuitas, dan hasil operasi. Secara khusus, tujuan pelaporan keuangan Satker PNBP Migas adalah untuk menyajikan informasi yang berguna bagi pengambil keputusan dan untuk menunjukkan akuntabilitas Satker PNBP Migas sebagai Entitas Akuntansi atas proses bisnis pengelolaan PNBP Migas. 2. Tanggung Jawab atas Laporan Keuangan Direktur PNBP bertindak selaku Kepala Satker PNBP Migas dan bertanggung jawab atas penyusunan dan penyajian Laporan Keuangan. 3. Komponen Laporan Keuangan Laporan Keuangan Satker PNBP Migas terdiri atas: a. Neraca b. Laporan Realisasi Anggaran c. Laporan Operasional d. Laporan Perubahan Ekuitas e. Catatan atas Laporan Keuangan 4. Bahasa La po ran Keuangan Laporan Keuangan Satker PNBP Migas disusun dalam Bahasa Indonesia. 5. Mata Uang Pelaporan Pelaporan harus dinyatakan dalam mata uang Rupiah. Penyajian neraca, aset, dan/ atau kewajiban dalam mata uang lain selain dari Rupiah harus dijabarkan dalam mata uang Rupiah dengan menggunakan kurs tengah Bank Sentral pada tanggal pelaporan. Nilai valuta asing atas pendapatan PNBP Migas yang berasal dari pemindahbukuan dana Rekening Minyak dan Gas Bumi, dijabarkan dalam mata uang Rupiah sesuai dengan kurs tengah Bank Sentral pada tanggal pemindahbukuan. www.jdih.kemenkeu.go.id -25 - 6. Kebijakan Akuntansi Kebijakan akuntansi disusun untuk memastikan bahwa informasi yang disajikan di dalam Laporan Keuangan Satker PNBP Migas memenuhi kriteria: a. Relevan terhadap kebutuhan para pengguna Laporan Keuangan untuk pengambilan keputusan. b. Dapat diandalkan, dengan pengertian antara lain jujur, menggambarkan substansi ekonomi dan tidak semata-mata bentuk hukumnya, netral, dapat diverifikasi, mencerminkan kehati-hatian, dan telah mencakup semua yang material. c. Dapat dibandingkan, baik antara periode satu dengan periode lainnya maupun antara Satker PNBP Migas dengan satker lainnya. d. Dapat dipahami, baik oleh pengguna Laporan Keuangan yang mempunyai latar belakang pendidikan akuntansi maupun nonakuntansi. Di dalam pengelolaan PNBP Migas, pengakuan pendapatan Laporan Realisasi Anggaran dilakukan dengan menggunakan asas neto, yaitu pendapatan PNBP SDA Migas akan diakui sebagai PNBP setelah memperhitungkan kewajiban Pemerintah, baik kewajiban perpajakan maupun nonperpajakan. Dana yang terdapat dalam Rekening Minyak dan Gas Bumi yang belum teridentifikasijenis penerimaan dan peruntukkannya akan diakui sebagai Pendapatan yang Ditunda. Adapun pendapatan Laporan Operasional diakui berdasarkan asas bruto. Kebijakan lain dalam penyusunan Laporan Keuangan adalah kewajiban Pemerintah tidak secara otomatis akan membebani APBN. Hal ini karena sumber dana yang harus disediakan untuk penyelesaian kewajiban Pemerintah berasal dari dana penerimaan Migas yang ditampung di dalam Rekening Minyak dan Gas Bumi, sehingga di dalam petunjuk teknis akuntansi ini tidak mengakui adanya pos Belanja. Pengeluaran terkait dengan penyelesaian kewajiban Pemerintah akan diakui sebagai Beban atau sebagai pengurang pendapatan operasional. www.jdih.kemenkeu.go.id -26 - 7. Penyajian Laporan Keuangan Penyajian Laporan Keuangan harus memenuhi beberapa prinsip sebagai berikut: a. Laporan Keuangan harus menyajikan secara wajar pos1s1 keuangan, realisasi anggaran, hasil operasi, dan perubahan ekuitas disertai dengan pengungkapan yang diharuskan sesuai dengan ketentuan. b. Aset disajikan menurut urutan likuiditasnya, sedangkan kewajiban diurutkan menurut waktu jatuh temponya. c. Laporan Operasional menggambarkan pendapatan dan beban yang dipisahkan menurut karakteristiknya dari kegiatan utama dan kegiatan yang bukan tugas dan fungsinya. 8. Konsistensi Perlakuan akuntansi yang sama diterapkan oleh Satker PNBP Migas pada kejadian yang serupa dari periode ke periode oleh suatu entitas pelaporan (prinsip konsistensi internal). Hal ini tidak berarti bahwa tidak boleh terjadi perubahan dari satu metode akuntansi ke metode akuntansi yang lain pada Satker PNBP Migas. Metode akuntansi yang dipakai dapat diubah dengan syarat bahwa metode yang baru diterapkan mampu memberikan informasi yang lebih baik dibandingkan metode lama. Pengaruh atas perubahan penerapan metode ini diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan. 9. Materialitas dan Agregasi Walaupun idealnya memuat segala informasi, Laporan Keuangan pemerintah hanya diharuskan memuat informasi yang memenuhi kriteria materialitas. Informasi dipandang material apabila kelalaian untuk mencantumkan atau kesalahan dalam mencatat informasi tersebut dapat mempengaruhi keputusan ekonomi pengguna yang diambil atas dasar Laporan Keuangan. Penyajian Laporan Keuangan didasarkan pada konsep materialitas antara lain berarti bahwa pos-pos yang jumlahnya material disajikan tersendiri dalam Laporan Keuangan. Sedangkan, pos-pos yang jumlahnya tidak material dapat digabungkan, sepanjang memiliki sifat atau fungsi yang sejenis. www.jdih.kemenkeu.go.id -27 - 10. Periode Pelaporan Laporan keuangan wajib disajikan secara tahunan berdasarkan tahun takwim. Namun demikian, Laporan Keuangan dapat disajikan pula untuk periode yang lebih pendek (interim) yaitu triwulanan dan semesteran. 11. Informasi Komparatif dan Laporan Keuangan Interim a. Laporan keuangan tahunan dan interim disajikan secara komparatif dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Khusus neraca interim, misalnya semesteran, disajikan secara komparatif dengan neraca akhir tahun sebelumnya. Laporan operasional interim dan laporan realisasi anggaran interim (misal Laporan Keuangan semesteran) disajikan mencakup periode sejak awal tahun anggaran (1 Januari) sampai dengan akhir periode interim yang dilaporkan (30 Juni). b. Laporan komparatif yang bersifat naratif dan deskriptif dari Laporan Keuangan periode sebelumnya wajib diungkapkan kembali apabila relevan untuk pemahaman Laporan Keuangan periode berjalan. 12. La po ran Keuangan Konsolidasian Satker PNBP Migas tidak menyusun Laporan Keuangan konsolidasian. B. Komponen Laporan Keuangan Laporan Keuangan Satker PNBP Migas meliputi: 1. Neraca Laporan keuangan yang menggambarkan posisi keuangan Satker PNBP Migas mengenai aset, kewajiban, dan ekuitas dana pada tanggal tertentu, seperti pada akhir tahun per tanggal 31 Desember atau akhir periode interim (semesteran) per tanggal 30 Juni. 2. Laporan Realisasi Anggaran Laporan Realisasi Anggaran suatu entitas pelaporan menyajikan informasi mengenai realisasi pendapatan-Laporan Realisasi Anggaran, belanja, transfer, surplus/ defisit, dan pembiayaan, defisit, yang dibandingkan dengan anggarannya. Sebagai Entitas Akuntansi, Satker PNBP Migas hanya menyajikan www.jdih.kemenkeu.go.id -28 - Laporan Realisasi Anggaran yang berisi informasi mengenai capaian pendapatan berbasis kas yang dibandingkan dengan anggaran dalam APBN atau APBN-P. 3. Laporan Operasional Laporan Operasional menyajikan ikhtisar sumber daya ekonomi yang menambah ekuitas dan penggunaannya yang dikelola oleh entitas pelaporan untuk kegiatan penyelenggaraan pemerintahan dalam satu periode pelaporan terdiri dari pendapatan-Laporan Operasional, beban, dan pos-pos luar biasa. Sebagai Entitas Akuntansi, Satker PNBP Migas hanya menyajikan laporan operasional yang memuat informasi mengenai pendapatan dan beban berbasis akrual. Pendapatan diakui sepanJang telah diperoleh hak pemerintah sebagai penambah nilai kekayaan bersih tanpa memandang apakah telah terdapat aliran kas masuk ke Rekening KUN atau Kas Negara pada bank persepsi. Adapun beban diakui pada saat terjadi penurunan manfaat ekonomi atau potensi pendapatan yang berdampak pada penurunan ekuitas, baik berupa pengeluaran, konsumsi aset, maupun timbulnya kewajiban. Termasuk komponen yang disajikan di dalam Laporan Operasional adalah keuntungan atau kerugian atas selisih kurs yang belum terealisasi. 4. Laporan Perubahan Ekuitas Laporan Perubahan Ekuitas menyajikan informasi kenaikan atau penurunan ekuitas tahun pelaporan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. 5. Catatan atas Laporan Keuangan Catatan atas Laporan Keuangan meliputi penjelasan naratif atau rincian dari angka yang tertera dalam Neraca, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Operasional, dan Laporan Perubahan Ekuitas. Catatan atas Laporan Keuangan juga mencakup informasi tentang kebijakan akuntansi yang digunakan oleh entitas pelaporan dan informasi lain yang diharuskan dan dianjurkan untuk diungkapkan di dalam SAP serta ungkapan-ungkapan yang diperlukan untuk menghasilkan penyajian Laporan Keuangan secara wajar. www.jdih.kemenkeu.go.id -29 - C. Keterbatasan Laporan Keuangan Beberapa keterbatasan dalam Laporan Keuangan Satker PNBP Migas an tara lain: 1. Bersifat historis, yang menunjukkan bahwa pencatatan atas transaksi atau peristiwa yang telah lampau akan terus dibawa dalam Laporan Keuangan. Hal ini dapat berakibat pada pencatatan nilai aset nonmoneter bisa jadi berbeda dengan nilai kini dari aset tersebut karena adanya pengaruh inflasi. 2. Bersifat umum, baik dari sisi informasi maupun manfaat bagi pihak pengguna. Informasi khusus tidak dapat semata-mata diperoleh dari Laporan Keuangan. 3. Menggunakan beberapa pendekatan, pertimbangan, dan taksiran. 4. Hanya melaporkan yang bersifat material. 5. Bersifat konservatif antara lain pengakuan segera atas kewajiban, namun menunda pengakuan atas pendapatan atau aset apabila nilainya belum dapat diyakini kebenarannya. 6. Lebih menekankan substansi dan realitas ekonomi dibandingkan dengan bentuk hukumnya, antara lain ditunjukkan dengan penggunaan variasi metode pencadangan saldo pada Rekening Migas maupun pencadangan untuk penghitungan PNBP Migas. www.jdih.kemenkeu.go.id -30 - BAB III PETUNJUK TEKNIS AKUNTANSI PIUTANG A. Piutang Jangka Pendek 1. Definisi Piutang adalah jumlah uang yang akan diterima oleh Pemerintah dan/ atau hak Pemerintah yang dapat dinilai dengan uang sebagai akibat perJanJ1an, kewenangan Pemerintah berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan akibat lainnya yang sah, yang diharapkan diterima Pemerintah dalam waktu 12 (dua belas) bulan sejak tanggal pelaporan. 2. Jenis Piutang a. Piutang Bukan Pajak Piutang Bukan Pajak dari kegiatan usaha hulu Migas yang dibukukan oleh Satker PNBP Migas adalah piutang yang belum dilunasi pada akhir periode pelaporan yang berasal dari: 1) Piutang Penjualan Minyak dan Gas Bumi Bagian Negara 2) Piutang Overlifting Kontraktor 3) Piutang Pendapatan Minyak Mentah DMO 4) Piutang Transfer Material 5) Piutang Bonus Produksi 6) Piutang Denda 7) Piutang Kelebihan Pembayaran DMO fee b. Bagian Lancar Piutang Jangka Panjang Bagian dari piutang jangka panjang yang akan jatuh tempo dalam 12 (dua belas) bulan sejak tanggal pelaporan antara lain berasal dari piutang bukan pajak dari kegiatan usaha hulu Migas yang disetujui oleh Menteri Keuangan untuk dicicil/ diangsur pembayarannya setiap tahun. 3. Pengakuan Piutangjangka pendek diakui pada saat timbulnya hak tagih pemerintah dari kegiatan usaha hulu Migas yang ditandai dengan terbitnya laporan ikhtisar pengiriman Migas bagian negara atau surat tagihan kepada wajib bayar, yaitu Kontraktor dan/ atau penjual Migas bagian Negara yang telah disampaikan dan telah diteliti oleh Satker PNBP Migas. www.jdih.kemenkeu.go.id -31 - Pengakuan piutang dilakukan bersamaan dengan pengakuan pendapatan-Laporan Operasional. Hak tagih pemerintah yang diakui sebagai piutang dari kegiatan usaha hulu Migas berasal dari hak tagih yang timbul selama periode Januari s.d. Desember tahun berjalan. Apabila transaksi pada periode tahun berjalan tagihannya diterima pada awal tahun periode berikutnya dan proses audit atas Laporan Keuangan belum diselesaikan oleh auditor eksternal pemerintah, piutang tersebut tetap diakui pada periode tahun berjalan. Tagihan piutang overlifting juga diakui di tahun berjalan. Dalam hal proses pembahasan antara Instansi Pelaksana dan Kontraktor mengenai laporan perhitungan hak dan kewajiban antara Pemerintah dan Kontraktor belum dapat diselesaikan seluruhnya, Instansi Pelaksana akan menerbitkan surat penyampaian estimasi tagihan overlifting Kontraktor kepada Satker PNBP Migas, sebagai dasar pengakuan piutang. Surat estimasi tagihan overlifting tersebut, diterbitkan sekurang- kurangnya dua kali yaitu untuk keperluan penyusunan Laporan Keuangan unaudited maupun Laporan Keuangan audited. Apabila terdapat perbedaan antara nilai estimasi tagihan piutang overlifting untuk Laporan Keuangan audited dengan nilai tagihan aktualnya, akan dilakukan penyesuaian saldo piutang dan ekui tas. 4. Pengukuran a. Piutang Bukan Pajak dicatat sebesar nilai nominal yang ditetapkan dalam laporan ikhtisar pengiriman Migas bagian negara atau surat tagihan. Apabila laporan ikhtisar pengiriman Migas atau tagihan dalam bentuk valuta asing, untuk tagihan tahun berjalan akan ditranslasikan dengan menggunakan kurs tengah Bank Indonesia pada tanggal transaksi (tanggal bill of lading atau tanggal invoice), sedangkan untuk tagihan yang berasal dari transaksi tahun- tahun sebelumnya akan ditranslasikan dengan menggunakan kurs tengah Bank Indonesia pada tanggal pelaporan periode akhir tahun sebelumnya. Nilai piutang tersebut akan disesuaikan sesaat sebelum pengakuan penyelesaian piutang dengan menggunakan kurs transaksi pada tanggal penyelesaian piutang. Nilai penyesuaian kurs tersebut akan diakui sebagai keuntungan atau kerugian www.jdih.kemenkeu.go.id -32 - selisih kurs yang belum terealisasi. Disamping itu, apabila masih terdapat saldo piutang yang masih outstanding pada tanggal pelaporan, saldo piutang tersebut dicatat dengan menggunakan ekuivalen Rupiah berdasarkan kurs tengah BI pada tanggal pelaporan. Selisih antara nilai piutang yang diakui pada saat transaksi dan nilai piutang pada tanggal pelaporan, diakui sebagai keuntungan atau kerugian selisih kurs yang belum terealisasi. b. Bagian Lancar Piutang Jangka Panjang dicatat sebesar jumlah piutang jangka panjang yang akan jatuh tempo dalam waktu 12 (dua belas) bulan sejak tanggal pelaporan. Apabila jumlah piutang jangka panjang yang akan jatuh tempo dalam waktu 12 (dua belas) bulan tersebut dalam bentuk valuta asmg, akan ditranslasikan dengan menggunakan kurs tengah Bank Indonesia pada tanggal pelaporan. Penyisihan Piutang Tidak Tertagih Dalam rangka menjaga nilai piutang agar nilainya sama dengan nilai bersih yang dapat direalisasikan (net realizable value), Satker PNBP Migas perlu melakukan penyisihan sebagian atau seluruh piutang yang diperkirakan tidak dapat ditagih. Nilai penyisihan piutang tidak tertagih dihitung dengan menyusun kualifikasi piutang berdasarkan: a. kondisi Piutang pada tanggal Laporan Keuangan; atau b. umur Piutang pada tanggal Laporan Keuangan. Adapun penilaian kualitas piutang tersebut di atas dilakukan dengan mempertimbangkan sekurang-kurangnya: a. jatuh tempo Piutang; dan b. upaya penagihan. Sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai penentuan kualitas piutang yang dikelola oleh Bendahara Umum Negara, kualifikasi piutang pada Satker PNBP Migas adalah sebagai berikut: a. kualitas lancar apabila piutang belum jatuh tempo; b. kualitas kurang lancar apabila piutang tidak dilunasi pada saat jatuh tempo sampai dengan 1 (satu) tahun sejak jatuh tempo; www.jdih.kemenkeu.go.id -33 - c. kualitas diragukan apabila piutang tidak dilunasi lebih dari 1 (satu) tahun sampai dengan 3 (tiga) tahun sejak jatuh tempo; dan d. kualitas macet apabila piutang tidak dilunasi lebih dari 3 (tiga) tahun sejak jatuh tempo. Penyisihan piutang untuk masing-masing kualifikasi piutang di atas adalah: a. Piutang dengan kualitas lancar penyisihannya ditetapkan paling sedikit sebesar 5%o (lima permil). b. Piutang dengan kualitas kurang lancar penyisihannya ditetapkan sebesar 10% (sepuluh persen) dari nilai piutangnya. c. Piutang dengan kualitas diragukan penyisihannya ditetapkan sebesar 50% (lima puluh persen) dari nilai piutangnya. d. Piutang dengan kualitas macet penyisihannya ditetapkan sebesar 100% (seratus persen) dari nilai piutangnya. 5. Penyajian dan Pengungkapan Piutang PNBP Migas Uangka pendek) disajikan pada pos aset lancar di neraca sebagai bagian dari Piutang Bukan Pajak, sementara piutang PNBP Migas yang merupakan bagian lancar dari piutang jangka panjang, dikelompokkan ke dalam Bagian Lancar Piutang Jangka Panjang dengan sistematika sebagai berikut: Satker PNBP Migas Neraca Per 31 Desember 20.XX Aset Tahun 20X2 Aset Lancar Piutang Bukan Pajak XXX Dikurangi: Penyisihan XXX Piutang Tak Tertagih Bagian Lancar Piutang XXX J angka Panjang Dikurangi: Penyisihan XXX Piutang Tak Tertagih Kewajiban XXX Ekuitas XXX Tahun 20Xl XXX XXX XXX XXX XXX XXX www.jdih.kemenkeu.go.id -34 - Apabila terdapat perbedaan nilai tukar antara tanggal pelaporan pada tahun berjalan dengan tanggal pelaporan pada tahun sebelumnya untuk jenis piutang yang sama, maka selisih nilai piutang akan dicatat sebagai keuntungan atau kerugian yang belum terealisasi atas selisih kurs. Keuntungan atau kerugian tersebut akan disajikan di dalam Laporan Operasional. Untuk pelaporan keuangan interim, terhadap pencatatan keuntungan atau kerugian yang belum terealisasi atas selisih kurs, pada awal periode pelaporan keuangan berikutnya dilakukan jurnal balik ( reversal entries). Di dalam Catatan atas Laporan Keuangan, piutang PNBP Migas jangka pendek dapat disajikan menurut klasifikasi, antara lain: a. Jenis transaksi (minyak dan gas bumi, overlifting, lain-lain). b. Nama wajib bayar (Pertamina dan Non Pertamina). Disamping itu, informasi lain yang perlu diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan: a. Penjelasan atas upaya penyelesaian piutang, apakah masih diupayakan penyelesaiannya di Instansi Pelaksana atau diserahkan urusannya kepada Panitia Urusan Piutang Negara (PUPN). b. Rincian jenis-jenis piutang menurut kualitas piutang. c. Perhitungan penyisihan piutang tidak tertagih. 6. Dokumen Sumber Pengakuan dan pengukuran piutang didasarkan pada dokumen sumber sebagai berikut: a. Laporan ikhtisar pengiriman Migas bagian negara yang terdiri dari laporan lifting minyak ekspor, laporan lifting minyak domestik, laporan lifting gas ekspor, laporan lifting gas domestik, dan laporan DMO; b. Surat tagihan overlifting Kontraktor; c. Surat tagihan Production, Compensation, and Development Bonus; d. Surat tagihan transfer aset; e. Surat tagihan kelebihan pembayaran DMO fee; f. Surat estimasi tagihan over/underlifting; dan g. Surat-surat yang menginformasikan adanya tagihan atas hak pemerintah dari kegiatan usaha hulu migas, www.jdih.kemenkeu.go.id -35 - yang disampaikan Instansi Pelaksana paling lambat akhir bulan periode berikutnya. Untuk keperluan klarifikasi atas dokumen sumber, Satker PNBP Migas dapat meminta dokumen tambahan berupa: a. Surat tagihan yang diterbitkan oleh Instansi Pelaksana; dan/atau b. Surat Penetapan PNBP Kurang Bayar berdasarkan atas hasil audit instansi yang berwenang. 7. Perlakuan Khusus a. Piutang yang masih belum disepakati antara Instansi Pelaksana dengan wajib bayar. Apabila terdapat tagihan piutang yang di kemudian hari tidak sepenuhnya dapat disetujui oleh wajib bayar, maka dasar pengakuan oleh Satker PNBP Migas adalah dokumen dan/ atau surat yang diterbitkan oleh Instansi Pelaksana yang menjelaskan adanya piutang yang masih belum disepakati. Ketidaksepakatan atas jumlah tagihan akan diungkapkan di dalam Catatan atas Laporan Keuangan. Selanjutnya, terhadap piutang yang outstanding dan/ atau macet, maka Satker PNBP Migas berkoordinasi dengan Instansi Pelaksana dan instansi lainnya, seperti instansi yang mengelola urusan piutang negara, akan mengupayakan langkah-langkah penyelesaian piutang demi mengamankan keuangan negara. b. Kualifikasi piutang untuk sebagian piutang yang akan di- offset dengan kewajiban Pemerintah. Apabila pada tanggal pelaporan terdapat piutang yang dapat di-offset dengan kewajiban Pemerintah, maka piutang tersebut akan diklasifikasikan sebagai piutang lancar, sepanjang pelaksanaan offset tersebut tidak lebih dari satu bulan setelah tanggal neraca. c. Perbedaan nilai tagihan antara surat tagihan dan laporan ikhtisar pengiriman Migas bagian negara. Apabila terdapat perbedaan angka antara nilai tagihan pemerintah dalam surat tagihan dan tagihan pemerintah dalam laporan ikhtisar pengiriman Migas bagian negara, nilai yang akan diakui sebagai piutang adalah nilai yang disajikan di dalam laporan. www.jdih.kemenkeu.go.id -36 - d. Pengakuan piutang minyak mentah DMO Piutang pendapatan minyak mentah DMO hanya dicatat pada saat pelaporan keuangan masih terdapat piutang pendapatan minyak mentah dalam rupiah atau piutang Nilai Lawan. Hal ini mengingat penjualan minyak mentah DMO tergabung dengan hasil penjualan minyak bagian negara, dimana pada proses awal pengakuan pendapatan dan piutang diakui terlebih dahulu sebagai pendapatan minyak bumi-laporan operasional dan piutangjangka pendek PNBP minyak bumi. Setelah diterimanya Laporan Pengiriman Minyak Mentah DMO dari instansi pelaksana baru dilakukan reklasifikasi akun untuk pengakuan pendapatan minyak mentah DMO -laporan operasional. Sementara itu, untuk pengakuan piutang tetap diakui terlebih dahulu sebagai piutang jangka pendek minyak bumi dan hanya direklasifikasi menjadi akun piutang Minyak Mentah DMO, apabila pada saat akhir periode pelaporan keuangan masih terdapat saldo piutang Nilai Lawan yang dihitung secara proporsional. Tidak diperhitungkannya saldo piutang minyak dalam valas untuk direklasifikasi menjadi saldo piutang minyak mentah DMO karena penyelesaian atas saldo piutang minyak mentah dalam valas nantinya akan digunakan sebagai penyelesaian kewajiban kontraktual migas Pemerintah di Rekening Minyak dan Gas Bumi. Selanjutnya, terhadap piutang pendapatan minyak mentah DMO tersebut juga akan dilakukan jurnal balik (reversal entries) untuk diakui menjadi piutangjangka pendek minyak bumi kembali pada awal periode pelaporan keuangan berikutnya. e. Pengakuan piutang denda gas Piutang denda gas hanya dicatat pada saat pelaporan keuangan melalui reklasifikasi akun, yaitu dari akun piutang jangka pendek gas. Selanjutnya piutang tersebut juga akan dilakukan jurnal balik untuk diakui menjadi piutang jangka pendek gas kembali pada awal periode pelaporan keuangan berikutnya. Hal ini mengingat tagihan maupun pembayaran atas transaksi denda gas, tergabung dengan pokok piutang www.jdih.kemenkeu.go.id -37 - gas. Untuk menghindari terjadinya pencatatan dua kali, terutama pada saat membukukan jurnal penyelesaian piutang, maka pencatatan pengakuan dan penyelesaian piutang tetap digabungkan dengan piutang jangka pendek gas. Transaksi denda gas hanya dicatat pada saat pengakuan pendapatan LO dan pengakuan saldo piutang pada saat pelaporan keuangan. f. Kurs atas transaksi lifting gas yang tanggal invoice-nya jatuh pada tahun berikutnya Pengukuran untuk transaksi lifting gas tahun berjalan dalam bentuk valuta asing, yang tanggal invoice-nya jatuh pada tahun berikutnya ditranslasikan dengan menggunakan kurs tengah Bank Indonesia pada tanggal pelaporan keuangan. g. Penggunaan kurs pada hari libur Untuk transaksi lifting minyak dan gas bumi dalam bentuk valuta asmg yang jatuh pada hari libur, pengukurannya ditranslasikan dengan menggunakan kurs tengah Bank Indonesia hari kerja sebelumnya. h. Metode pencatatan piutang yang berasal dari estimasi overlifting Kontraktor Pencatatan piutang yang berasal dari estimasi overlifting dilakukan secara netto. Pencatatan estimasi overlifting secara netto tersebut dilakukan apabila: 1) Pada satu Kontraktor terdapat nilai estimasi overlifting minyak lebih tinggi dibandingkan nilai estimasi underlifting gas; atau 2) Pada satu Kontraktor terdapat nilai estimasi overlifting gas lebih tinggi dibandingkan nilai estimasi underlifting minyak. Namun, pengakuan pendapatan dan beban atas estimasi over/underlifting tersebut di atas dilakukan secara bruto yaitu: 1) Nilai estimasi overlifting minyak dicatat sebagai pendapatan dan nilai estimasi underlifting gas dicatat se bagai be ban. www.jdih.kemenkeu.go.id -38 - 2) Nilai estimasi overlifting gas dicatat sebagai pendapatan dan nilai estimasi underlifting minyak dicatat sebagai beban. 1. Pencatatan atas transaksi penyelesaian overlifting Kontraktor melalui cargo settlement 1) Dalam hal Instansi Pelaksana melaporkan adanya transaksi overlifting Kontraktor yang akan diselesaikan melalui mekanisme cargo settlement, dilakukan jurnal pengakuan piutang dan koreksi ekuitas karena tagihan overlifting Kontraktor melalui cargo settlement merupakan transaksi yang berasal dari tahun-tahun sebelumnya. Selanjutnya Instansi Pelaksana akan melaporkan penyelesaian overlifting Kontraktor secara cargo settlement pada Laporan Pengiriman Gas Bumi atau surat yang menyampaikan informasi mengenai jumlah dan penyelesaian overlifting Gas Bumi secara cargo settlement, sebagai bahan bagi Satker PNBP Khusus BUN Pengelola PNBP Migas dalam melakukan monitoring setoran ke Rekening Minyak dan Gas Bumi atas penyelesaian gabungan antara invoice lifting gas periode tahun berjalan dengan overlifting gas melalui cargo settlement, sehingga setoran ke Rekening Migas tersebut dapat dibukukan sesuai dengan Jen1s peruntukannya. 2) Dalam hal Instansi Pelaksana baru melaporkan adanya transaksi penyelesaian overlifting Kontraktor melalui mekanisme cargo settlement pada Laporan Pengiriman Gas Bumi tan pa adanya pelaporan/ pemberitahuan sebelumnya, dilakukan jurnal penyesuaian atas pengakuan pendapatan, yaitu akun pendapatan gas bumi -LO ke akun koreksi lain-lain (penyesuaian nilai ekuitas) karena tagihan overlifting Kontraktor melalui cargo settlement merupakan transaksi yang berasal dari tahun-tahun sebelumnya. Tidak ada perigakuan piutang atas transaksi overlifting Kontraktor tersebut karena langsung diperhitungkan dengan piutang jangka pendek www.jdih.kemenkeu.go.id -39 - -gas bumi yang berasal dari lifting gas bumi tahun berjalan. B. Piutang Jangka Panjang 1. Definisi Piutang Jangka Panjang adalah piutang yang diharapkan/ dijadwalkan akan diterima dalam jangka waktu lebih dari 12 (dua belas) bulan setelah tanggal pelaporan. 2. Jenis Piutang Yang termasuk Piutang Jangka Panjang dari kegiatan usaha hulu Migas adalah piutang yang telah disepakati berdasarkan dokumen formal yang sah untuk diselesaikan secara bertahap dalam jangka waktu lebih dari 12 (dua belas) bulan. Piutang ini diklasifikasikan sebagai Piutang Jangka Panjang Lainnya. 3. Pengakuan Piutang Jangka Panjang diakui pada saat timbulnya hak tagih pemerintah dari kegiatan usaha hulu Migas yang ditandai dengan terbitnya surat penetapan atau persetujuan kepada wajib bayar oleh Menteri atau pejabat eselon I yang memperoleh pendelegasian kewenangan terkait pembayaran piutang pemerintah secara bertahap (cicilan/ angsuran) melebihi periode 12 (dua belas) bulan dari jadwal jatuh tempo yang ditetapkan. 4. Pengukuran Piutang Jangka Panjang dicatat sebesar nominal piutang yang jatuh temponya lebih dari 12 (dua belas) bulan. Apabila piutang dalam bentuk valuta asing, akan ditranslasikan dengan menggunakan kurs tengah Bank Indonesia pada tanggal pelaporan. 5. Penyajian dan Pengungkapan Piutang Jangka Panjang disajikan di dalam neraca setelah kelompok aktiva tetap. Penyajian Piutang Jangka Panjang dalam mata uang asing pada neraca menggunakan kurs tengah Bank Sentral pada tanggal pelaporan. Selisih penjabaran pos Piutang Jangka Panjang dalam mata uang asing antara tanggal transaksi dan tanggal pelaporan dicatat sebagai kenaikan atau penurunan ekuitas periode berjalan. Satker PNBP Migas Neraca Per 31 Desember 20XX www.jdih.kemenkeu.go.id -40 - Aset Tahun 20X2 Tahun 20Xl Aset lancar Piutang Aset Tetap Piutang Jangka Panjang XXX XXX Lainnya Dikurangi: Penyisihan Piutang Tidak Tertagih Kewajiban XXX XXX Ekuitas XXX XXX Apabila terdapat perbedaan nilai tukar antara tanggal pelaporan pada tahun berjalan dengan tanggal pelaporan pada tahun sebelumnya, maka selisih nilai piutang akan dicatat sebagai keuntungan atau kerugian yang belum terealisasi atas selisih kurs. Keuntungan atau kerugian tersebut akan disajikan di dalam Laporan Operasional. Untuk pelaporan keuangan interim, terhadap pencatatan keuntungan atau kerugian yang belum terealisasi atas selisih kurs, pada awal periode pelaporan keuangan berikutnya dilakukan jurnal balik (reversal entries). Dalam rangka menjaga nilai piutang agar nilainya sama dengan nilai bersih yang dapat direalisasikan (net realizable value), piutang jangka panJang JUga disajikan se bagaimana piutang jangka pendek yaitu dengan melakukan penyisihan piutang tidak tertagih. Adapun kualifikasi piutang dan penyisihannya sama dengan yang diterapkan untuk piutang jangka pendek. 6. Dokumen Sumber Dokumen sumber yang digunakan adalah surat penetapan jatuh tempo pembayaran piutang, kontrak, dan dokumen lainnya yang sah, yang menetapkan jadwal pembayaran piutang dalam jangka waktu lebih dari 12 (dua belas) bulan. 7. Perlakuan Khusus Terhadap Piutang Jangka Panjang yang penagihannya diserahkan kepada PUPN/DJKN oleh Satker PNBP Migas, pengakuan atas piutang terse but tetap melekat pada Satker PNBP Migas. www.jdih.kemenkeu.go.id -41 - BAB IV PETUNJUK TEKNIS AKUNTANSI KEWAJIBAN A. Definisi Kewajiban adalah utang yang timbul dari peristiwa masa lalu yang penyelesaiannya mengakibatkan aliran keluar sumber daya ekonomi pemerintah. Kewajiban Pemerintah dari kegiatan usaha hulu Migas pada prinsipnya merupakan kewajiban jangka pendek karena penyelesaiannya mengakibatkan aliran keluar sumber daya ekonomi pemerintah dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan. B. Jenis-jenis Kewajiban jangka pendek dari kegiatan usaha hulu Migas merupakan utang kepada pihak ketiga yaitu baik yang berasal dari badan usaha maupun instansi pemerintah lain. Utang kepada pihak ketiga meliputi kewajiban Pemerintah dari kegiatan usaha hulu Migas yang diamanatkan dalam Production Sharing Contract (PSC), maupun keten tuan peraturan perundang-undangan. 1. U tang kepada badan usaha Utang kepada badan usaha meliputi kewajiban yang akan dibayarkan kepada kontraktor maupun badan usaha nonkon traktor, meli pu ti: a. U tang Pihak Ketiga Migas-D MO Jee; b. Utang Pihak Ketiga Migas-Reimbursement PPN; c. Utang Pihak Ketiga Migas-Underlifting kontraktor; d. Utang Pihak Ketiga Migas-Fee kegiatan usaha hulu Migas; dan e. Utang Pihak Ketiga Migas-Kewajiban Lainnya. 2. Utang kepada instansi pemerintah Utang kepada instansi pemerintah meliputi kewajiban Satker PNBP Migas dari kegiatan usaha hulu Migas kepada instansi pemerintah yang lain, baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintahan Daerah, meliputi: a. Utang Pihak Ketiga Migas-PBB Migas; b. Utang Pihak Ketiga Migas-Pajak Penerangan Jalan; dan c. Utang Pihak Ketiga Migas-Pajak Air Permukaan dan Pajak Air Tanah. www.jdih.kemenkeu.go.id -42 - 3. Utang jangka pendek lainnya Utang jangka pendek lainnya berasal dari dana yang terdapat di Rekening Minyak dan Gas Bumi pada akhir periode pelaporan, berasal dari kesalahan penyetoran oleh pihak ketiga. Yang termasuk dalam utang jangka pendek lainnya antara lain dana yang berasal dari setoran PPh Migas yang belum dikembalikan kepada Kontraktor. 4. Pendapatan yang Ditangguhkan Pendapatan yang Ditangguhkan merupakan dana yang terdapat di Rekening Minyak dan Gas Bumi pada akhir periode pelaporan, berasal dari setoran penerimaan negara yang belum dapat diidentifikasi peruntukkannya, sehingga belum dapat dipindahbukukan. 5. Pendapatan Diterima di Muka Pendapatan Diterima di Muka antara lain dapat berupa kelebihan pembayaran PNBP oleh wajib bayar dan pembayaran ke Rekening Migas yang belum dapat diidentifikasi peruntukkannya tetapi sudah dipindahbukukan ke Rekening KUN dan diakui sebagai Pendapatan Laporan Realisasi Anggaran. Pendapatan Diterima di Muka akan diperhitungkan sebagai penyelesaian piutang pada periode berikutnya. C. Pengakuan Kewajiban jangka pendek dari kegiatan usaha hulu Migas diakui oleh Satker PNBP Migas berdasarkan hasil penelitian terhadap surat tagihan dengan kondisi sebagai berikut: 1. Data/ dokumen pendukung lengkap dan nilai tagihan yang diajukan dapat diukur dengan andal. Terhadap kondisi tersebut, maka tagihan dimaksud akan diakui sebagai utang dan tagihan dimaksud dapat diproses lebih lanjut pembayarannya. 2. Data/dokumen pendukung tidak lengkap, namun nilai tagihan dapat diukur dengan andal. Terhadap kondisi tersebut, maka nilai tagihan dimaksud akan diakui sebagai utang, namun tagihan dimaksud tidak dapat diproses lebih lanjut pembayarannya. Periodisasi tagihan yang diakui sebagai kewajiban adalah Januari s.d. Desember tahun berjalan. Pengakuan atas kewajiban jangka www.jdih.kemenkeu.go.id -43 - pendek dilakukan bersamaan dengan pengakuan beban kegiatan usaha hulu Migas, kecuali tagihan PBB Migas. Pengakuan utang PBB Migas akan berdampak pada koreksi pendapatan PNBP SDA Migas pada Laporan Operasional. Surat tagihan yang diterima pada awal tahun periode berikutnya sampai dengan proses penyusunan Laporan Keuangan audited diakui sebagai kewajiban tahun berjalan. Tagihan utang underlifting juga diakui di tahun berjalan. Dalam hal proses pembahasan antara Instansi Pelaksana dan Kontraktor mengenai laporan perhitungan hak dan kewajiban antara Pemerintah dan Kontraktor belum dapat diselesaikan seluruhnya, Instansi Pelaksana akan menerbitkan surat penyampaian estimasi tagihan underlifting Kontraktor kepada Satker PNBP Migas, sebagai dasar pengakuan kewajiban. Surat estimasi tagihan underlifting tersebut, diterbitkan sekurang-kurangnya dua kali yaitu untuk keperluan penyusunan Laporan Keuangan unaudited maupun Laporan Keuangan audited. Apabila terdapat perbedaan antara nilai estimasi tagihan kewajiban underlifting untuk Laporan Keuangan audited dengan nilai tagihan aktualnya, akan dilakukan penyesuaian saldo utang dan penyesuaian pada Laporan Operasional atau Laporan Perubahan Ekuitas. D. Pengukuran Kewajiban jangka pendek dari kegiatan usaha hulu Migas dicatat sebesar nilai nominal yang tercantum dalam surat tagihan, dengan ketentuan sebagai berikut: 1. Utang kepada badan usaha dicatat sebesar nilai tagihan yang tercantum dalam surat tagihan Instansi Pelaksana kepada Satker PNBP Migas dan telah diteliti oleh Pejabat pada Satker PNBP Migas. 2. Utang kepada instansi pemerintah dicatat sebesar nilai tagihan instansi pemerintah yang diterima oleh Satker PNBP Migas dan telah diteliti oleh Pejabat pada Satker PNBP Migas. Apabila kewajiban tersebut dalam bentuk mata uang asing, maka harus dijabarkan dan dinyatakan dalam mata uang Rupiah, untuk kewajiban yang berasal dari transaksi tahun berjalan menggunakan kurs tengah Bank Indonesia pada tanggal transaksi, sedangkan untuk www.jdih.kemenkeu.go.id -44 - kewajiban yang berasal dari transaksi tahun-tahun sebelumnya menggunakan kurs tengah Bank Indonesia pada tanggal pelaporan periode akhir tahun sebelumnya. Khusus untuk kewajiban yang berasal dari tagihan DMO Fee yang berasal dari transaksi berjalan, nilai ekuivalen Rupiah dihitung dengan menggunakan kurs rata-rata tertimbang dari total transaksi pengiriman lifting minyak, dengan formula sebagaimana akan dijelaskan pada Bab VI, sedangkan untuk kewajiban yang berasal dari tagihan DMO Fee yang berasal dari transaksi tahun-tahun sebelumnya menggunakan kurs tengah Bank Indonesia pada tanggal pelaporan periode akhir tahun sebelumnya. Nilai kewajiban akan disesuaikan sesaat sebelum pengakuan penyelesaian kewajiban, dengan menggunakan Nilai kewajiban akan disesuaikan sesaat sebelum pengakuan penyelesaian kewajiban, dengan menggunakan kurs transaksi pada tanggal penyelesaian kewajiban (tanggal terjadinya arus kas keluar dari Rekening Minyak dan Gas Bumi). Nilai penyesuaian kurs tersebut akan diakui sebagai keuntungan atau kerugian selisih kurs yang belum terealisasi. Selanjutnya, apabila masih terdapat kewajiban yang masih outstanding pada tanggal pelaporan, nilai kewajiban tersebut akan disesuaikan dengan menggunakan kurs tengah Bank Indonesia pada tanggal pelaporan. Selisih nilai kewajiban antara yang dicatat pada tanggal transaksi dengan nilai kewajiban pada akhir periode pelaporan, diakui sebagai keuntungan atau kerugian selisih kurs yang belum terealisasi. E. Penyajian dan Pengungkapan Kewajiban jangka pendek disajikan dalam Neraca sebagai berikut: Aset Total Aset Kewajiban Satker PNBP Migas Neraca Per 31 Desember 20:XX Tahun 20X2 XXX Utang Pihak Ketiga Migas-DMO XXX Fee Kontraktor Tahun 20Xl XXX XXX www.jdih.kemenkeu.go.id -45 - Utang Pihak Ketiga Migas- XXX XXX Reimbursement PPN Utang Pihak Ketiga Migas- XXX XXX Underlifting Kontraktor Utang Pihak Ketiga Migas-Fee XXX XXX Kegiatan Usaha Hulu Migas Utang Pihak Ketiga Migas-Pajak XXX XXX Penerangan J alan Non PLN U tang Pihak Ketiga Migas-Pajak XXX XXX air Permukaan dan Air Bawah Tanah Utang Jangka Pendek Lainnya XXX XXX Pendapatan Yang Ditangguhkan XXX XXX Ekuitas XXX XXX Apabila terdapat perbedaan nilai tukar antara tanggal pelaporan pada tahun berjalan dengan tanggal pelaporan tahun sebelumnya, maka selisih nilai kewajiban akan dicatat sebagai keuntungan atau kerugian yang belum terealisasi atas selisih kurs. Keuntungan atau kerugian tersebut akan disajikan di dalam Laporan Operasional. Untuk pelaporan keuangan interim, terhadap pencatatan keuntungan atau kerugian yang belum terealisasi atas selisih kurs, pada awal periode pelaporan keuangan berikutnya dilakukan jurnal balik ( reversal entries). Di dalam Catatan atas Laporan Keuangan, kewajiban jangka pendek dari kegiatan usaha hulu Migas disajikan menurut jenis kewajiban dan nama-nama instansi penagih berikut status kewajiban. F. Dokumen Sumber yang Digunakan Dokumen sumber yang digunakan untuk mengakui dan mengukur nilai kewajiban jangka pendek dari kegiatan usaha hulu Migas adalah: 1. Surat Instansi Pelaksana kepada Satker PNBP Migas yang menyampaikan tagihan Kontraktor Migas yang telah diverifikasi oleh Instansi Pelaksana. 2. Surat tagihan instansi pemerintah kepada Satker PNBP Migas. 3. Berita Acara Verifikasi tagihan kewajiban Pemerintah dari kegiatan usaha hulu Migas. www.jdih.kemenkeu.go.id -46 - 4. Berita Acara Rekonsiliasi antara DJA dengan penyampai tagihan atas Utang-Piutang dengan pihak ketiga. G. Perlakuan Khusus Beberapa perlakuan khusus terkait transaksi kewajiban pada Satker PNBP Migas adalah: 1. Apabila terdapat perbedaan perhitungan nilai kewajiban jangka pendek antara nilai tagihan yang disampaikan oleh pihak ketiga dengan nilai tagihan menurut hasil verifikasi atau penelitian oleh Satker PNBP Migas, maka nilai kewajiban jangka pendek yang akan diakui dan dibayarkan adalah nilai yang lebih rendah. 2. Apabila terdapat selisih yang disebabkan oleh perhitungan matematis a tau pembulatan, maka nilai kewajiban jangka pendek yang akan diakui dan dibayarkan adalah nilai yang lebih rendah. 3. Kewajiban jangka pendek dari kegiatan usaha hulu migas dicatat pada Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK) oleh Satker PNBP Migas berdasarkan penelitian terhadap surat tagihan dengan kondisi sebagai berikut: a. Data/ dokumen pendukung lengkap dengan nilai tagihan yang tidak dapat diukur dengan andal. Terhadap kondisi tersebut, maka nilai tagihan dimaksud tidak diakui sebagai utang namun tagihan dimaksud akan dijelaskan dalam CaLK. Tagihan dimaksud tidak dapat diproses lebih lanjut pembayarannya. b. Data/ dokumen pendukung tidak lengkap dan nilai tagihan tidak dapat diukur dengan andal. Terhadap kondisi tersebut, maka nilai tagihan dimaksud tidak diakui sebagai utang, namun tagihan dimaksud akan dijelaskan dalam CalK. Tagihan dimaksud tidak dapat diproses lebih lanjut pembayarannya. 4. Terhadap kewajiban Pemerintah yang belum dicadangkan dananya karena saldo dana pada Rekening Minyak dan Gas Bumi tidak mencukupi, kewajiban tersebut tetap diakui oleh Satker PNBP Migas. 5. Pada tanggal pelaporan, kewajiban yang diakui oleh Satker PNBP Migas juga meliputi tagihan yang telah diterima dan selesai diteliti oleh Satker PNBP Migas. www.jdih.kemenkeu.go.id -47 - 6. Apabila terjadi retur atas penyelesaian kewajiban pemerintah, nilai penyelesaian kewajiban yang diakui adalah atas transaksi penyelesaian yang pertama. Selanjutnya transaksi retur tersebut akan dibukukan di Buku Besar sebagai penerimaan dan pengeluaran retur oleh Kuasa BUN. 7. Metode pencatatan utang yang berasal dari estimasi underlifting Kontraktor Pencatatan Utang yang berasal dari estimasi underlifting dilakukan secara netto. Pencatatan estimasi underlifting secara netto tersebut dilakukan apabila: a. Pada satu Kontraktor terdapat nilai estimasi underlifting minyak lebih tinggi dibandingkan nilai estimasi overlifting gas; atau b. Pada satu Kontraktor terdapat nilai estimasi underlifting gas lebih tinggi dibandingkan nilai estimasi overlifting minyak. Namun, pengakuan pendapatan dan beban atas estimasi over/underlifting tersebut di atas dilakukan secara bruto yaitu: a. Nilai estimasi underlifting minyak dicatat sebagai be ban dan nilai estimasi overlifting gas dicatat sebagai pendapatan. b. Nilai estiinasi overlifting gas dicatat sebagai pendapatan dan nilai estimasi underlifting minyak dicatat sebagai beban. 8. Pencatatan atas transaksi penyelesaian underlifting Kontraktor melalui cargo settlement a. Dalam hal Instansi Pelaksana melaporkan adanya transaksi underlifting Kontraktor yang akan diselesaikan melalui mekanisme cargo settlement, dilakukan jurnal pengakuan utang underlifting Kontraktor dan koreksi ekuitas karena tagihan underlifting Kontraktor melalui cargo settlement merupakan transaksi yang berasal dari tahun-tahun sebelumnya. Selanjutnya Instansi Pelaksana akan melaporkan penyelesaian underlifting Kontraktor melalui cargo settlement pada Laporan Pengiriman Gas Bumi atau surat yang menyampaikan informasi mengenai jumlah dan penyelesaian underlifting Gas Bumi secara cargo settlement. Berdasarkan informasi tersebut, dilakukan jurnal atas penyelesaian utang underlifting Kontraktor yang www.jdih.kemenkeu.go.id -48 - diperhitungkan dengan pengakuan piutang jangka pendek - gas bumi yang berasal dari lifting gas bumi tahun berjalan. b. Dalam hal instansi Pelaksana baru melaporkan adanya transaksi penyelesaian underlifting Kontraktor melalui mekanisme cargo settlement pada Laporan Pengiriman Gas Bumi tan pa adanya pelaporan/ pemberitahuan sebelumnya, dilakukan jurnal penyesuaian atas pengakuan pendapatan, yaitu pendapatan atas gas bumi ke akun koreksi lain-lain (penyesuaian nilai ekuitas), karena tagihan underlifting Kontraktor melalui cargo settlement merupakan transaksi yang berasal dari tahun-tahun sebelumnya. Tidak ada pengakuan utang atas transaksi underlifting Kontraktor tersebut, karena langsung diperhitungkan dengan piutang jangka pendek-gas bumi yang berasal dari lifting gas bumi tahun berjalan. www.jdih.kemenkeu.go.id -49 - BABV PETUNJUK TEKNIS AKUNTANSI EKUITAS Ekuitas adalah kekayaan bersih pemerintah yang merupakan selisih antara aset dan kewajiban pemerintah. Saldo akhir ekuitas diperoleh dari perhitungan pada Laporan Perubahan Ekuitas. Ekuitas disajikan dalam Neraca, Laporan Perubahan Ekuitas, dan Catatan atas Laporan Keuangan. Berikut ilustrasi penyajian Ekuitas pada Neraca: Uraian Aset Lancar Aset Tetap Satker PNBP Migas Neraca Per 31 Desember 20XX Tahun 20X2 XXX XXX Investasi Jangka Panjang XXX Aset Lainnya XXX Kewajiban Ekuitas XXX Total Kewajiban dan Ekuitas XXX Tahun 20Xl XXX XXX XXX XXX XXX XXX www.jdih.kemenkeu.go.id -50 - BAB VI PETUNJUK TEKNIS AKUNTANSI PENDAPATAN Pendapatan PNBP Migas disajikan dalam dua laporan yaitu Laporan Operasional yang berbasis akrual dan Laporan Realisasi Anggaran yang berbasis kas. A. Pendapatan PNBP Migas-Laporan Operasional 1. Definisi Pendapatan PNBP Migas-Laporan Operasional adalah hak pemerintah yang berasal dari kegiatan usaha hulu Migas sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, yang diakui sebagai penambah ekuitas dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan dan tidak perlu dibayar kembali. 2. Jenis Jenis-jenis pendapatan PNBP Migas-Laporan Operasional dapat diklasifikasikan sebagai berikut: a. Bagian Negara Bagian Negara merupakan penenmaan Migas yang dihasilkan dari hasil penjualan Migas bagian negara dan tagihan overlifting Kontraktor yang masih bersifat bruto dan akan menjadi net PNBP Migas (yang dicatat sebagai pendapatan pada laporan realisasi anggaran) setelah memperhitungkan komponen pengurang penerimaan Migas. b. Penjualan Minyak Mentah DMO Penjualan Minyak Mentah DMO merupakan penerimaan dari hasil penjualan minyak mentah bagian kontraktor yang diserahkan kepada Pemerintah dalam rangka pemenuhan kewajiban suplai dalam negeri (Domestic Market Obligation/DMO) dan akan menjadi net PNBP atas Pendapatan Minyak Mentah DMO (yang dicatat sebagai pendapatan pada laporan realisasi anggaran) setelah memperhitungkan penyelesaian kewajiban pemerintah atas DMO Fee kepada Kontraktor. c. Bonus dan Transfer Aset Bonus merupakan penerimaan yang berasal dari bonus produksi, yaitu suatu kompensasi yang diberikan oleh www.jdih.kemenkeu.go.id -51 - Kontraktor Migas kepada negara karena telah mencapai suatu tingkat produksi Migas tertentu pada suatu waktu. Adapun transfer aset merupakan penerimaan yang berasal dari pengalihan aset maupun bahan-bahan material dalam rangka kegiatan hulu Migas antar Kontraktor Migas, dimana aset maupun bahan-bahan material tersebut telah dibebankan sebagai cost recovery yang telah dibayar oleh pemerintah. d. Lain-lain Penerimaan lain-lain juga meliputi penenmaan dari denda, bunga, maupun penalti dari kegiatan usaha hulu Migas. 3. Pengakuan PNBP Migas-Laporan Operasional diakui pada saat ditetapkannya hak negara dari kegiatan usaha hulu Migas oleh Instansi Pelaksana berupa penerbitan Laporan Ikhtisar Pengiriman Migas Bagian Negara atau surat tagihan maupun surat penetapan lainnya untuk periode Januari s.d. Desember tahun berjalan yang telah disampaikan kepada Satker PNBP Migas. Hasil penjualan minyak bumi yang dilaporkan dalam Laporan Ikhtisar Pengiriman Minyak Bumi oleh Instansi Pelaksana merupakan gabungan antara hasil penjualan minyak bagian negara dengan hasil penjualan minyak mentah DMO yang pendapatannya akan diakui terlebih dahulu sebagai PNBP- Minyak Bumi-Laporan Operasional. PNBP Minyak Bumi-Laporan Operasional akan dikoreksi menjadi PNBP DMO-Laporan Operasional setelah diterimanya Laporan Ikhtisar Minyak DMO dari Instansi Pelaksana. PNBP Migas-Laporan Operasional juga akan dikoreksi pada saat adanya pengakuan kewajiban jangka pendek yang berasal dari PBB Migas. Apabila terdapat transaksi pada periode tahun berjalan yang tagihannya diterima pada awal tahun periode berikutnya dan proses audit atas Laporan Keuangan belum diselesaikan oleh auditor eksternal pemerintah, pendapatan PNBP-Laporan Operasional tersebut tetap diakui pada periode tahun berjalan. Untuk itu, akan diadakan koreksi atas nilai pendapatan PNBP- www.jdih.kemenkeu.go.id -52 - Laporan Operasional pada saat penyusunan Laporan Keuangan audited. Tagihan piutang overlifting juga diakui sebagai pendapatan PNBP-Laporan Operasional di tahun berjalan. Dalam hal proses pembahasan antara Instansi Pelaksana dan Kontraktor mengenai laporan perhitungan hak dan kewajiban antara Pemerintah dan Kontraktor belum dapat diselesaikan seluruhnya, Instansi Pelaksana akan menerbitkan surat penyampaian estimasi tagihan overlifting Kontraktor kepada Satker PNBP Migas, sebagai dasar pengakuan pendapatan PNBP-Laporan Operasional. Surat estimasi tagihan overlifting tersebut, diterbitkan sekurang- kurangnya dua kali yaitu untuk keperluan penyusunan Laporan Keuangan unaudited maupun Laporan Keuangan audited. Apabila terdapat perbedaan antara nilai estimasi tagihan piutang overlifting untuk Laporan Keuangan audited dengan nilai tagihan aktualnya, akan dilakukan penyesuaian pada Laporan Perubahan Ekuitas. Penetapan hak negara yang berasal dari periode tahun-tahun sebelumnya diakui sebagai penambah ekuitas. Sebaliknya, koreksi atas hak negara yang berasal dari periode tahun-tahun sebelumnya diakui sebagai pengurang ekuitas. 4. Pengukuran a. Untuk pendapatan minyak bumi terdiri dari dua jenis transaksi, yaitu pendapatan minyak bumi dalam valas dan pendapatan minyak bumi dalam rupiah, dengan ketentuan sebagai berikut: 1) Pendapatan min yak bumi dalam valas yang merupakan hasil penjualan minyak bumi bagian negara yang ditagihkan dalam valas dan tagihan overlifting Kontraktor, nilainya diakui sebesar nilai ekuivalen Rupiah hasil penjabaran translasi mata uang asing yang tercantum dalam laporan pengiriman migas bagian negara atau surat tagihan oleh Instansi Pelaksana, dengan menggunakan nilai, tukar yang sama dengan pengakuan piutang; 2) Pendapatan minyak bumi dalam rupiah yang berasal dari tagihan atas peng1nman minyak ke Kilang J2 www.jdih.kemenkeu.go.id -53 Pertamina atau biasa disebut tagihan Nilai Lawan, nilai yang diakui adalah sebesar ekuivalen Rupiah tagihan Nilai Lawan yang dihitung berdasarkan nilai tagihan yang diterbitkan oleh Instansi Pelaksana kepada Pertamina; 3) Pendapatan minyak bumi dalam valas dan dalam rupiah pada poin (i) dan (ii) di atas, terdiri dari Pendapatan SDA Minyak Bumi dan Pendapatan Minyak Mentah DMO yang masih bersifat bruto (gross). 4) Pendapatan Minyak Mentah DMO dihitung berdasarkan laporan transaksi pengiriman minyak mentah DMO (gross) yang disampaikan oleh Instansi Pelaksana kepada Satker PNBP Migas (dalam USD). Nilai ekuivalen Rupiah untuk transaksi tahun berjalan dihitung dengan menggunakan kurs rata-rata tertimbang dari total transaksi pengiriman lifting minyak, dengan formula sebagai berikut: Kurs rata- rata tertimbang Nilai total transaksi lifting minyak (ekuivalen Rupiah) Nilai total transaksi lifting minyak (USD) Yang dimaksud dengan total transaksi peng1nman lifting minyak adalah transaksi pengiriman lifting minyak bumi yang ditagihkan dalam rupiah + transaksi pengiriman lifting minyak bumi yang ditagihkan dalam valas. Untuk transaksi yang berasal dari tahun-tahun sebelumnya, nilai ekuivalen Rupiah dihitung menggunakan kurs tengah Bank Indonesia pada tanggal pelaporan periode akhir tahun sebelumnya. b. Untuk pendapatan gas bumi, pendapatan lainnya dari kegiatan usaha hulu Migas serta pendapatan denda, bunga, dan penal ti dari kegiatan usaha hulu Migas, nilai yang diakui adalah sebesar nilai ekuivalen Rupiah hasil penjabaran translasi mata uang asing yang tercantum dalam laporan pengiriman Migas bagian negara atau surat tagihan oleh www.jdih.kemenkeu.go.id -54 - Instansi Pelaksana, dengan menggunakan nilai tukar yang sama dengan pengakuan piutang. 5. Penyajian dan Pengungkapan Pendapatan PNBP Migas-Laporan Operasional disajikan menurut klasifikasi kelompok PNBP, yaitu dalam kelompok Pendapatan Sumber Daya Alam dan PNBP Lainnya sebagai berikut: a. Pendapatan Sumber Daya Alam, terdiri atas: 1) Pendapatan Minyak Bumi; dan 2) Pendapatan Gas Bumi. b. PNBP lainnya, terdiri atas: 1) Pendapatan Minyak Mentah DMO; 2) Pendapatan Lainnya Kegiatan Usaha Hulu Migas; dan 3) Pendapatan Denda, Bunga, dan Penalti dari Kegiatan Usaha Hulu Migas. Rincian lebih lanjut mengenai Pendapatan PNBP Migas- Laporan Operasional tersebut disajikan di dalam Catatan atas Laporan Keuangan, antara lain meliputi informasi mengenai wajib bayar yang memberikan kontribusi PNBP Migas maupun mekanisme penyetoran dan pembayaran yang dilakukan oleh wajib bayar. 6. Dokumen Sumber Dokumen sumber yang digunakan adalah: a. Laporan Pengiriman Migas Bagian Negara; b. Surat tagihan Instansi Pelaksana; c. Surat dari Instansi Pelaksana yang menginformasikan adanya hak pemerintah dari kegiatan usaha hulu migas; dan d. Berita Acara Rekonsiliasi Utang Piutang. B. Pendapatan PNBP Migas-La po ran Realisasi Anggaran 1. Definisi Pendapatan PNBP Migas-Laporan Realisasi Anggaran adalah hak pemerintah yang berasal dari kegiatan usaha hulu Migas sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang telah diterima di Rekening KUN atau Kas Negara pada bank persepsi yang menambah Saldo Anggaran Lebih (SAL) dan tidak perlu dibayar kembali. www.jdih.kemenkeu.go.id -55 - 2. Jenis Jenis-jenis pendapatan PNBP Migas-Laporan Realisasi Anggaran dapat diklasifikasikan sebagai berikut: a. Bagian Negara Bagian Negara merupakan penenmaan yang berasal dari hasil penjualan Migas bagian negara dan tagihan overlifting Kontraktor setelah dikurangi dengan kewajiban Pemerintah yang merupakan komponen pengurang penerimaan Migas. b. Penjualan Minyak Mentah DMO Penjualan Minyak Mentah DMO merupakan penerimaan dari hasil penjualan minyak mentah bagian kontraktor yang diserahkan kepada Pemerintah dalam rangka pemenuhan kewajiban suplai dalam negeri (DMO) setelah dikurangi kewajiban pemerintah atas DMO Fee kepada Kontraktor. c. Bonus dan Transfer Aset Bonus merupakan penerimaan yang berasal dari bonus produksi, yaitu suatu kompensasi yang diberikan oleh Kon traktor Migas kepada negara karena telah mencapai suatu tingkat produksi Migas tertentu pada suatu waktu. Adapun transfer aset merupakan penerimaan yang berasal dari pengalihan aset maupun bahan-bahan material dalam rangka kegiatan hulu Migas antar Kontraktor Migas, dimana aset maupun bahan-bahan material tersebut telah dibebankan sebagai cost recovery yang telah dibayar oleh pemerin tah. d. Lain -lain Penerimaan lain-lain meliputi penerimaan dari denda, bunga, maupun penalti dari kegiatan usaha hulu Migas. 3. Pengakuan Pendapatan PNBP Migas-Laporan Realisasi Anggaran dicatat atau diakui pada saat kas dari pendapatan tersebut diterima di Rekening KUN atau Kas Negara pada bank persepsi. 4. Pengukuran a. Pendapatan yang disetor langsung ke Kas Negara pada bank perseps1 www.jdih.kemenkeu.go.id -56 - Yang termasuk ke dalam kelompok m1 adalah pendapatan yang berasal dari hasil penjualan minyak bumi, ke kilang Pertamina dan PNBP Migas lainnya. Kedua jenis pendapatan tersebut diakui sebesar nilai nominal Rupiah atau ekuivalen Rupiah yang masuk ke Kas Negara pada bank persepsi dan memperoleh Nomor Transaksi Penerimaan Negara (NTPN). b. Pendapatan yang disetor melalui mekanisme pemindahbukuan dari Rekening Minyak dan Gas Bumi Yang termasuk kedalam kelompok m1 adalah pendapatan PNBP SDA Migas dan pendapatan denda, bunga, dan penalti dari kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi yang setorannya tergabung dengan pokok dan/ atau disetorkan ke Rekening Minyak dan Gas Bumi. Pengukuran atas pendapatan ini menggunakan formula sebagaimana tercantum dalam Angka Romawi II Modul Petunjuk Teknis Pemindahbukuan Dalam Rangka Proses Pengakuan Dan Pengukuran PNBP Migas dalam Peraturan Menteri ini. c. Pendapatan yang setorannya tergabung dengan pendapatan SDA minyak bumi, yaitu pendapatan minyak mentah DMO Proses pengakuan pendapatan minyak mentah DMO- Laporan Realisasi Anggaran dilakukan melalui permintaan reklasifikasi akun dari pendapatan SDA minyak bumi yang telah tercatat di rekening KUN. Nilai nominal yang diakui sebagai pendapatan minyak mentah DMO-laporan realisasi anggaran adalah sebesar proporsional pendapatan SDA minyak bumi yang telah diterima di rekening KUN. 5. Penyajian dan Pengungkapan Pendapatan PNBP Migas-Laporan Realisasi Anggaran disajikan menurut klasifikasi kelompok PNBP, yaitu dalam kelompok Pendapatan Sumber Daya Alam dan PNBP Lainnya sebagai berikut: a. Pendapatan Sumber Daya Alam, terdiri atas: 1) Pendapatan Minyak Bumi; dan 2) Pendapatan Gas Bumi. b. PNBP lainnya, terdiri atas: 1) Pendapatan Minyak Mentah DMO; www.jdih.kemenkeu.go.id -57 - 2) Pendapatan Lainnya Kegiatan Usaha Hulu Migas; dan 3) Pendapatan Denda, Bunga, dan Penalti dari Kegiatan Usaha Hulu Migas. Rincian lebih lanjut mengenai Pendapatan PNBP Migas- Laporan Realisasi Anggaran tersebut disajikan di dalam Catatan atas Laporan Keuangan, antara lain meliputi informasi mengenai wajib bayar yang memberikan kontribusi PNBP Migas maupun mekanisme penyetoran dan pembayaran yang dilakukan oleh wajib bayar. 6. Dokumen Sumber Dokumen sumber yang digunakan adalah: a. Surat Setoran Bukan Pajak; b. Bukti transfer ke Rekening KUN; c. Surat Permintaan Pemindahbukuan kepada Bank Indonesia yang diterbitkan oleh DJPB; dan d. Bukti Penerimaan Negara. 7. Perlakuan Khusus Apabila terdapat pemindahbukuan dana dari Rekening Migas ke Rekening KUN valas atau penyetoran pendapatan ke Rekening KUN Rupiah pada hari terakhir pada akhir tahun anggaran (31 Desember), pengakuan pendapatan Laporan Realisasi Anggaran mengikuti kebijakan langkah-langkah akhir tahun yang diterbitkan oleh Menteri Keuangan. www.jdih.kemenkeu.go.id -58 BAB VII PETUNJUK TEKNIS AKUNTANSI BEBAN A. Definisi Beban adalah penurunan manfaat ekonomi atau potensi jasa termasuk potensi pendapatan yang hilang, atau biaya yang timbul akibat transaksi tersebut dalam periode pelaporan yang berdampak pada penurunan ekuitas, baik berupa pengeluaran, konsumsi aset, timbulnya kewajiban, atau menurunnya potensi pendapatan. B. Jenis-jenis Beban di dalam pengelolaan PNBP Migas meliputi: 1. Be ban Pihak Ketiga Migas Beban ini berasal dari tagihan kewajiban Pemerintah dari kegiatan usaha hulu Migas, terdiri atas: a. Beban Pihak Ketiga Migas-DMO fee Kontraktor; b. Beban Pihak Ketiga Migas-reimbursement PPN; c. Beban Pihak Ketiga Migas-underlifting Kontraktor; d. Beban Pihak Ketiga Migas-fee kegiatan usaha hulu Migas; e. Beban Pihak Ketiga Migas-pajak penerangan jalan non PLN; dan f. Beban Pihak Ketiga Migas-pajak air permukaan dan air bawah tanah. 2. Beban murni akrual berupa beban penyisihan piutang tidak tertagih. C. Pengakuan Beban diakui pada saat timbulnya kewajiban, terjadinya konsumsi aset, terjadinya penurunan manfaat ekonomi atau potensi jasa yaitu: 1. Beban yang berasal dari Utang kepada badan usaha diakui pada saat surat tagihan dari Instansi Pelaksana telah diverifikasi Pejabat yang mempunyai kewenangan untuk melakukan pembebanan kepada negara pada Satker PNBP Migas. 2. Beban yang berasal dari Utang kepada instansi pemerintah diakui pada saat surat tagihan dari instansi pemerintah telah diverifikasi www.jdih.kemenkeu.go.id -59 - Pejabat yang mempunyai kewenangan untuk melakukan pembebanan kepada negara pada Satker PNBP Migas. Apabila terdapat transaksi pada periode tahun berjalan yang tagihannya diterima pada awal tahun periode berikutnya dan proses audit atas Laporan Keuangan belum diselesaikan oleh auditor eksternal pemerintah, beban pihak ketiga Migas tersebut tetap diakui pada periode tahun berjalan. Untuk itu, akan diadakan koreksi atas nilai beban pihak ketiga Migas pada saat penyusunan Laporan Keuangan audited. Tagihan underlifting juga diakui sebagai be ban di tahun berjalan. Dalam hal proses pembahasan antara Instansi Pelaksana dan Kontraktor mengenai laporan perhitungan hak dan kewajiban antara Pemerintah dan Kontraktor belum dapat diselesaikan seluruhnya, Instansi Pelaksana akan menerbitkan surat penyampaian estimasi tagihan underlifting Kontraktor kepada Satker PNBP Migas, sebagai dasar pengakuan beban. Surat estimasi tagihan underlifting tersebut, diterbitkan sekurang-kurangnya dua kali yaitu untuk keperluan penyusunan Laporan Keuangan unaudited maupun Laporan Keuangan audited. Apabila terdapat perbedaan antara nilai estimasi tagihan kewajiban underlifting untuk Laporan Keuangan audited dengan nilai tagihan aktualnya, akan dilakukan penyesuaian saldo be ban dan penyesuaian pada Laporan Operasional atau Laporan Perubahan Ekuitas. Penetapan kewajiban negara yang berasal dari periode tahun- tahun sebelumnya diakui sebagai pengurang ekuitas. Demikian halnya apabila terdapat koreksi atas kewajiban Negara yang berasal dari periode tahun-tahun sebelumnya, baik yang menyebabkan lebih saji maupun kurang saji kewajiban atau beban tahun sebelumnya, diakui sebagai penambah atau pengurang ekuitas. D. Pengukuran Beban pihak ketiga Migas dicatat sebesar nilai nominal yang ditetapkan dalam surat tagihan atau dokumen penetapan lainnya. Dalam hal nilai tagihan berbentuk valas, beban pihak ketiga Migas disajikan sebesar ekuivalen Rupiah dengan menggunakan kurs yang sesuai dengan pengakuan kewajiban. Adapun beban akrual murni www.jdih.kemenkeu.go.id -60 - dicatat sebesar nilai estimasi piutang tidak tertagih sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. E. Penyajian dan Pengungkapan Beban disajikan dalam Laporan Operasional Satker PNBP Migas. Penjelasan mengenai rincian beban, analisis dan informasi lainnya diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan. Berikut ilustrasi penyajian beban dalam Laporan Operasional: Satker PNBP Migas Laporan Operasional Untuk Tahun Yang Berakhir sampai dengan 31 Desember 20XX Uraian Kegiatan Operasional Pendapatan Beban Beban Pihak Ketiga Migas-DMO Fee Be ban Pihak Ketiga Migas-Reimbursement PPN Be ban Pihak Ketiga Migas-Underlifting Kontraktor Beban Pihak Ketiga Migas-Fee Kegiatan Usaha Hulu Migas Beban Pihak Ketiga Migas-Pajak Penerangan J alan Non PLN Beban Pihak Ketiga Migas-Pajak Air Tanah Beban Penyisihan Piutang Tidak Tertagih Jumlah Beban Kegiatan Non Operasional Pos Luar Biasa Surplus/ Defisit-Laporan Operasional Jumlah www.jdih.kemenkeu.go.id -61 - BAB VIII PETUNJUK TEKNIS PENCATATAN AYAT JURNAL STANDAR Petunjuk teknis pencatatan ayat jurnal standar dimaksudkan untuk memberikan gambaran mengenai pencatatan transaksi yang dilakukan oleh Entitas Akuntansi dalam rangka pengakuan dan pengukuran unsur- unsur Laporan Keuangan. Pencatatan transaksi di dalam BAB ini meliputi pengakuan pendapatan dan piutang hingga penyelesaian kewajiban Pemerintah dari kegiatan usaha hulu Migas. Ilustrasi transaksi di bawah ini merupakan salah satu contoh pencatatan ayat jurnal oleh Satker PNBP Migas. Transaksi yang belum diakomodir di dalam petunjuk teknis ini selanjutnya dapat diatur lebih lanjut dengan Peraturan Direktur Jenderal Anggaran atau Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan. Sebagai ilustrasi, berikut ikhtisar transaksi PNBP Migas selama tahun 20Xl: 1. Nilai piutang berdasarkan dokumen penagihan atau pengiriman lifting Migas bagian negara yang diterima di tahun 20Xl (piutang Rupiah dan valas) sebesar ekuivalen Rp2.500.000. Dari nilai tersebut, sebesar Rp300.000 merupakan piutang yang berasal dari transaksi tahun sebelumnya. 2. Berdasarkan dokumen penagihan atau pengiriman lifting minyak DMO yang diterima di tahun 20Xl diketahui nilai minyak mentah DMO sebesar ekuivalen Rp200.000. Selain itu diketahui pula bahwa dalam laporan pengiriman lifting gas bumi tahun 20Xl terdapat piutang yang berasal dari tagihan denda keterlambatan sebesar ekuivalen Rpl5.000. 3. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat nilai tagihan atas piutang migas tahun berjalan yang lebih saji, sehingga perlu dikoreksi sebesar Rpl00.000. Selain itu, terdapat piutang migas tahun lalu yang telah dilaporkan sebesar Rpl40.000, namun nilai piutang tersebut seharusnya Rpl20.000. Ditemukan pula bahwa terdapat tagihan atas piutang migas yang berasal dari tahun sebelumnya sebesar Rp50.000 yang terlanjur dicatat sebagai pendapatan akrual tahun berjalan. 4. Terdapat penyelesaian piutang migas ke Kas Negara melalui bank persepsi sebesar Rpl.800.000 dan penyelesaian piutang valas melalui Rekening Migas atas minyak bumi sebesar ekuivalen Rpl00.000 dan untuk piutang gas bumi sebesar ekuivalen Rp300.000. Piutang valas www.jdih.kemenkeu.go.id -62 - minyak tersebut pada awalnya dicatat sebesar ekuivalen Rp90.000 dan piutang gas pada awalnya dicatat sebesar 320.000. 5. Terdapat piutang jangka panjang yang akan jatuh tempo pada tahun 20X2 sebesar RpS00.000 dan terdapat konversi piutangjangka pendek atas minyak valas menjadi piutang jangka panjang sebesar Rpl.000.000. Selain itu, diketahui bahwa berdasarkan hasil perhitungan saldo piutang per 31 Desember 20Xl masih terdapat saldo nilai piutang net DMO sebesar Rp250.000 dan saldo nilai piutang denda gas sebesar ekuivalen Rpl0.000. 6. Beban penyisihan piutang yang dialokasikan atas piutang jangka panjang adalah sebesar Rp300.000 dan piutangjangka pendek sebesar Rpl00.000. 7. Karena fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap USD, piutang valas tahun lalu yang masih outstanding, perlu disesuaikan dengan nilai tukar pada akhir tahun 20Xl, yaitu sebesar Rp200.000. 8. Tagihan kewajiban Pemerintah dari kegiatan usaha hulu Migas yang diterima selama tahun 20Xl berjumlah Rp955.000 terdiri dari PBB Migas Rp200.000, reimbursement PPN Rp250.000, DMO fee Rp255.000, fee kegiatan usaha hulu Migas Rp225.000, tagihan pajak air permukaan dan pajak air tanah RplS.000 dan tagihan pajak penerangan jalan Rpl0.000. Dari tagihan tersebut di atas, sebesar Rp60.000 berasal dari tagihan tahun sebelumnya, yaitu PBB Migas Rp30.000, reimbursement PPN Rp25.000, dan DMO fee RpS.000. 9. Berdasarkan hasil penelitian terdapat kesalahan pencatatan nilai tagihan atas kewajiban pemerintah tahun 20Xl sebagai berikut: (i) terdapat kekeliruan mencatat nilai kewajiban PBB migas sehingga harus dikoreksi sebesar Rpl0.000; (ii) terdapat pencatatan lebih saji atas PPN reimbursement Rpl2.000 dan pajak air tanah dan air permukaan Rp7.000; (ii) terdapat pencatatan kurang saji atas DMO Fee Rpl 1.000, Fee kegiatan usaha hulu migas Rp70.000, dan pajak penerangan jalan Rp2.000. Selanjutnya, diketahui pula terdapat pencatatan nilai utang tahun sebelumnya atas DMO Fee yang lebih saji sebesar Rpl0.000 dan atas fee penjualan yang kurang saji sebesar Rp20.000 (koreksi beban tahun sebelumnya). Selain itu, terdapat tagihan yang berasal dari tahun-tahun sebelumnya, namun keliru dicatat sebagai beban atau pengurang pendapatan PNBP-Laporan Operasional, yaitu: PBB Migas sebesar RpS0.000, reimbursement PPN www.jdih.kemenkeu.go.id -63 - Rp20.000, DMO fee Rp15.000, fee kegiatan usaha hulu Migas Rp120.000, tagihan pajak air permukaan dan pajak air tanah Rp5.000 dan tagihan pajak peneranganjalan Rpl.000. 10. Kewajiban Pemerintah dari kegiatan usaha hulu Migas yang telah diselesaikan melalui Rekening Migas adalah sebesar RpS00.000, terdiri dari PBB Migas Rp150.000, reimbursement PPN Rp160.000, DMO fee Rp280.000, fee kegiatan usaha hulu Migas Rp200.000, pajak air permukaan dan pajak air tanah RpS.000 dan pajak penerangan jalan Rp2.000. Nilai ekuivalen rupiah pada saat pengakuan untuk DMO fee Rp270.000 dan fee kegiatan usaha hulu migas Rp205.000. Selain itu, terdapat penyelesaian kewajiban Pemerintah yang dilakukan melalui mekanisme reklasifikasi akun Pendapatan PNBP Migas-Laporan Realisasi Anggaran di Rekening KUN, yaitu atas penyelesaian PBB Migas tahun 20Xl sebesar Rp300.000. 11. Karena fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap USD, utang valas tahun lalu yang masih outstanding, perlu disesuaikan dengan nilai tukar pada akhir tahun 20Xl, yaitu sebesar Rp50.000. 12. Pemindahbukuan PNBP SDA Migas sebesar Rpl.450.000. 13. Hasil perhitungan pendapatan net DMO selama tahun 20Xl adalah sebesar Rp400.000. Selain itu, untuk memperhitungkan alokasi pembebanan atas pembayaran kewajiban Pemerintah sektor m1gas, juga telah dilakukan perhitungan kembali alokasi PNBP Migas, sehingga perlu dilakukan reklasifikasi akun pendapatan LRA dari PNBP SDA Minyak Bumi ke PNBP SDA Gas Bumi sebesar Rp500.000. Pada tahun 20Xl juga terjadi kekeliruan identifikasi penerimaan denda gas di Rekening Minyak dan Gas Bumi yang terlanjur diproses pemindahbukuannya sebagai Pendapatan LRA Gas sebesar Rpl5.000. 14. Pada akhir tahun 20Xl, terdapat saldo pada Rekening Minyak dan Gas Bumi per 31 Desember 20Xl sebesar Rp500.000, yang terdiri dari penerimaan Migas yang belum dapat diidentifikasi peruntukkannya sebesar Rp350.000, PPh Migas yang salah setor sebesar Rpl00.000, dan dana retur atas penyelesaian kewajiban DMO Fee sebesar Rp50.000. 15. Diketahui per 31 Desember 20Xl, terdapat penenmaan m1gas di Rekening Migas yang belum dapat diidentifikasi peruntukkannya, tetapi telah terhitung sebagai dana yang dipindahbukukan ke www.jdih.kemenkeu.go.id -64 - Rekening KUN dan diakui sebagai Pendapatan Migas-Laporan Realisasi Anggaran sebesar Rp30.000. 16. Terdapat transaksi over/underlifting Kontraktor selama tahun 20Xl sebagai berikut: a. Diterima tagihan over dan underlifting Kontraktor tahun berjalan (tahun 20Xl), dengan rincian sebagai berikut: J enis Tagihan Minyak Gas Net Over/ (Under) Lifting Kontraktor Kontraktor A 70.000 (40.000) 30.000 Kontraktor B 30.000 15.000 45.000 Kontraktor C 45.000 (55.000) (10.000) Kontraktor D (20.000) (15.000) (35.000) b. Diterima tagihan final over/ (under)lifting Kontraktor tahun sebelumnya (tahun 20X0) dengan rincian sebagai berikut: Kontraktor Minyak Gas Net Over/ (Under) Lifting Kontraktor Kontraktor 1 60.000 (30.000) 30.000 Kontraktor 2 50.000 (40.000) 10.000 Kontraktor 3 (60.000) 40.000 (20.000) Kontraktor 4 (80.000) 45.000 (35.000) Kontraktor 5 (85.000) 70.000 (15.000) Kontraktor 6 (50.000) 60.000 10.000 atas tagihan final tersebut, pada laporan keuangan tahun lalu telah diestimasikan nilai tagihannya sebagai berikut: Kontraktor Minyak Gas Net Over/ (Under) Lifting Kontraktor Kontraktor 1 70.000 (50.000) 20.000 Kontraktor 2 80.000 (65.000) 15.000 Kontraktor 3 65.000 (40.000) 25.000 Kontraktor 4 (60.000) 40.000 (20.000) Kontraktor 5 (70.000) 50.000 (20.000) Kontraktor 6 (75.000) 55.000 (20.000) c. Diterima tagihan over/underlifting Kontraktor tahun sebelumnya (tahun 20X0) yang belum ditagihkan ataupun diestimasikan pada laporan keuangan tahun sebelumnya sebagai berikut: J enis Tagihan Minyak Gas Net Over/ (Under) Lifting Kontraktor Kontraktor X 90.000 (40.000) 50.000 Kontraktor Y (50.000) 15.000 (35.000) www.jdih.kemenkeu.go.id -65 - d. Pada awal Januari 20X2 sebelum dilakukannya penyusunan Laporan Keuangan unaudited, diterima surat dari Instansi Pelaksana yang menyampaikan estimasi tagihan over/underlifting Kontraktor tahun 20Xl dengan total summary tagihan sebagai berikut: J enis Tagihan Minyak Gas Net Over/ (Under) Lifting Kontraktor Overlifting 500.000 350.000 850.000 Kontraktor ( Underlifting) (300.000) (150.000) (450.000) Kontraktor Net Over/ (Under) 200.000 200.000 400.000 Lifting Kontraktor e. Selanjutnya pada bulan April 20X2 sebelum penyusunan Laporan Keuangan audited, diterima tagihan final atas over/underlifting Kontraktor tahun buku 20Xl untuk beberapa Kontraktor dengan rincian tagihan sebagai berikut: Kontral<tor Minyak Gas Net Over/ (Under) Lifting Kontraktor Kontraktor 7 60.000 (30.000) 30.000 Kontraktor 8 50.000 (40.000) 10.000 Kontraktor 9 (60.000) 40.000 (20.000) Kontraktor 10 (80.000) 45.000 (35.000) Kontraktor 11 (85.000) 70.000 (15.000) Kontral<tor 12 (50.000) 60.000 10.000 atas tagihan final tersebut, sebelumnya pada awal Januari 20X2 telah diestimasikan tagihannya sebagai berikut: Kontraktor Minyak Gas Net Over/ (Under) Lifting Kontraktor Kontraktor 7 70.000 (50.000) 20.000 Kontraktor 8 80.000 (65.000) 15.000 Kontraktor 9 65.000 (40.000) 25.000 Kontraktor 10 (60.000) 40.000 (20.000) Kontraktor 11 (70.000) 50.000 (20.000) Kontraktor 12 (75.000) 55.000 (20.000) 17. Selama Tahun 20Xl terdapat transaksi over/underlifting gas Kontraktor yang diselesaikan melalui mekanisme cargo settlement sebagai berikut: a. Dalam hal Instansi Pelaksana menginformasikan sebelumnya atas transaksi over/underlifting melalui cargo settlement. www.jdih.kemenkeu.go.id -66 - 1) Pada bulan Januari 20Xl diterima laporan dari Instansi Pelaksana adanya tagihan over dan underlifting gas Kontraktor tahun-tahun sebelumnya yang akan diselesaikan melalui mekanisme cargo settlement, dengan rincian sebagai berikut: J enis Tagihan Overlifting Underlifting Kontraktor Kontraktor Kontraktor A 80.000 - Kontraktor B - (25.000) Kontraktor C 55.000 - Kontraktor D - (35.000) Total 135.000 (60.000) 2) Pada bulan Mei 20Xl, diterima penyelesaian atas hasil penjualan gas bumi di Rekening Migas sebesar US$210,000. Selain itu, berdasarkan Laporan Pengiriman Gas Bumi bulan April 20Xl, dilaporkan bahwa terdapat penyelesaian overlifting Kontraktor A dan C masing-masing sebesar US$80.000 dan US$55.000 melalui cargo settlement yang diperhitungkan dengan lifting gas bagian negara bulan April 20Xl atas invoice BAE.43.04.005 senilai $75,000. 3) Pada Laporan Pengiriman Gas Bumi bulan Juni 20Xl dilaporkan adanya penyelesaian underlifting Kontraktor B dan D masing-masing sebesar US$25.000 dan US$35.000 melalui cargo settlement yang diperhitungkan dengan lifting gas bulan Juni 20Xl atas invoice BAE.46.06.008 senilai $190,000. Selain itu, pada bulan Juni juga diterima penyelesaian hasil penjualan LNG atas mv01ce BAE.46.06.008 di Rekening Migas senilai $130,000. b. Dalam hal Instansi Pelaksana tidak menginformasikan sebelumnya atas transaksi over/underlifting melalui cargo settlement 1) Pada Laporan Pengiriman Gas Bumi bulan Agustus 20Xl dilaporkan adanya lifting Gas Bumi bagian Pemerintah untuk invoice BAE.46.08.35 sebesar US$120.000. Atas nilai tersebut termasuk didalamnya penyelesaian overlifting Kontraktor E tahun sebelumnya melalui cargo settlement sebesar US$30.000. 2) Pada Laporan Pengiriman Gas Bumi bulan Agustus 20Xl dilaporkan adanya lifting gas bagian Pemerintah untuk www.jdih.kemenkeu.go.id -67 - mvo1ce BAE.45.08.005 sebesar US$100.000. Atas nilai tersebut telah memperhitungkan penyelesaian underlifting Kontraktor F tahun sebelumnya melalui cargo settlement sebesar US$60.000. Berdasarkan ilustrasi transaksi di atas, berikut ini ayatjurnal yang disusun oleh Satker PNBP Migas pada Buku Besar Akrual dan Buku Besar Kas. 1. Saat terbitnya tagihan atau penetapan piutang PNBP dan pengakuan pendapatan akrual a. Pencatatan pendapatan akrual tahun berjalan Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: Akun Uraian Akun Debit xxxxxx Piutang Jangka Pendek -Migas xxx 2.200.000 xxxxxx Pendapatan LO - Migas xxx b. Pencatatan pendapatan akrual tahun sebelumnya Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: Akun Uraian Akun Debit xxxxxx Piutang Jangka Pendek -Migas xxx 300.000 xxxxxx Koreksi Lain-lain Kredit 2.200.000 Kredit 300.000 Di Buku Besar Kas tidak dilakukan pencatatan ayat jurnal. 2. Reklasifikasi Pendapatan Akrual Minyak dan Gas Bumi a. Pencatatan reklasifikasi pengakuan pendapatan minyak bumi menjadi pendapatan minyak mentah DMO Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: Akun Uraian Akun Debit Kredit xxxxxx Pendapatan LO -Minyak Bumi 200.000 xxxxxx Pendapatan LO -Minyak DMO 200.000 Di Buku Besar Kas tidak dilakukan pencatatan ayat jurnal. b. Pencatatan reklasifikasi pengakuan pendapatan gas bumi menjadi pendapatan denda gas Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: Akun Uraian Akun Debit Kredit xxxxxx Pendapatan LO -Gas Bumi 15.000 Pendapatan LO -Denda, xxxxxx Bunga, dan Penalti Kegiatan 15.000 Usaha Hulu Migas Di Buku Besar Kas tidak dilakukan pencatatan ayat jurnal. www.jdih.kemenkeu.go.id -68 - 3. Pencatatan koreksi piutang dan pendapatan akrual a. Pencatatan koreksi piutang tahun berjalan yang lebih saji Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: Akun Uraian Akun Debit Kredit xxxxxx Pendapatan LO -Migas xxx 100.000 xxxxxx Piutang Jangka Pendek -Migas 100.000 XXX Di Buku Besar Kas tidak dilakukan pencatatan ayat jurnal. b. Pencatatan koreksi piutang tahun lalu yang lebih saji Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: Akun Uraian Alum Debit xxxxxx Koreksi Lain-lain 20.000 xxxxxx Piutang Jangka Pendek -Migas XXX Kredit 20.000 Di Buku Besar Kas tidak dilakukan pencatatan ayat jurnal. c. Pencatatan koreksi salah saji pendapatan akrual tahun lalu Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: Akun Uraian Akun Debit Kredit xxxxxx Pendapatan LO - Migas xxx 50.000 xxxxxx Koreksi Lain -lain 50.000 Di Buku Besar Kas tidak dilakukan pencatatan ayat jurnal. 4. Saat penyelesaian piutang oleh wajib bayar dan/ atau pengakuan pendapatan kas a. Penyelesaian piutang ke rekening Kas Negara melalui bank perseps1 Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: Akun Uraian Akun Debit Kredit xxxxxx Diterima dari Entitas Lain -Akrual 1.800.000 xxxxxx Piutang Jangka Pendek - Migas 1.800.000 XXX Di Buku Besar Kas akan dijurnal sebagai berikut: Akun Uraian Akun Debit Kredit xxxxxx Diterima dari Entitas Lain -Kas 1.800.000 xxxxxx Pendapatan LRA - Migas xxx 1.800.000 b. Penyesuaian nilai piutang valas sesaat sebelum pengakuan penyelesaian piutang 1) Penyesuaian yang menyebabkan menambah nilai piutang Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: www.jdih.kemenkeu.go.id -69 - Akun Uraian Akun Debit Kredit xxx:xxx Piutang Jangka Pendek -Migas 10.000 XXX Keuntungan belurn xxx:xxx 10.000 terealisasi atas selisih kurs Di Buku Besar Kas tidak dilakukan pencatatan ayat jurnal. 2) Penyesuaian yang menyebabkan mengurangi nilai piutang Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: Akun Uraian Akun Debit Kredit xxx:xxx Kerugian belurn terealisasi atas 20.000 selisih kurs Piutang Jangka Pendek - xxx:xxx 20.000 Migas xxx Di Buku Besar Kas tidak dilakukan pencatatan ayat jurnal. c. Pencatatan penyelesaian piutang melalui Rekening Minyak dan Gas Bumi Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: Akun Uraian Akun Debit Kredit xxx:xxx Diterirna dari Entitas Lain -Akrual 400.000 xxx:xxx Piutang Jangka Pendek -Migas 400.000 XXX Tidak ada ayatjurnal di Buku Besar Kas pada Satker PNBP Migas. Transaksi di Buku Besar akan dibukukan oleh Kuasa BUN. 5. Reklasifikasi Piutang a. Pencatatan piutang jangka panjang yang akan jatuh tempo pada tahun berjalan Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: Akun Uraian Akun Debit Kredit Bagian Lancar Piutang Jangka xxx:xxx 500.000 Panjang xxx:xxx Piutang Jangka Panjang 500.000 Di Buku Besar Kas tidak dilakukan pencatatan ayat jurnal. b. Pencatatan konversi piutang jangka pendek menjadi piutang jangka panjang Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: Akun Uraian Akun Debit Kredit xxx:xxx Piutang Jangka Panjang 1.000.000 xxx:xxx Piutang Jangka Pendek -Migas 1.000.000 XXX www.jdih.kemenkeu.go.id -70 - Di Buku Besar Kas tidak dilakukan pencatatan ayat jurnal. c. Pencatatan saldo piutang atas net DMO per 31 Desember 20xl Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: Akun UraianAkun Debit Kredit Piutang Jangka Pendek - Migas xxxxx:x 250.000 Lainnya -Net DMO xxxxx:x Piutang Jangka Pendek -Nilai 250.000 Lawan Di Buku Besar Kas tidak dilakukan pencatatan ayat jurnal. d. Pencatatan saldo piutang atas denda gas per 31 Desember 20xl Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: Akun Uraian Akun Debit Kredit Piutang Jangka Pendek - Migas xxxxx:x 10.000 Lainnya -Denda Gas Piutang Jangka Pendek - Gas xxxxx:x 10.000 XXX Di Buku Besar Kas tidak dilakukan pencatatan ayat jurnal. 6. Beban Penyisihan Piutang Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: Akun Uraian Akun Debit xxxxx:x Beban Penyisihan Piutang PNBP 400.000 Akumulasi Penyisihan Piutang xxxxx:x Tak Tertagih J angka Pendek Akumulasi Penyisihan Piutang xxxxx:x Tak Tertagih Jangka Panjang Di Buku Besar Kas tidak dilakukan pencatatan ayat jurnal. 7. Penyesuaian nilai piutang atas selisih kurs a. Apabila nilai piutang bertambah karena selisih kurs Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: Akun Uraian Akun Debit xxxxx:x Piutang Jangka Pendek -Migas xxx 200.000 xxxxx:x Keuntungan belum terealisasi atas selisih kurs Kredit 100.000 300.000 Kredit 200.000 Di Buku Besar Kas tidak dilakukan pencatatan ayat jurnal. b. Apabila nilai piutang berkurang karena selisih kurs Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: Akun Uraian Akun Debit Kerugian belum terealisasi atas xxxxx:x 200.000 selisih kurs Kredit www.jdih.kemenkeu.go.id -71 - 1=1 :tang Jangka Pendek -Migas I 200.000 Di Buku Besar Kas tidak dilakukan pencatatan ayat jurnal. 8. Saat terbitnya tagihan atau penetapan kewajiban Pemerintah sektor m1gas a. Tagihan PBB Migas tahun berjalan Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: Akun Uraian Akun Debit Kredit xxxxxx Pendapatan LO -Migas xxx 170.000 Utang Pihak Ketiga Migas - xxxxxx 170.000 PBB Migas (Kewajiban PBB Migas diakui sebagai koreksi pendapatan akrual) Di Buku Besar Kas tidak dilakukan pencatatan ayat jurnal. b. Tagihan selain PBB Migas tahun berjalan Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: Akun Uraian Akun Debit Kredit Beban Pihak Ketiga Migas - xxxxxx 225.000 Reimbursement PPN Utang Pihak Ketiga Migas - xxxxxx 225.000 Reimbursement PPN Akun Uraian Akun Debit Kredit Beban Pihak Ketiga Migas -DMO xxxxxx 250.000 Fee Kontraktor Utang Pihak Ketiga Migas - xxxxxx 250.000 DMO Fee Kontraktor Akun Uraian Akun Debit Kredit Beban Pihak Ketiga Migas - Fee xxxxxx 225.000 Kegiatan Usaha Hulu Migas Utang Pihak Ketiga Migas -Fee 225.000 xxxxxx Kegiatan Usaha Hulu Migas Akun Uraian Akun Debit Kredit xxxxxx Beban Pihak Ketiga Migas -Pajak 15.000 Air Tanah dan Pajak Air Permukaan Utang Pihak Ketiga Migas - xxxxxx Pajak Air Tanah dan Pajak Air 15.000 Permukaan Akun Uraian Akun Debit Kredit www.jdih.kemenkeu.go.id -72 - Beban Pihak Ketiga Migas -Pajak xxxxxx xxxxxx Penerangan J alan Utang Pihak Ketiga Migas - Pajak Penerangan Jalan 10.000 (Kewajiban selain PBB Migas diakui sebagai beban) 10.000 Di Buku Besar Kas tidak dilakukan pencatatan ayat jurnal. c. Tagihan PBB Migas tahun sebelumnya Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: Akun Uraian Akun Debit Kredit xxxxxx Koreksi Lain -lain 30.000 Utang Pihak Ketiga Migas - xxxxxx 30.000 PBB Migas (Kewajiban PBB Migas tahun sebelumnya diakui sebagai koreksi ekuitas) Di Buku Besar Kas tidak dilakukan pencatatan ayat jurnal. d. Tagihan selain PBB Migas tahun sebelumnya Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: Akun Uraian Akun Debit Kredit xxxxxx Koreksi Lain-lain 30.000 Utang Pihak Ketiga Migas - xxxxxx 25.000 Reimbursement PPN Utang Pihak Ketiga Migas - xxxxxx 5.000 DMO Fee Kontraktor (Kewajiban non PBB Migas tahun sebelumnya diakui sebagai koreksi ekuitas) Di Buku Besar Kas tidak dilakukan pencatatan ayat jurnal. 9. Pencatatan koreksi kewajiban Pemerintah dan/atau beban akrual a. Pencatatan koreksi kewajiban dan/ atau be ban akrual tahun berjalan Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: 1) Pencatatan koreksi kewajiban PBB Migas a) Apabila koreksi terjadi karena lebih saji Akun Uraian Akun Debit Kredit xxxxxx Utang Pihak Ketiga Migas - 10.000 PBB Migas xxxxxx Pendapatan LO -Migas 10.000 XXX b) Apabila koreksi terjadi karena kurang saji www.jdih.kemenkeu.go.id -73 - Akun UraianAkun Debit Kredit xxxxxx Pendapatan LO - Migas xxx 10.000 xxxxxx U tang Pihak Ketiga 10.000 Migas - PBB Migas 2) Pencatatan koreksi kewajiban selain PBB Migas a) Koreksi lebih saji kewajiban atau beban tahun berjalan 1. Koreksi Reimbursement PPN Akun Uraian Akun Debit Kredit xxxxxx U tang Pihak Ketiga Migas 12.000 -Reimbursement PPN Beban Pihak Ketiga xxxxxx Migas - 12.000 Reimbursement PPN 11. Koreksi Pajak Air Tanah dan Air Permukaan Akun Uraian Akun Debit Kredit U tang Pihak Ketiga Migas xxxxxx -Pajak Air Tanah dan 7.000 Permukaan Beban Pihak Ketiga xxxxxx Migas - Pajak Air 7.000 Tanah dan Permukaan b) Koreksi kurang saJ1 kewajiban atau beban tahun berjalan 1. Koreksi DMO Fee Akun Uraian Akun Debit Kredit xxxxxx Be ban Pihak Ketiga Migas 11.000 - DMO Fee Kontraktor Utang Pihak Ketiga xxxxxx Migas - DMO Fee 11.000 Kontraktor 11. Koreksi Fee Kegiatan Usaha Hulu Migas Akun Uraian Akun Debit Kredit Beban Pihak Ketiga Migas xxxxxx - Fee Kegiatan Usaha 70.000 Hulu Migas Utang Pihak Ketiga xxxxxx Migas -Fee Kegiatan 70.000 U saha H ulu Migas 111. Koreksi Pajak Penerangan Jalan Akun Uraian Akun Debit Kredit www.jdih.kemenkeu.go.id -74 - Beban Pihak Ketiga Migas XXXXXX 2.000 -Pajak Penerangan Jalan Utang Pihak Ketiga xxxxxx Migas Pajak 2.000 Penerangan Jalan Di Buku Besar Kas tidak dilakukan pencatatan ayat jurnal. b. Pencatatan koreksi kewajiban atau beban akrual tahun sebelumnya Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: 1) Koreksi lebih saji kewajiban atau beban tahun sebelumnya Akun UraianAkun Debit Kredit xxxxxx Utang Pihak Ketiga Migas - DMO 10.000 Fee Kontraktor xxxxxx Koreksi Lain-lain 10.000 2) Koreksi kurang saji kewajiban atau beban tahun sebelumnya Akun Uraian Akun Debit Kredit xxxxxx Koreksi Lain-lain 20.000 Utang Pihak Ketiga Migas - xxxxxx Fee Kegiatan Usaha Hulu 20.000 Migas Di Buku Besar Kas tidak dilakukan pencatatan ayat jurnal. c. Pencatatan koreksi kewajiban dan/ atau be ban akrual tahun sebelumnya yang terlanjur dicatat sebagai beban tahun berjalan Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: 1) Pencatatan koreksi kewajiban PBB Migas Akun Uraian Akun Debit Kredit xxxxxx Koreksi Lain-lain 50.000 xxxxxx Pendapatan LO - Migas xxx 50.000 2) Pencatatan koreksi selain PBB Migas Akun Uraian Akun Debit Kredit xxxxxx Koreksi Lain-lain 161.000 xxxxxx Be ban Pihak Ketiga Migas - 20.000 Reimbursement PPN xxxxxx Beban Pihak Ketiga Migas - 15.000 DMO Fee Kontraktor Be ban Pihak Ketiga Migas - xxxxxx Fee Kegiatan Usaha Hulu 120.000 Migas Be ban Pihak Ketiga Migas - xxxxxx Pajak Air Tanah dan 5.000 Permukaan www.jdih.kemenkeu.go.id xxxxxx -75 - Be ban Pihak Ketiga Migas - Pajak Penerangan Jalan 1.000 Di Buku Besar Kas tidak dilakukan pencatatan ayat jurnal. 10. Pada saat penyelesaian kewajiban Pemerintah dari kegiatan usaha hulu Migas a. Penyesuaian nilai utang valas sesaat sebelum pengakuan penyelesaian utang 1) Penyesuaian yang menyebabkan menambah nilai utang Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: Akun UraianAkun Debit Kredit xxxxxx Kerugian belum terealisasi atas 10.000 selisih kurs xxxxxx Utang Pihak Ketiga Migas - 10.000 DMO Fee Di Buku Besar Kas tidak dilakukan pencatatan ayat jurnal. 2) Penyesuaian yang menyebabkan mengurangi nilai utang Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: Akun UraianAkun Debit Kredit xxxxxx Utang Pihak Ketiga Migas -Fee 5.000 Kegiatan Usaha Hulu Migas Keuntungan belum xxxxxx 5.000 terealisasi atas selisih kurs Di Buku Besar Kas tidak dilakukan pencatatan ayat jurnal. b. Penyelesaian utang rupiah dan valas melalui Rekening Minyak dan Gas Bumi Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: Akun Uraian Akun Utang Pihak Ketiga Migas -PBB xxxxxx Migas U tang Pihak Ketiga Migas - xxxxxx Reimbursement PPN Utang Pihak Ketiga Migas -DMO Fee xxxxxx Kontraktor Utang Pihak Ketiga Migas -Fee xxxxxx Kegiatan Usaha Hulu Migas Utang Pihak Ketiga Migas -Pajak Air xxxxxx Tanah dan Permukaan Utang Pihak Ketiga Migas -Pajak xxxxxx xxxxxx Penerangan Jalan Ditagihkan ke (Akrual) Entitas Lain Debit 150.000 160.000 280.000 200.000 8.000 2.000 Kredit 800.000 www.jdih.kemenkeu.go.id -76 - Tidak ada ayatjurnal di Buku Besar Kas pada Satker PNBP Migas. Transaksi di Buku Besar akan dibukukan oleh Kuasa BUN. c. Penyelesaian utang rupiah melalui rekening Kas Negara yang dilakukan melalui reklasifikasi akun pendapatan PNBP -Laporan Realisasi Anggaran Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: Akun UraianAkun Debit Kredit Utang Pihak Ketiga Migas -PBB xxxxxx 300.000 Migas Ditagihkan ke Entitas Lain xxxxxx 300.000 (Akmal) Di Buku Besar Kas akan dijurnal sebagai berikut: Akun Uraian Akun Debit Kredit xxxxxx Pendapatan LRA - Migas xxx 300.000 Ditagihkan ke Entitas Lain xxxxxx 300.000 (Kas) 11. Penyesuaian nilai utang atas selisih kurs a. Apabila nilai utang berkurang karena selisih kurs Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: Akun Uraian Akun Debit Kredit xxxxxx U tang kepada Pihak Ketiga Migas - 50.000 xxxx Keuntungan belum terealisasi xxxxxx 50.000 atas selisih kurs Di Buku Besar Kas tidak dilakukan pencatatan ayat jurnal. b. Apabila nilai utang bertambah karena selisih kurs Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: Akun Uraian Akun Debit Kerugian belum terealisasi atas xxxxxx 50.000 selisih kurs Utang kepada Pihak Ketiga xxxxxx Migas -xxxx Kredit 50.000 Di Buku Besar Kas tidak dilakukan pencatatan ayat jurnal. 12. Pada saat pemindahbukuan PNBP Migas dari Rekening Minyak dan Gas Bumi ke Rekening KUN Tidak ada ayat jurnal di Buku Besar Akrual. Adapun transaksi di Buku Besar Kas adalah: www.jdih.kemenkeu.go.id -77 - Akun UraianAkun Debit Kredit xxxxxx Diterima Dari Entitas Lain -Kas 1.450.000 xxxxxx Pendapatan LRA -Migas xxx 1.450.000 13. Reklasifikasi Akun Pendapatan LRA a. Reklasifikasi akun pendapatan untuk pengakuan pendapatan LRA net DMO Tidak ada ayat jurnal di Buku Besar Akrual. Adapun transaksi di Buku Besar Kas adalah: Akun Uraian Akun Debit Kredit xxxxxx Pendapatan LRA -Minyak Bumi 400.000 xxxxxx Pendapatan LRA - Net DMO 400.000 b. Reklasifikasi akun pendapatan atas perhitungan kembali alokasi PNBP SDA Migas Tidak ada ayat jurnal di Buku Besar Akrual. Adapun transaksi di Buku Besar Kas adalah: Akun Uraian Akun Debit Kredit xxxxxx Pendapatan LRA -Minyak Bumi 500.000 xxxxxx Pendapatan LRA -Gas Bumi 500.000 c. Reklasifikasi akun pendapatan yang diakibatkan kesalahan identifikasi penerimaan di Rekening Migas Tidak ada ayat jurnal di Buku Besar Akrual. Ada pun transaksi di Buku Besar Kas adalah: Akun Uraian Akun Debit Kredit xxxxxx Pendapatan LRA -Gas Bumi 15.000 Pendapatan LRA - Denda, xxxxxx Bunga, dan Penalti Kegiatan 15.000 Usaha Hulu Migas 14. Jurnal atas saldo Rekening Migas pada periode pelaporan keuangan Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: Akun Uraian Akun Debit Kredit xxxxxx Diterima dari Entitas Lain -Akrual 450.000 xxxxxx Pendapatan Yang Ditangguhkan 350.000 xxxxxx Utang Jangka Pendek Lainnya 100.000 Di Buku Besar Kas tidak dilakukan pencatatan ayat jurnal. Pencatatan atas dana retur akan dibukukan oleh Kuasa BUN. 15. Pengakuan atas pendapatan Diterima di Muka Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: www.jdih.kemenkeu.go.id -78 - Akun Uraian Akun Debit Kredit xxxxxx Diterima dari Entitas Lain -Akrual 30.000 xxxxxx Pendapatan Diterima di Muka 30.000 Di Buku Besar Kas tidak dilakukan pencatatan ayat jurnal. 16. Jurnal Transaksi Over/Underlifting Kontraktor a. Jurnal atas transaksi over/underlifting Kontraktor tahun berjalan yang ditagihkan pada tahun yang bersangkutan 1) Jurnal tagihan overlifting Kontraktor A Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: Akun Uraian Akun Debit Kredit xxxxxx Piutang Jangka Pendek -Migas 30.000 ( Overlifting) Beban Pihak Ketiga Migas - xxxxxx 40.000 Underlifting Kontraktor Pendapatan LO - Minyak xxxxxx 70.000 Bumi Di Buku Besar Kas tidak dilakukan pencatatan ayat jurnal. 2) Jurnal tagihan overlifting Kontraktor B Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: Akun Uraian Akun Debit Kredit xxxxxx Piutang Jangka Pendek -Migas 45.000 ( Overlifting) Pendapatan LO - Minyak xxxxxx 30.000 Bumi xxxxxx Pendapatan LO -Gas Bumi 15.000 Di Buku Besar Kas tidak dilakukan pencatatan ayat jurnal. 3) Jurnal tagihan underlifting Kontraktor C Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: Akun Uraian Akun Debit Kredit Beban Pihak Ketiga Migas - xxxxxx 55.000 Underlifting Kontraktor Pendapatan LO - Minyak xxxxxx 45.000 Bumi xxxxxx U tang Pihak Ketiga Migas - 10.000 Underlifting Kontraktor Di Buku Besar Kas tidak dilakukan pencatatan ayat jurnal. 4) Jurnal tagihan underlifting Kontraktor D Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: www.jdih.kemenkeu.go.id -79 Akun UraianAkun Debit Kredit Beban Pihak Ketiga Migas - xxxxx:x 35.000 Underlifting Kontraktor xxxxx:x Utang Pihak Ketiga Migas - 35.000 Underlifting Kontraktor Di Buku Besar Kas tidak dilakukan pencatatan ayat jurnal. b. Jurnal atas transaksi tagihan final over/underlifting Kontraktor tahun sebelumnya yang telah diestimasi pada tahun sebelumnya 1) Jurnal tagihan final over/underlifting Kontraktor 1 Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: Akun Uraian Akun Debit Kredit xxxxx:x Piutang Jangka Pendek -Migas 10.000 ( Overlifting) xxxxx:x Koreksi Lain-lain 10.000 Di Buku Besar Kas tidak dilakukan pencatatan ayat jurnal. 2) Jurnal tagihan final over/underlifting Kontraktor 2 Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: Akun Uraian Akun Debit Kredit xxxxx:x Koreksi Lain-lain 5.000 Piutang Jangka Pendek - xxxxx:x 5.000 Migas ( Overlifting) Di Buku Besar Kas tidak dilakukan pencatatan ayat jurnal. 3) Jurnal tagihan final over/underlifting Kontraktor 3 Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: Akun Uraian Akun Debit Kredit xxxxx:x Koreksi Lain -lain 45.000 Piutang Jangka Pendek - xxxxx:x 25.000 Migas ( Overlifting) xxxxx:x Utang Pihak Ketiga Migas - 20.000 Underlifting Kontraktor Di Buku Besar Kas tidak dilakukan pencatatan ayat jurnal. 4) Jurnal tagihan final over/underlifting Kontra.ktor 4 Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: Akun Uraian Akun Debit Kredit xxxxx:x Koreksi Lain -lain 15.000 xxxxx:x Utang Pihak Ketiga Migas - 15.000 Underlifting Kontraktor Di Buku Besar Kas tidak dilakukan pencatatan ayat jurnal. www.jdih.kemenkeu.go.id -80 - 5) Jurnal tagihan final over/underlifting Kontraktor 5 Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: Akun Uraian Akun Debit Kredit Utang Pihak Ketiga Migas - xxxxxx 5.000 Underlifting Kontraktor xxxxxx Koreksi Lain-lain 5.000 Di Buku Besar Kas tidak dilakukan pencatatan ayat jurnal. 6) Jurnal tagihan final over/underlifting Kontraktor 6 Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: Akun Uraian Akun Debit Kredit Utang Pihak Ketiga Migas - xxxxxx 20.000 Underlifting Kontraktor xxxxxx Piutang Jangka Pendek -Migas 10.000 ( Overlifting) xxxxxx Koreksi Lain-lain 30.000 Di Buku Besar Kas tidak dilakukan pencatatan ayat jurnal. c. Jurnal atas transaksi over/underlifting Kontraktor tahun sebelumnya yang belum ditagihkan dan/ atau diestimasi pada tahun sebelumnya 1) Jurnal tagihan over/underlifting Kontraktor x atas transaksi tahun yang lalu Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: Akun Uraian Akun Debit Kredit xxxxxx Piutang Jangka Pendek -Migas 50.000 ( Overlifting) xxxxxx Koreksi Lain-lain 50.000 Di Buku Besar Kas tidak dilakukan pencatatan ayat jurnal. 2) Jurnal tagihan over/underlifting Kontraktor y atas transaksi tahun yang lalu Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: Akun Uraian Akun Debit Kredit xxxxxx Koreksi Lain-lain 35.000 xxxxxx Utang Pihak Ketiga Migas - 35.000 Underlifting Kontraktor Di Buku Besar Kas tidak dilakukan pencatatan ayat jurnal. d. Jurnal atas transaksi estimasi over/underlifting Kontraktor tahun berjalan Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: www.jdih.kemenkeu.go.id -81 - Akun Uraian Akun Debit Kredit Piutang Jangka Pendek - Migas xxxxxx 850.000 ( Overlifting) Beban Pihak Ketiga Migas - xxxxxx 450.000 Underlifting Kontraktor Utang Pihak Ketiga Migas - xxxxxx 450.000 Underlifting Kontraktor xxxxxx Pendapatan LO -Minyak Bumi 500.000 xxxxxx Pendapatan LO -Gas Bumi 350.000 Di Buku Besar Kas tidak dilakukan pencatatan ayat jurnal. e. Jurnal atas transaksi final over/underlifting Kontraktor tahun berjalan yang sebelumnya telah dicatat dengan nilai estimasi 1) Jurnal tagihan final over/underlifting Kontraktor 7 Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: Akun Uraian Akun Debit Kredit xxxxxx Pendapatan LO -Minyak Bumi 10.000 xxxxxx Piutang Jangka Pendek -Migas 10.000 ( Overlifting) xxxxxx Be ban Pihak Ketiga Migas - 20.000 Underlifting Kontraktor Di Buku Besar Kas tidak dilakukan pencatatan ayat jurnal. 2) Jurnal tagihan final over/underlifting Kontraktor 8 Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: Akun Uraian Akun Debit Kredit xxxxxx Pendapatan LO -Minyak Bumi 30.000 Piutang Jangka Pendek - xxxxxx 5.000 Migas ( Overlifting) xxxxxx Beban Pihak Ketiga Migas - 25.000 Underlifting Kontraktor Di Buku Besar Kas tidak dilakukan pencatatan ayat jurnal. 3) Jurnal tagihan final over/underlifting Kontraktor 9 Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: Akun Uraian Akun Debit Kredit xxxxxx Pendapatan LO -Minyak Bumi 65.000 Beban Pihak Ketiga Migas - xxxxxx 20.000 Underlifting Kontraktor Piutang Jangka Pendek - xxxxxx 25.000 Migas ( Overlifting) xxxxxx Pendapatan LO -Gas Bumi 40.000 xxxxxx U tang Pihak Ketiga Migas - 20.000 Underlifting Kontraktor www.jdih.kemenkeu.go.id -82 - Di Buku Besar Kas tidak dilakukan pencatatan ayat jurnal. 4) Jurnal tagihan final over/underlifting Kontraktor 10 Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: Akun Uraian Akun Debit Kredit Beban Pihak Ketiga Migas - xxxxxx 20.000 Underlifting Kontraktor xxxxxx Pendapatan LO -Gas Bumi 5.000 xxxxxx U tang Pihak Ketiga Migas - 15.000 Underlifting Kontraktor Di Buku Besar Kas tidak dilakukan pencatatan ayat jurnal. 5) Jurnal tagihan final over/underlifting Kontraktor 11 Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: Akun Uraian Akun Debit Kredit Beban Pihak Ketiga Migas - xxxxxx 15.000 Underlifting Kontraktor Utang Pihak Ketiga Migas - xxxxxx 5.000 Underlifting Kontraktor xxxxxx Pendapatan LO -Gas Bumi 20.000 Di Buku Besar Kas tidak dilakukan pencatatan ayat jurnal. 6) Jurnal tagihan final over/underlifting Kontraktor 12 Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: Akun Uraian Akun Debit Kredit Utang Pihak Ketiga Migas - xxxxxx 20.000 Underlifting Kontraktor xxxxxx Piutang Jangka Pendek -Migas 10.000 ( Overlifting) xxxxxx Be ban Pihak Ketiga Migas - 25.000 Underlifting Kontraktor xxxxxx Pendapatan LO -Gas Bumi 5.000 Di Buku Besar Kas tidak dilakukan pencatatan ayat jurnal. 17. Jurnal Transaksi Over/Underlifting Kontraktor Yang Diselesaikan Melalui Mekanisme Cargo Settlement a. Dalam hal Instansi Pelaksana menginformasikan sebelumnya atas transaksi over/underlifting melalui cargo settlement. 1) Jurnal atas pelaporan transaksi over/underlifting Kontraktor tahun-tahun sebelumnya yang akan diselesaikan melalui cargo settlement a) Jurnal atas overlifting Kontraktor Adan C Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: www.jdih.kemenkeu.go.id -83 - Akun UraianAkun Debit Kredit Piutang Jangka Pendek - xxxxxx 135.000 Migas ( Overlifting) xxxxxx Koreksi Lain-lain 135.000 Di Buku Besar Kas tidak dilakukan pencatatan ayat jurnal. b) Jurnal underlifting Kontraktor B dan D Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: Akun Uraian Akun Debit Kredit xxxxxx Koreksi Lain-lain 60.000 xxxxxx Utang Pihak Ketiga Migas 60.000 -Underlifting Kontraktor Di Buku Besar Kas tidak dilakukan pencatatan ayat jurnal. 2) Jurnal atas pelaporan penyelesaian overlifting Kontraktor A dan C yang diselesaikan melalui cargo settlement Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: a) Jurnal pengakuan piutang dan pendapatan gas atas pelaporan mv01ce BAE.43.04.005 pada Laporan pengiriman Gas bulan Mei 20Xl Akun Uraian Akun Debit Kredit xxxxxx Piutang Jangka Pendek - 75.000 Gas Bumixxx xxxxxx Pendapatan LO -Gas 75.000 Bumi b) Jurnal atas penyelesaian hasil penjualan gas di Rekening Migas Akun Uraian Akun Debit Kredit Diterima dari Entitas Lain xxxxxx 210.000 (DDEL) -Akrual Piutang Jangka xxxxxx Pendek - Migas 135.000 ( Overlifting) Piutang Jangka xxxxxx Pendek -Gas Bumi 75.000 XXX Di Buku Besar Kas tidak dilakukan pencatatan ayat jurnal. www.jdih.kemenkeu.go.id -84 - 3) Jurnal atas pelaporan penyelesaian underlifting Kontraktor B dan D yang diselesaikan melalui cargo settlement pada Laporan Pengiriman Gas Bumi Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: a) Jurnal awal pengakuan piutang dan pendapatan gas atas pelaporan invoice BAE.46.06.008 pada Laporan pengiriman Gas bulan Juni 20Xl Akun Uraian Akun Debit Kredit xxxxxx Piutang Jangka Pendek -Gas 190.000 Bumi x:xx Pendapatan LO - Gas xxxxxx 190.000 Bumi b) Jurnal penyelesaian underlifting Kontraktor B dan D melalui cargo settlement Akun Uraian Akun Debit Kredit Utang Pihak Ketiga Migas - xxxxxx 60.000 Underlifting Kontraktor xxxxxx Piutang Jangka Pendek - 60.000 Gas Bumi x:xx c) Jurnal atas penyelesaian hasil penjualan gas di Rekening Migas Akun Uraian Akun Debit Kredit Diterima dari Entitas Lain xxxxxx 130.000 (DDEL) -Akrual xxxxxx Piutang Jangka Pendek - 130.000 Gas Bumi x:xx Di Buku Besar Kas tidak dilakukan pencatatan ayat jurnal. b. Dalam hal Instansi Pelaksana tidak menginformasikan sebelumnya atas transaksi over/underlifting melalui cargo settlement. 1) Jurnal atas pelaporan transaksi penyelesaian overlifting Kontraktor E tahun sebelumnya yang diselesaikan melalui cargo settlement pada Laporan Pengiriman Gas Bumi a) Jurnal awal saat pencatatan lifting gas bumi sesuai Laporan Pengiriman Gas Bumi Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: www.jdih.kemenkeu.go.id Akun 85 - UraianAkun Piutang Jangka Pendek -Gas urni xxx Pendapatan LO -Gas Burni Debit Kredit 120.000 120.000 Di Buku Besar Kas tidak dilakukan pencatatan ayat jurnal. b) Jurnal penyesuaian atas penyelesaian overlifting Kontraktor E melalui cargo settlement untuk mengkoreksi nilai pendapatan tahun berjalan. Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: Akun Uraian Akun Pendapatan LO -Gas Burni Koreksi Lain -lain Debit Kredit 30.000 30.000 Di Buku Besar Kas tidak dilakukan pencatatan ayat jurnal. 2) Jurnal atas pelaporan transaksi penyelesaian underlifting Kontraktor F tahun sebelumnya yang diselesaikan melalui cargo settlement pada Laporan Pengiriman Gas Bumi a) Jurnal awal saat pencatatan lifting gas bumi sesua1 Laporan Pengiriman Gas Bumi Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: Akun Uraian Akun Debit Kredit xxxxxx Piutang Jangka Pendek -Gas 100.000 Burni xxx Pendapatan LO - Gas xxxxxx 100.000 Burni Di Buku Besar Kas tidak dilakukan pencatatan ayat jurnal. b) Jurnal penyesuaian atas penyelesaian underlifting Kontraktor melalui cargo settlement untuk mengkoreksi nilai pendapatan tahun berjalan. Di Buku Besar Akrual akan dijurnal sebagai berikut: Akun Uraian Akun Debit Kredit xxxxxx Koreksi Lain-lain 60.000 Pendapatan LO - Gas xxxxxx 60.000 Burni Di Buku Besar Kas tidak dilakukan pencatatan ayat jurnal. www.jdih.kemenkeu.go.id -86 - II. MODUL PETUNJUK TEKNIS PEMINDAHBUKUAN DALAM RANGKA PROSES PENGAKUAN DAN PENGUKURAN PNBP MIGAS BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Dasar Hukum 1. Latar Belakang Dalam rangka menampung penerimaan negara dari kegiatan usaha hulu Migas yang diterima dalam bentuk valuta asing, telah dibentuk suatu rekening penampungan sementara di Bank Indonesia (rekening antara/rekening transitory), yang sekarang dikenal sebagai Rekening Minyak dan Gas Bumi. Pembentukan rekening transitory tersebut dilandasi oleh bisnis proses penerimaan Migas yang belum selesai, karena atas bagian negara yang diterima dari hasil kegiatan Kontrak Kerja Sama Migas masih harus memperhitungkan unsur-unsur kewajiban Pemerintah dari kegiatan usaha hulu Migas (kewajiban Pemerintah) yang harus dibayarkan kepada pihak ketiga sebagaimana diatur dalam Kontrak Kerja Sama dan ketentuan peraturan perundang-undangan. Sejarah Pembentukan Rekening Minyak dan Gas Bumi a. Pada tanggal 16 Desember 1966, dikeluarkan Instruksi Presidium Kabinet Nomor 29/EK/IN/ 12/ 1966 yang berisikan Instruksi Presiden kepada Menteri Pertambangan dan Menteri Keuangan, agar merencanakan dan mempersiapkan pelaksanaan penyetoran langsung oleh perusahaan-perusahaan minyak asing sebesar 60% bagian Pemerintah dalam bentuk valuta asing ke Rekening Valuta Asing Departemen Keuangan pada BNI Unit I. b. Dengan diundangkannya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1971 tentang Perusahaan Pertambangan Minyak Dan Gas Bumi Negara pada tanggal 15 September 1971, Menteri Keuangan melalui Surat Nomor B-24/MK/IV / 1/ 1972 tanggal 8 Januari 1972 meminta kepada Direksi Bank Indonesia untuk melakukan pembukaan rekening valuta asing atas nama Departemen Keuangan yaitu Rekening www.jdih.kemenkeu.go.id -87 - "Minyak Production Sharing'' dan Rekening "Penerimaan Minyak Lainnya". c. Selanjutnya, melalui Instruksi Presiden Nomor 12 Tahun 1975 tanggal 29 Mei 1975 yang mengatur tentang Penyetoran Penerimaan Negara dari Sektor Min yak yang berasal dari kegiatan Kontrak Karya, Kontrak Production Sharing dan Pertamina sendiri Disetorkan kepada Negara, pada tahun 1976 dibentuklah satu rekening untuk menampung penyetoran-penyetoran hasil kegiatan usaha hulu Migas dari Production Sharing Contract di Bank Indonesia, yaitu rekening dengan Nomor 600.000411 dan nama: "Rekening Departemen Keuangan K/Hasil Minyak Perjanjian Karya Production Sharing''. d. Sebagai penyempurnaan dan salah satu usaha Pemerintah dalam meningkatkan penenmaan Negara, diterbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1982 tentang Kewajiban dan Tata Cara Penyetoran Pendapatan Pemerintah dari Hasil Operasi Pertamina Sendiri dan Kontrak Production Sharing. Sesuai ketentuan tersebut, atas bagian Pemerintah dari hasil Kontrak Production Sharing, diperintahkan untuk disetorkan ke rekening BUN di Bank Indonesia untuk setoran dalam Rupiah dan ke rekening Valuta Asing Departemen Keuangan di Bank Indonesia untuk setoran dalam bentuk valuta asing. e. Dalam rangka melengkapi dan menyempurnakan tata kelola dalam pengelolaan keuangan pada Rekening Nomor: 600.000411, diperlukan landasan hukum yang mengatur mengenai mutasi-mutasi di Rekening Departemen Keuangan K/Hasil Minyak Perjanjian Karya Production Sharing Nomor 600.000411. Selanjutnya pada tahun 2009 diterbitkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 113/PMK.02/2009 tentang Rekening Minyak dan Gas Bumi sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 178/PMK.02/2015 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 113/PMK.02/2009 tentang Rekening Minyak dan Gas Bumi. Dalam Peraturan Menteri Keuangan tersebut diatur www.jdih.kemenkeu.go.id -88 - mengenai mutasi-mutasi penerimaan dan pengeluaran apa saja yang dilakukan dari rekening tersebut. Mengingat kedudukannya sebagai rekening antara, maka atas dana yang diterima di Rekening Minyak dan Gas Bumi harus dilakukan pemindahbukuan. Pemindahbukuan dana dari Rekening Minyak dan Gas Bumi merupakan bentuk pengeluaran dana dari Rekening Minyak dan Gas Bumi sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 113/PMK.02/2009 tentang Rekening Minyak Dan Gas Bumi sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 178/PMK.02/2015 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 113/PMK.02/2009 tentang Rekening Minyak dan Gas Bumi. Pemindahbukuan dana dari Rekening Minyak dan Gas Bumi, secara garis besar dapat dikelompokkan ke dalam 3 (tiga) kelompok, sebagai berikut: a. Pemindahbukuan dana ke Rekening Kas Umum Negara (Rekening KUN) untuk diakui sebagai Pendapatan, yaitu pemindahbukuan atas dana setoran bagian negara yang eammg process-nya telah selesai dan/ atau telah memperhitungkan pembayaran-pembayaran kewajiban Pemerintah yang diperkenankan dilakukan melalui Rekening Minyak dan Gas Bumi; b. Pemindahbukuan dana ke rekening 'penerima manfaat' (beneficiary) sebagai pembayaran kewajiban Pemerintah sesuai dengan Kontrak Kerja Sama dan ketentuan peraturan perundang-undangan. c. Pemindahbukuan lainnya yang merupakan pengeluaran lain-lain dari Rekening Minyak dan Gas Bumi, yaitu pemindahbukuan atas dana Rekening Minyak dan Gas Bumi ke rekening para pihak atas dana salah transfer, pembayaran kembali kewajiban pemerintah yang di-retur, dan pengeluaran yang bersifat koreksi pembukuan. Dana saldo Rekening Minyak dan Gas Bumi, pada setiap akhir bulan dan/atau pada saat akan dilakukan pemindahbukuan dan/ atau pada periode pelaporan keuangan, perlu dilakukan pencadangan untuk pembayaran kewajiban Pemerintah sesuai dengan Kontrak Kerja Sama dan ketentuan www.jdih.kemenkeu.go.id -89 - peraturan perundang-undangan serta atas penenmaan negara yang belum dapat diproses pemindahbukuannya karena belum lengkapnya dokumen pendukung. Tata cara pembayaran kewajiban Pemerintah yang dilakukan melalui pemindahbukuan dana dari Rekening Minyak dan Gas Bumi ke Rekening KUN telah diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan tersendiri. Namun demikian, belum ada pengaturan mengenai mekanisme dan tata cara penghitungan pemindahbukuan dana dari Rekening Minyak dan Gas Bumi ke Rekening KUN atas PNBP Migas. Mengacu pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 217 /PMK.01/2018 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Keuangan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 87 /PMK.01/2019, usulan dan/atau permintaan pemindahbukuan dana dari Rekening Minyak dan Gas Bumi dilakukan oleh Direktorat Jenderal Perbendaharaan atas usulan/ permintaan dari Direktorat Jenderal Anggaran. Dalam rangka meningkatkan transparansi dan akuntabilitas penatausahaan penerimaan negara yang berasal dari hasil kegiatan usaha hulu Migas dan sesuai dengan rekomendasi Badan Pemeriksa Keuangan agar Pemerintah (Menteri Keuangan) mengatur dan menetapkan secara formal kebijakan dan tata cara penghitungan PNBP SDA Migas dan Pencadangan saldo kas di Rekening Minyak dan Gas Bumi agar lebih transparan, akuntabel dan konsisten, maka dipandang perlu untuk menyusun dan menetapkan suatu Petunjuk Teknis Pemindahbukuan dan Pencadangan Dana Rekening Minyak dan Gas Bumi yang akan menjadi acuan bagi instansi terkait dalam melakukan pencadangan dan pemindahbukuan dana Rekening Minyak dan Gas Bumi, khususnya terkait dengan pemindahbukuan PNBPMigas. 2. Dasar Hukum a. Undang-Undang APBN dan Peraturan Pelaksanaannya. b. Undang-Undang mengenai keuangan negara. c. Undang-Undang mengenai perbendaharaan negara. d. Undang-Undang mengenai minyak dan gas bumi. e. Peraturan Pemerintah mengenai kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi. f. Peraturan Pemerintah mengenai biaya operas1 yang dapat dikem balikan. www.jdih.kemenkeu.go.id -90 - g. Peraturan Pemerintah mengenai penerimaan negara dari kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi. h. Peraturan Menteri Keuangan mengenai bagan akun standar. 1. Peraturan Menteri Keuangan mengenai rekening minyak dan gas bumi. J. Peraturan Menteri Keuangan mengenai tata cara penyetoran dan pelaporan penerimaan negara dari kegiatan usaha hulu minyak dan/atau gas bumi dan penghitungan pajak penghasilan untuk keperluan pembayaran pajak penghasilan minyak bumi dan/ atau gas bumi berupa volume minyak dan/ atau gas bumi. k. Peraturan Menteri Keuangan mengenai tata cara pembayaran DMO Jee, overlifting kontraktor dan/ atau underlifting kontraktor dalam kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi. 1. Peraturan Menteri Keuangan mengenai organisasi dan tata kerja Kementerian Keuangan. m. Kontrak Kerja Sama Kegiatan Hulu Migas. B. Tujuan dan Ruang Lingkup Tujuan dari penyusunan Petunjuk Teknis Tata Cara Perhitungan PNBP Migas dalam rangka Proses Pengakuan dan Pengukuran antara lain adalah: 1. Sebagai pedoman bagi institusi terkait dalam melakukan pengusulan atas pemindahbukuan dana dan/ atau saldo Rekening Minyak dan Gas Bumi yang berasal dari penerimaan SDA Migas dan PNBP Migas Lainnya ke Rekening KUN. 2. Sebagai pedoman bagi institusi terkait dalam melakukan pengusulan atas pemindahbukuan dana Rekening Minyak dan Gas Bumi yang berasal dari penerimaan lain-lain seperti penenmaan karena salah transfer atau penerimaan karena adanya retur atas pembayaran kewajiban Pemerintah. 3. Sebagai pedoman bagi institusi terkait dalam melakukan pencadangan atas saldo Rekening Minyak dan Gas Bumi pada suatu periode tertentu. Ruang lingkup pengaturan meliputi: www.jdih.kemenkeu.go.id -91 - 1. petunjuk teknis tata cara pencadangan dana atas saldo Rekening Minyak dan Gas Bumi dalam rangka perhitungan PNBP SDA Migas yang akan dipindahbukukan, pengakuan dan pengukuran atas kewajiban Pemerintah, serta pengakuan dan pengukuran atas pendapatan akrual PNBP Migas; 2. petunjuk teknis tata cara pemindahbukuan secara umum; 3. petunjuk teknis pemindahbukuan dana dari Rekening Minyak dan Gas Bumi ke Rekening KUN dalam rangka pengakuan dan pengukuran Pendapatan PNBP SDA Migas; 4. petunjuk teknis pemindahbukuan dana dari Rekening Minyak dan Gas Bumi ke Rekening KUN dalam rangka pengakuan dan pengukuran Pendapatan PNBP Migas Lainnya; dan 5. petunjuk teknis pemindahbukuan dana atas penerimaan lain-lain di Rekening Minyak dan Gas Bumi seperti penerimaan karena salah transfer atau penerimaan karena adanya retur atas pembayaran kewajiban Pemerintah dalam rangka proses pengakuan dan pengukuran Pendapatan yang Ditangguhkan. C. Gambaran Petunjuk Teknis Modul petunjuk teknis ini menyajikan proses bisnis monitoring atas mutasi penerimaan dan pengeluaran di Rekening Minyak dan Gas Bumi, termasuk di dalamnya melakukan identifikasi terhadap jenis setoran dan pembayaran. Di dalam proses monitoring tersebut seringkali dijumpai setoran-setoran atau pembayaran yang belumjelas penyetor maupun peruntukkannya. Hal ini membutuhkan proses identifikasi agar setoran-setoran atau pembayaran tersebut menjadi lebih jelas, yaitu setoran mana yang merupakan setoran PNBP SDA Minyak Bumi, setoran PNBP SDA Gas Bumi, atau pun setoran-setoran lainnya di luar PNBP SDA, seperti setoran atas denda, penalti, dan bunga terkait transaksi kegiatan usaha hulu Migas. Modul ini juga menyajikan mekanisme alokasi maupun pencadangan saldo Rekening Minyak dan Gas Bumi pada akhir bulan dan/ atau akhir tahun anggaran dan/ atau pada tanggal cut off dilakukan pemindahbukuan, hingga proses dan tata cara penghitungan pemindahbukuan dananya. Dana yang dicadangkan tersebut dapat berupa dana yang dicadangkan untuk pembayaran kewajiban Pemerintah yang pada prinsipnya merupakan beban yang www.jdih.kemenkeu.go.id -92 - diakui sebagai kewajiban atau utang kepada pihak ketiga yang akan mengurangi pendapatan operasional, ataupun berupa pendapatan yang ditunda yang merupakan penerimaan di Rekening Minyak dan Gas Bumi yang belum dapat dipindahbukukan karena belum lengkapnya dokumen pendukung untuk melakukan proses pemindahbukuan tersebut. D. Ke ten tuan Lain-lain Dalam menyusun Petunjuk Teknis m1 JUga mengandung kebijakan-kebijakan teknis tertentu yang mengacu pada kaidah yang berlaku umum berdasarkan pertimbangan prinsip kewajaran. www.jdih.kemenkeu.go.id -93 - BAB II PETUNJUK TEKNIS TATA CARA PENCADANGAN DANA SALDO REKENING MINYAK DAN GAS BUMI A. Tujuan Pencadangan Dana Saldo Rekening Minyak dan Gas Bumi Pencadangan dana saldo Rekening Minyak dan Gas Bumi merupakan kegiatan dalam rangka mencadangkan dana saldo Rekening Minyak dan Gas Bumi pada suatu periode tertentu. Proses pencadangan dana tersebut dilakukan dalam rangka memenuhi tujuan sebagai berikut: 1. dalam rangka melakukan penghitungan atas saldo Rekening Minyak dan Gas Bumi yang dapat dipindahbukukan ke Rekening KUN Valas pada suatu periode tertentu; 2. dalam rangka pengakuan dan pengukuran kewajiban Pemerintah pada saat penyusunan Laporan Keuangan pemerintah pada suatu periode tertentu; dan 3. dalam rangka pengakuan dan pengukuran pendapatan akrual atas pendapatan ditunda yang berasal dari penerimaan current di Rekening Minyak dan Gas Bumi, namun belum dapat dipindahbukukan ke Rekening KUN pada saat penyusunan Laporan Keuangan pemerintah pada suatu periode tertentu. B. Komponen Pencadangan Dana Saldo Rekening Minyak dan Gas Bumi Pencadangan dana saldo Rekening Minyak dan Gas Bumi meliputi pencadangan atas transaksi-transaksi pengeluaran di Rekening Minyak dan Gas Bumi, yang secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua) kelompok: 1. Pencadangan Dana atas Pembayaran Tagihan Kewajiban Pemerintah dari Kegiatan Usaha Hulu Migas, meliputi: a. Pencadangan atas Tagihan DMO Fee; b. Pencadangan atas Tagihan PBB Migas; c. Pencadangan atas Tagihan Reimbursement PPN; d. Pencadangan atas Tagihan Pajak Air Permukaan, Pajak Air Tanah, dan Pajak Penerangan Jalan; e. Pencadangan atas Tagihan Underlifting Kontraktor; f. Pencadangan atas Tagihan fee penjualan Migas bagian negara; dan www.jdih.kemenkeu.go.id -94 - g. Pencadangan atas Tagihan Kewajiban Pemerintah Lainnya dari Kegiatan Usaha Hulu Migas yang diatur dalam kontrak dan peraturan perundang-undangan. Pencadangan dana untuk pembayaran tagihan tersebut pada prinsipnya antara lain dilakukan dalam rangka proses pengakuan dan pengukuran kewajiban Pemerintah berupa Utang kepada Pihak Ketiga. 2. Pencadangan Dana atas Pendapatan Yang Ditunda, yang merupakan pencadangan dana atas penerimaan di Rekening Minyak dan Gas Bumi yang belum dapat diakui sebagai pendapatan karena: a. belum dapat diketahui identifikasi jenis setoran dimaksud pada saat dilakukannya pemindahbukuan dan/ atau belum diterimanya dokumen pendukung untuk dapat dilakukan proses pemindahbukuan; dan b. merupakan dana yang masuk ke Rekening Minyak dan Gas Bumi setelah tanggal cut off pemindahbukuan terakhir sebelum pelaporan keuangan sampai dengan periode tanggal pelaporan keuangan. Pencadangan dana ini dilakukan dalam rangka proses pengakuan dan pengukuran Pendapatan yang Ditunda. C. Kebijakan Dalam Perhitungan Pencadangan Dana Saldo Rekening Minyak dan Gas Bumi 1. Kriteria Pencadangan Dana a. Pencadangan Dana atas Pembayaran Kewajiban Pemerintah dari Kegiatan Usaha Hulu Migas 1) Pencadangan Pembayaran DMO Fee a) Pencadangan atas pembayaran DMO Fee dilakukan apabila terdapat tagihan DMO Fee yang seharusnya dibebankan dan/ atau diperhitungkan, tetapi sampa1 dengan proses. dilakukannya perhitungan usulan pemindahbukuan PNBP SDA Migas belum dapat diproses pembayarannya. b) Pencadangan untuk proses pemindahbukuan bulanan dilakukan berdasarkan: www.jdih.kemenkeu.go.id -95 - 1. realisasi tagihan apabila surat atas tagihan DMO Fee dari Instansi Pelaksana telah diterima oleh Direktorat Jenderal Anggaran pada saat dilakukannya perhitungan usulan pemindahbukuan PNBP SDA Migas. 11. perkiraan apabila sampai dengan dilakukannya perhitungan usulan pemindahbukuan PNBP SDA Migas, surat tagihan atas DMO Fee dari Instansi Pelaksana untuk bulan yang bersangkutan belum diterima oleh DJA. Dasar perhitungan perkiraan menggunakan angka tagihan DMO Fee bulan sebelumnya. c) Pencadangan atas saldo Rekening Minyak dan Gas Bumi pada akhir tahun anggaran dan/atau pada periode pelaporan keuangan menggunakan data tagihan DMO Fee yang telah ditagihkan secara resmi oleh Instansi Pelaksana kepada Direktorat Jenderal Anggaran, tetapi sampai dengan berakhirnya tahun anggaran belum dapat diproses pembayarannya. Acuan yang digunakan adalah tanggal surat tagihan dari Instansi Pelaksana. 2) Pencadangan Pembayaran PBB Migas a) Untuk pencadangan pembayaran PBB Migas pada proses penghitungan usulan pemindahbukuan PNBP SDA Migas sebelum diterimanya surat tagihan PBB Migas yang dilengkapi dengan SPPT dari Direktorat Jenderal Pajak diterima oleh Direktorat Jenderal Anggaran, pencadangan pembayaran PBB Migas dihitung berdasarkan data proyeksi PBB Migas yang digunakan dalam APBN. b) Untuk pencadangan pembayaran PBB Migas pada proses penghitungan usulan pemindahbukuan PNBP SDA Migas setelah diterimanya surat tagihan PBB Migas yang dilengkapi dengan SPPT dari Direktorat Jenderal Pajak diterima oleh Direktorat Jenderal Anggaran, pencadangan pembayaran PBB www.jdih.kemenkeu.go.id -96 - Migas dihitung berdasarkan data tagihan PBB Migas terkini yang telah dilengkapi SPPT tersebut. c) Untuk pencadangan pembayaran PBB Migas atas saldo Rekening Minyak dan Gas Bumi pada akhir tahun anggaran (per 31 Desember) menggunakan data tagihan PBB Migas dari Direktorat Jenderal Pajak yang telah melalui proses verifikasi dan penelitian oleh Direktorat Jenderal Anggaran dan/ atau telah memadai untuk dibayarkan (termasuk jumlah tagihan PBB Migas yang telah memadai untuk dibayarkan, tetapi sampai dengan akhir tahun anggaran masih dalam proses pembayaran atau belum terbayarkan dari Rekening Minyak dan Gas Bumi). 3) Pencadangan Pembayaran Reimbursement PPN a) Pencadangan atas pembayaran Reimbursement PPN dilakukan apabila terdapat tagihan Reimbursement PPN yang seharusnya dibebankan dan/ atau diperhitungkan, tetapi sampai dengan proses dilakukannya perhitungan usulan pemindahbukuan PNBP SDA Migas, belum dapat diproses pembayarannya. b) Pencadangan untuk proses pemindahbukuan bulanan dilakukan berdasarkan: 1. realisasi tagihan apabila surat atas tagihan Reimbursement PPN dari Instansi Pelaksana telah diterima oleh Direktorat Jenderal Anggaran pada saat dilakukannya perhitungan usulan pemindahbukuan PNBP SDA Migas. ii. perkiraan apabila sampai dengan dilakukannya perhitungan usulan pemindahbukuan PNBP SDA Migas, surat tagihan atas Reimbursement PPN dari Instansi Pelaksana untuk bulan yang bersangkutan belum diterima oleh DJA. Dasar perhitungan www.jdih.kemenkeu.go.id -97 - perkiraan menggunakan angka tagihan Reimbursement PPN bulan sebelumnya. c) Pencadangan atas saldo Rekening Minyak dan Gas Bumi pada akhir tahun anggaran dan/ atau pada periode pelaporan keuangan menggunakan data tagihan Reimbursement PPN yang telah ditagihkan secara resmi oleh Instansi Pelaksana kepada Direktorat Jenderal Anggaran, tetapi sampai dengan berakhirnya tahun anggaran belum dapat diproses pembayarannya. Acuan yang digunakan adalah tanggal surat tagihan dari Instansi Pelaksana. 4) Pencadangan Pembayaran Pajak Air Permukaan, Pajak Air Tanah, dan Pajak Penerangan Jalan (PDRD) a) Pencadangan atas pembayaran PDRD dilakukan apabila terdapat tagihan PDRD yang seharusnya dibebankan dan/ atau diperhitungkan, tetapi sampai dengan proses dilakukannya perhitungan usulan pemindahbukuan PNBP SDA Migas, belum dapat diproses pembayarannya. b) Pencadangan untuk proses pemindahbukuan bulanan maupun saldo Rekening Minyak dan Gas Bumi pada akhir tahun anggaran dan/atau pada periode pelaporan keuangan menggunakan data tagihan PDRD yang telah ditagihkan secara resmi oleh Pemerintah Daerah kepada Direktorat Jenderal Anggaran, tetapi sampai dengan berakhirnya tahun anggaran belum dapat diproses pembayarannya. Acuan yang digunakan adalah tanggal surat tagihan dari Pemerintah Daerah. 5) Pencadangan Pembayaran Underlifting Kontraktor a) Pencadangan atas pembayaran Underlifting Kontraktor dilakukan apabila terdapat tagihan Underlifting Kontraktor yang seharusnya dibebankan dan/ atau diperhitungkan, tetapi sampai dengan proses dilakukannya perhitungan www.jdih.kemenkeu.go.id -98 usulan pemindahbukuan PNBP SDA Migas belum dapat diproses pembayarannya. b) Pencadangan untuk proses pemindahbukuan bulanan maupun saldo Rekening Minyak dan Gas Bumi pada akhir tahun anggaran dan/atau pada periode pelaporan keuangan menggunakan data tagihan underliflting Kontraktor yang telah ditagihkan secara resmi oleh Instansi Pelaksana kepada Direktorat Jenderal Anggaran, tetapi sampai dengan berakhirnya tahun anggaran belum dapat diproses pembayarannya. Acuan yang digunakan adalah tanggal surat tagihan dari Instansi Pelaksana. 6) Pencadangan Pembayaran fee penjualan Migas bagian negara a) Pencadangan atas pembayaran fee penjualan Migas bagian negara dilakukan apabila terdapat tagihan fee penjualan Migas bagian negara yang seharusnya dibebankan dan/ atau diperhitungkan, tetapi sampai dengan proses dilakukannya perhitungan usulan pemindahbukuan PNBP SDA Migas, belum dapat diproses pembayarannya. b) Pencadangan untuk proses pemindahbukuan bulanan maupun saldo Rekening Minyak dan Gas Bumi pada akhir tahun anggaran dan/ atau pada periode pelaporan keuangan menggunakan data fee penjualan Migas bagian negara yang telah ditagihkan secara resmi oleh Instansi Pelaksana kepada Direktorat Jenderal Anggaran, tetapi sampai dengan berakhirnya tahun anggaran belum dapat diproses pembayarannya. Acuan yang digunakan adalah tanggal surat tagihan dari Instansi Pelaksana. 7) Pencadangan Pembayaran Kewajiban Pemerintah dari Kegiatan Usaha Hulu Migas Lainnya a) Pencadangan atas pembayaran kewajiban Pemerintah Lainnya dilakukan apabila terdapat www.jdih.kemenkeu.go.id -99 tagihan kewajiban Pemerintah Lainnya yang seharusnya dibebankan dan/ atau diperhitungkan, tetapi sampai dengan proses dilakukannya perhitungan usulan pemindahbukuan PNBP SDA Migas, belum dapat diproses pembayarannya. b) Pencadangan untuk proses pemindahbukuan bulanan maupun saldo Rekening Minyak dan Gas Bumi pada akhir tahun anggaran dan/atau pada periode pelaporan keuangan menggunakan data kewajiban Pemerintah Lainnya yang telah ditagihkan secara resm1 oleh Pemerintah Daerah kepada Direktorat Jenderal Anggaran, tetapi sampai dengan berakhirnya tahun anggaran belum dapat diproses pembayarannya. Acuan yang digunakan adalah tanggal surat tagihan dari Instansi Pelaksana. 2. Pencadangan Dana atas Pendapatan Yang Ditunda Pencadangan atas Pendapatan yang Ditunda dilakukan apabila terdapat penerimaan di Rekening Minyak dan Gas Bumi dengan kriteria sebagai berikut: a. belum dapat diketahui identifikasi jenis setoran dimaksud pada saat dilakukannya pemindahbukuan dan/ atau belum diterimanya dokumen pendukung untuk dapat dilakukan proses pemindahbukuan; dan b. penerimaan tersebut merupakan dana yang masuk ke Rekening Minyak dan Gas Bumi dari setelah tanggal cut off pemindahbukuan terakhir sebelum pelaporan keuangan sampai dengan periode tanggal pelaporan keuangan. 3. Penghitungan Alokasi Pencadangan Dana atas Pembayaran Kewajiban Pemerintah dari Kegiatan Usaha Hulu Migas Untuk pencadangan dana atas pembayaran kewajiban Pemerintah harus dilakukan pengalokasian atas pembebanan pembayaran kewajiban Pemerintah tersebut, yaitu sebagai beban atau unsur yang mengurangi penerimaan kotor dari SDA Minyak Bumi dan sebagai beban atau unsur yang mengurangi SDA Gas Bumi. www.jdih.kemenkeu.go.id -100 - Pembayaran kewajiban Pemerintah yang harus dialokasikan sebagai unsur yang mengurangi penerimaan kotor dari SDA Minyak Bumi, terdiri atas: a. Tagihan atas DMO Fee minyak mentah. b. Tagihan atas underlifting minyak Kontraktor. c. Tagihan atas fee penjualan minyak bagian negara; dan d. Alokasi atas tagihan-tagihan kewajiban Pemerintah antara lain berasal dari PBB Migas, reimbursement PPN, dan PDRD. Sedangkan pembayaran kewajiban Pemerintah yang harus dialokasikan sebagai unsur yang mengurangi penerimaan kotor dari SDA Gas Bumi, terdiri atas: a. Tagihan atas underlifting gas Kontraktor. b. Tagihan atas fee penjualan gas bagian negara. c. Alokasi atas tagihan-tagihan kewajiban Pemerintah yang antara lain berasal dari PBB Migas, reimbursement PPN, dan PDRD. Penagihan oleh pihak ketiga atas kewajiban Pemerintah sebagian besar belum merinci tagihan mana yang merupakan kewajiban minyak bumi dan mana yang merupakan kewajiban gas bumi. Kewajiban Pemerintah yang belum terinci tagihannya tersebut antara lain berasal dari tagihan reimbursement PPN, PBB Migas, dan PDRD. Dengan demikian, agar kewajiban-kewajiban Pemerintah tersebut dapat dialokasikan sebagai unsur pengurang penerimaan kotor SDA Minyak Bumi dan penerimaan SDA Gas Bumi, diperlukan suatu pendekatan dan/ atau metode tertentu untuk proses pengalokasiannya. Pendekatan dan/ atau metode yang digunakan dalam melakukan pengalokasian atas pencadangan pembayaran kewajiban Pemerintah dilakukan dengan cara membagi secara proporsional berdasarkan persentase kontribusi penerimaan SDA Minyak Bumi dan penenmaan SDA Gas Bumi dengan menggunakan data laporan penerimaan Migas bagian pemerintah sebagaimana dilaporkan dalam Laporan Pengiriman Minyak dan Gas Bumi Bagian Negara oleh Instansi Pelaksana. Kontribusi penerimaan SDA Minyak Bumi merupakan penjumlahan dari nilai minyak bagian Pemerintah yang dilaporkan dalam Laporan Pengiriman Min yak Bumi Bagian Negara ke kilang non Pertamina www.jdih.kemenkeu.go.id -101 - dan Laporan Pengiriman Minyak Bumi Bagian Negara ke kilang Pertamina, dikurangi dengan nilai gross DMO dalam laporan atas pengiriman minyak mentah bagian kontraktor dalam rangka DMO. Sedangkan kontribusi penerimaan SDA Gas Bumi dihitung dengan menjumlahkan nilai gas bagian Pemerintah dalam Laporan Pengiriman Gas Bumi Bagian Negara ke kilang non Pertamina dan La po ran Pengiriman Gas Bumi Bagian Negara ke kilang Pertamina. D. Perlakuan Khusus Berdasarkan pertimbangan tertentu, antara lain dalam rangka mengisi kebutuhan Kas Umum Negara, Direktorat Jenderal Anggaran melalui arahan Menteri Keuangan dapat melakukan permintaan pemindahbukuan dana pada Rekening Minyak dan Gas Bumi yang dicadangkan untuk kewajiban Pemerintah ke Rekening KUN sebagai pendapatan negara. www.jdih.kemenkeu.go.id -102 - BAB III PETUNJUK TEKNIS TATA CARA PEMINDAHBUKUAN A. Tujuan Pemindahbukuan Rekening Minyak dan Gas Bumi (Rekening Minyak dan Gas Bumi) merupakan rekening penampungan sementara atas setoran Bagian Pemerintah dari hasil kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi sesuai dengan Kontrak Kerja Sama Migas. Namun demikian, Rekening Minyak dan Gas Bumi juga digunakan untuk menyelesaikan pembayaran kewajiban Pemerintah yang diatur dalam kontrak dan ketentuan peraturan perundang-undangan. Mengingat kedudukan Rekening Minyak dan Gas Bumi sebagai rekening antara, maka dana yang diterima di Rekening Minyak dan Gas Bumi harus dilakukan pemindahbukuan, baik dalam rangka pengakuan pendapatan, maupun dalam rangka pembayaran kewajiban Pemerintah. Pemindahbukuan dalam rangka pengakuan pendapatan sebagai PNBP SDA Migas, harus terlebih dahulu memperhitungkan kewajiban Pemerintah yang telah ditagihkan dan/ atau seharusnya diperhitungkan, dengan melakukan pencadangan dana atas saldo Rekening Minyak dan Gas Bumi. Dengan demikian, tujuan pemindahbukuan dana pada Rekening Minyak dan Gas Bumi adalah dalam rangka pengakuan pendapatan dan pembayaran kewajiban Pemerintah. Berdasarkan sifat proses bisnisnya, penenmaan dari hasil kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi yang diterima di Rekening Minyak dan Gas Bumi dapat dikelompokkan ke dalam 2 (dua) jenis, yaitu: 1. Penerimaan yang berasal dari hasil lifting SDA Migas, antara lain: a. Penerimaan hasil penjualan minyak bumi b. Penerimaan hasil penjualan gas bumi, yang terdiri atas: 1) Penerimaan LNG 2) Penerimaan LPG 3) Penerimaan Natural Gas 4) Penerimaan Coal Bed Methane (CBM) c. Penerimaan atas setoran overlifting Kontraktor 2. Penerimaan yang berasal dari pengenaan denda, penalti, dan bunga yang timbul dari suatu transaksi lifting Migas sesuai www.jdih.kemenkeu.go.id -103 - dengan ketentuan yang diatur dalam kontrak atau ketentuan perundang-undangan. 3. Penerimaan yang berasal dari retur pembayaran kewajiban Pemerintah yang antara lain disebabkan adanya kesalahan nomor rekening. 4. Penerimaan yang berasal dari kesalahan transfer yang seharusnya tidak ditujukan ke Rekening Minyak dan Gas Bumi. B. Komponen Pemindahbukuan Pemindahbukuan dana dari Rekening Minyak dan Gas Bumi meliputi transaksi pengeluaran di Rekening Minyak dan Gas Bumi, yang secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) kelompok: 1. Pemindahbukuan dana ke Rekening KUN dalam rangka pengakuan realisasi pendapatan dari kegiatan usaha hulu Migas, yang meliputi: a. Pemindahbukuan atas saldo PNBP SDA Migas; dan b. Pemindahbukuan atas setoran PNBP Migas Lainnya. 2. Pemindahbukuan atas Pembayaran Kewajiban Pemerintah dari Kegiatan Usaha Hulu Migas a. Pemindahbukuan atas pembayaran tagihan DMO Fee; b. Pemindahbukuan atas Pembayaran tagihan PBB Migas; c. Pemindahbukuan atas Pembayaran tagihan Reimbursement PPN; d. Pemindahbukuan atas tagihan Pembayaran Pajak Air Permukaan, Pajak Air Tanah, dan Pajak Penerangan Jalan; e. Pemindahbukuan atas Pembayaran tagihan Jee penjualan Migas bagian negara; dan f. Pemindahbukuan atas Pembayaran Kewajiban Pemerintah Lainnya sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. 3. Pemindahbukuan Lainnya a. Pemindahbukuan atas penenmaan salah transfer ke Rekening Minyak dan Gas Bumi; dan b. Pemindahbukuan lain-lain. Sesuai dengan ruang lingkup petunjuk teknis yang telah dijelaskan di awal, pemindahbukuan yang akan diatur dalam petunjuk teknis ini hanya meliputi: www.jdih.kemenkeu.go.id -104 - 1. Petunjuk teknis pemindahbukuan dana ke Rekening KUN atas saldo PNBP SDA Migas; 2. Petunjuk teknis pemindahbukuan dana ke Rekening KUN atas setoran PNBP Migas Lainnya; dan 3. Petunjuk teknis pemindahbukuan lainnya. Petunjuk teknis ini tidak mengatur mengenai pemindahbukuan dalam rangka pembayaran kewajiban Pemerintah, mengingat tata cara pembayaran kewajiban Pemerintah melalui pemindahbukuan dana dari Rekening Minyak dan Gas Bumi telah diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan tersendiri. C. Kebijakan Dalam Perhitungan Di dalam petunjuk teknis tata cara pemindahbukuan ini terdapat kebijakan-kebijakan yang digunakan terkait dengan metode penghitungan dan pelaporannya. Hal ini dilakukan agar proses pemindahbukuan maupun pengukuran besaran dana yang dipindahbukukan tersebut dapat memenuhi kriteria sebagai berikut: 1. Akuntabel dan dapat dipertangungjawabkan, yakni tata cara perhitungan memenuhi kaidah-kaidah praktik akuntansi pemerintahan yang lazim dan sejalan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; 2. Terpenuhinya "prinsip penandingan penerimaan dengan beban" (matching cost againts revenue principle) dalam menghitung PNBP SDA Migas yang akan dipindahbukukan pada saat memperhitungkan penenmaan kotor SDA Migas dengan pembayaran kewajiban Pemerintah. Dalam pengakuan pendapatan dan pencatatan atas PNBP SDA Migas harus memisahkan antara PNBP SDA Minyak Bumi dan PNBP SDA Gas Bumi sesuai dengan kode akun yang telah disediakan, dimana hal ini juga akan berpengaruh terhadap besaran PNBP SDA Migas yang akan dibagihasilkan kepada Pemerintah Daerah, karena persentase pembagian yang berbeda antara PNBP SDA Minyak Bumi dan PNBP SDA Gas Bumi. Mengingat tagihan dari pihak ketiga atas kewajiban Pemerintah sebagian besar tidak memisahkan antara kewajiban yang menjadi beban penerimaan SDA Minyak Bumi dan yang menjadi beban penerimaan SDA Gas Bumi, yaitu untuk tagihan reimbursement PPN, www.jdih.kemenkeu.go.id -105 - PBB Migas, dan PDRD, maka diperlukan suatu metode/pendekatan untuk pengalokasiannya. Metode alokasi yang digunakan dalam mengalokasikan beban atas pembayaran kewajiban Pemerintah tersebut menggunakan pendekatan proporsional atas kontribusi dari keduajenis penerimaan yaitu penerimaan SDA Minyak Bumi dan SDA Gas Bumi. Dimana proses pengalokasian dan metode penghitungannya telah dijelaskan secara lebih rinci pada BAB II, sub BAB "Penghitungan Alokasi Pencadangan Dana atas Pembayaran Kewajiban Pemerintah Dari Kegiatan Usaha Hulu Migas". D. Periodisasi Periode pemindahbukuan dana untuk masmg-masmg Jen1s penerimaan adalah sebagai berikut: 1. Pemindahbukuan dana atas penerimaan SDA Migas dilakukan secara periodik, dalam hal ini setiap menjelang akhir bulan. Namun demikian, pemindahbukuan dapat dilakukan lebih dari satu kali dalam sebulan, apabila dipandang perlu oleh pimpinan dengan mempertimbangkan terdapat penerimaan yang cukup signifikan setelah tanggal cut offpemindahbukuan. 2. Pemindahbukuan dana atas penerimaan PNBP Migas lainnya dapat dilakukan setiap saat, setelah diterimanya setoran dan/atau dokumen pendukung yang memadai. www.jdih.kemenkeu.go.id -106 - BAB IV PETUNJUK TEKNIS TATA CARA PENGHITUNGAN PNBP SDA MIGAS DALAM RANGKA PROSES PENGAKUAN DAN PENGUKURAN MELALUI MEKANISME PEMINDAHBUKUAN A. Definisi dan J enis Penghitungan PNBP SDA Migas oleh Satker PNBP Migas merupakan suatu rangkaian proses dalam rangka pengakuan dan pengukuran realisasi pendapatan yang bersumber dari penerimaan SDA Migas yang diterima di Rekening Minyak dan Gas Bumi melalui mekanisme pemindahbukuan dari Rekening Minyak dan Gas Bumi ke Rekening KUN. Dalam proses penghitungan tersebut juga meliputi proses pengalokasian untuk membebankan pembayaran kewajiban Pemerintah yang dilakukan melalui Rekening Minyak dan Gas Bumi sebagai komponen pengurang penerimaan SDA Minyak Bumi dan SDA Gas Bumi sebelum diakui sebagai PNBP SDA Minyak Bumi dan PNBP SDA Gas Bumi. Pembayaran kewajiban Pemerintah yang dialokasikan tersebut antara lain meliputi pembayaran kewajiban Pemerintah atas PBB Migas, Reimbursement PPN, dan PDRD. Perhitungan PNBP SDA Migas atas dana yang diterima di Rekening Minyak dan Gas Bumi dalam rangka proses pengakuan dan pengukuran melalui mekanisme pemindahbukuan dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua) bagian: a. Perhitungan PNBP SDA Migas dalam rangka proses pengakuan dan pengukuran secara periodik; dan b. Perhitungan PNBP SDA Migas dalam rangka penghitungan final PNBP SDA Migas. Permintaan pemindahbukuan dalam rangka proses pengakuan dan pengukuran secara periodik dilakukan setiap akhir bulan. Namun demikian, apabila dipandang perlu dapat dilakukan lebih dari sekali permintaan pemindahbukuan dalam setiap bulannya. Permintaan pemindahbukuan dari Rekening Minyak dan Gas Bumi ke Rekening KUN dilakukan oleh Satker PNBP Migas kepada Kuasa BUN Tingkat Pusat melalui surat Direktur Jenderal Anggaran. Perhitungan PNBP SDA Migas dalam rangka penghitungan final PNBP SDA Migas dilakukan setelah berakhirnya suatu tahun anggaran dan digunakan sebagai dasar melakukan koreksi re-klasifikasi www.jdih.kemenkeu.go.id -107 - pengakuan pendapatan antara PNBP SDA Minyak Bumi dengan kode akun 421111 (Pendapatan Minyak Bumi) dan PNBP SDA Gas Bumi dengan kode akun 421211 (Pendapatan Gas Bumi). B. Dokumen yang diperlukan Dokumen yang diperlukan oleh Satker PNBP Migas untuk melakukan perhitungan PNBP SDA Migas dalam rangka proses pengakuan dan pengukuran melalui mekanisme pemindahbukuan meliputi: 1. Bukti penerimaan di Rekening Minyak dan Gas Bumi (Rekening Koran), dalam hal ini berupa salinan ( copy) Rekening Koran yang diperoleh dari Direktorat Jenderal Perbendaharaan; 2. Laporan Mutasi Rekening Minyak dan Gas Bumi terakhir (yang menggambarkan posisi saldo Rekening Minyak dan Gas Bumi per cut offperhitungan pemindahbukuan); 3. Bukti laporan dan/ atau invoice dan/ atau tagihan atas setoran bagian negara dari kegiatan usaha hulu Migas yang diperoleh dari Instansi Pelaksana; 4. Dokumen dan/ atau bukti atas tagihan kewajiban Pemerintah yang harus dicadangkan pada saldo Rekening Minyak dan Gas Bumi. C. Formula Perhitungan Pemindahbukuan Secara umum, pengukuran besaran PNBP SDA Migas yang akan dipindahbukukan ke Rekening KUN, menggunakan formula perhitungan sebagai berikut: 1. Formula Perhitungan PNBP SDA Minyak Bumi PNBP SDA Minyak Bumi = Saldo Penerimaan SDA Minyak Bumi -Cadangan Pembayaran Kewajiban Pemerintah Saldo Penerimaan SDA Minyak Bumi merupakan posisi saldo penerimaan SDA Minyak Bumi di Rekening Minyak dan Gas Bumi pada saat tanggal cut off posisi saldo untuk pemindahbukuan yang berasal dari: a. penerimaan hasil penjualan minyak bumi; dan b. penerimaan atas setoran overlifting minyak Kontraktor. Cadangan Pembayaran Kewajiban Pemerintah merupakan dana Rekening Minyak dan Gas Bumi yang dicadangkan untuk membayar kewajiban Pemerintah yang telah ditagihkan dan/ atau www.jdih.kemenkeu.go.id -108 - harus dibebankan pada periode yang bersangkutan, yang menjadi beban penerimaan SDA Minyak Bumi. Cadangan pembayaran kewajiban Pemerintah yang harus dibebankan atau dialokasikan sebagai unsur yang mengurangi penerimaan kotor dari SDA Minyak Bumi, terdiri atas: a. tagihan atas DMO Fee minyak mentah; b. tagihan atas underlifting minyak Kontraktor; c. tagihan atas fee penjualan minyak bumi bagian negara; d. alokasi atas tagihan-tagihan kewajiban Pemerintah yang antara lain berasal dari PBB Migas, reimbursement PPN, dan PDRD. 2. Formula Perhitungan PNBP SDA Gas Bumi PNBP SDA Gas Bumi = Saldo Penerimaan SDA Gas Bumi - Cadangan Pembayaran Kewajiban Pemerintah Saldo Penerimaan SDA Gas Bumi merupakan posisi saldo penerimaan SDA Gas Bumi di Rekening Minyak dan Gas Bumi pada saat tanggal cut off posisi saldo untuk pemindahbukuan yang berasal dari: a. penerimaan yang berasal dari hasil penjualan LNG; b. penerimaan yang berasal dari hasil penjualan LPG; c. penerimaan yang berasal dari hasil penjualan Natural Gas; d. penerimaan yang berasal dari hasil penjualan CBM; dan e. penerimaan yang berasal dari setoran overlifting gas Kontraktor. Cadangan Pembayaran Kewajiban Pemerintah merupakan dana Rekening Minyak dan Gas Bumi yang dicadangkan untuk membayar kewajiban Pemerintah yang telah ditagihkan dan/ atau harus dibebankan pada periode yang bersangkutan, yang menjadi beban penerimaan SDA Gas Bumi. Cadangan pembayaran kewajiban Pemerintah yang harus dibebankan atau dialokasikan sebagai unsur yang mengurangi penerimaan kotor dari SDA Gas Bumi, terdiri atas: a. tagihan atas underlifting gas Kontraktor; b. tagihan atas Fee penjualan gas bagian negara; c. alokasi atas tagihan-tagihan kewajiban Pemerintah yang antara lain berasal dari PBB Migas, reimbursement PPN, dan PDRD. www.jdih.kemenkeu.go.id -109 - D. Langkah-langkah Perhitungan PNBP SDA Migas Sebagaimana dijelaskan di atas, perhitungan PNBP SDA Migas atas dana yang diterima di Rekening Minyak dan Gas Bumi dalam rangka proses pengakuan dan pengukuran melalui mekanisme pemindahbukuan dikelompokkan menjadi 2 (dua), yakni (i) Perhitungan PNBP SDA Migas dalam rangka proses pengakuan dan pengukuran realisasi pendapatan secara periodik; (ii) Perhitungan PNBP SDA Migas yang dilakukan setelah berakhirnya tahun anggaran dalam rangka penghitungan final PNBP SDA Migas. 1. Perhitungan PNBP SDA Migas Dalam Rangka Proses Pengakuan dan Pengukuran Realisasi Pendapatan Secara Periodik Langkah-langkah yang ditempuh adalah sebagai berikut: a. Menentukan tanggal cut off atas posisi saldo Rekening Minyak dan Gas Bumi yang akan digunakan sebagai dasar pemindahbukuan (tanggal cut offposisi saldo). b. Menghitung saldo atas dana di Rekening Minyak dan Gas Bumi dan mengelompokkannya per jenis penerimaan, dengan tahapan sebagai berikut: 1) Melakukan identifikasi atas mutasi penenmaan dan pengeluaran di Rekening Minyak dan Gas Bumi sampai dengan per tanggal cut off posisi saldo dan mengelompokkannya untuk masing-masing periode transaksi sebagai berikut: a) Saldo Awal b) Transaksi dari tanggal 1 Januari s.d. akhir bulan pad a bulan terakhir dilakukannya pemindahbukuan c) Transaksi dari tanggal 1 pada bulan akan dilakukannya pemindahbukuan s.d. tanggal cut off posisi saldo Sebagai ilustrasi, apabila akan dilakukan pemindahbukuan pada akhir bulan April Tahun 20xx dengan tanggal cut off posisi saldo tanggal 23 April 20xx, maka kertas kerja dapat digambarkan dalam tabel berikut: www.jdih.kemenkeu.go.id -110 - PERIODE 1 SUB SALDO IJANUARI PERIODE l[fOTAL S.D. 31 S.D. 23 S.D. 23 h'OTAL URAIAN AWAL MARET APRIL 20XX !APRIL 20XX 20XX 1 2 3=1+2 4=2+3 5=1+4 I. PENERIMAAN xxxx xxxx xxxx xxxx xxxx II. PENGELUARAN xxxx iXXXX xxxx iXXXX xxxx SALDO PER 23 APRIL 20XX xxxx iXXXX xxxx xxxx xxxx 2) Selanjutnya, atas transaksi penenmaan sebagaimana poin "I" pada tabel di atas, dilakukan pengelompokkan untuk masing-masing jenis penerimaan berdasarkan hasil pencocokkan antara bukti penerimaan di Rekening Minyak dan Gas Bumi (Rekening Koran) dengan laporan dan/ atau invoice dan/ atau tagihan atas setoran bagian negara dari kegiatan usaha hulu Migas, sehingga diperoleh keyakinan memadai bahwa atas penerimaan tersebut merupakan penerimaan negara dari kegiatan usaha hulu Migas. Untuk penerimaan yang belum didukung oleh laporan dan/ atau invoice dan/ atau tagihan atas setoran bagian negara dari kegiatan usaha hulu Migas akan dikelompokkan sebagai penerimaan lain-lain. Oleh karena itu, pengelompokkan penerimaan tersebut adalah sebagai berikut: a) Penerimaan SDA Migas b) Penerimaan PNBP Lainnya dari Kegiatan Usaha Hulu Migas c) Penerimaan Lain-lain Khusus untuk transaksi Penerimaan SDA Migas dikelompokkan lagi menjadi 2 (dua) kelompok, yaitu: a) Penerimaan Minyak Bumi b) Penerimaan Gas Bumi Sebagai ilustrasi, kertas kerja dapat digambarkan dalam tabel berikut: PERIODE 1 PERIODE SUB TOTAL JANUARI SALDO 1 S.D. 23 S.D. 23 S.D. 31 TOTAL URAIAN AWAL APRIL APRIL MARET 20XX 20XX 20XX 1 2 3=1+2 4=2+3 5=1+4 I. PENERIMAAN xxxxxxxx l~A A A AX xxxxxxxx X A A A xx xxxxxxxx A.SDAMIGAS ------ xxxxxxx xxxxxxx ------------ a. MINYAK BUMI IY..,. X Y •\,,,,Yo. 1v...,.•\ •• Y Xv v .. 1;{_,Y v X)\. XX .... ...X.. IV V XV V...,Y,. b. GAS BUMI ,x XX ,AX XX X X X ,x X www.jdih.kemenkeu.go.id - 111 - TOTAL SDA MIGAS -- -"-Y...J<... xxxxxxxx xxxxxxxx 17\...JI. X xx X xxxxxxxx B.PNBP LAINNYA DARI IX,)( X A~ xxxxxxx xxxxxxx ------- xxxxxxx KEGIATAN USAHA !-IULU MIGAS C. LAIN-LAIN ,x X xxxxxxx IY_Y_ X Y Y_Y.., ------ -- --· II. PENGELUARAN _x_ X _Y .... YJ( X " .... " X,.. V ..... '( XXX Xx AX A A JI. ,X XX XX Ill. SALDO PER 23 APRIL xxxxxxxx XX X xxxxxxxx ------- ------- 20XX 3) Selanjutnya, atas transaksi pengeluaran sebagaimana poin "II" pada tabel di atas dilakukan pengelompokkan untuk masing-masing Jems pengeluaran sebagai berikut: a) Pengeluaran Rekening KUN sebagai Pemindahbukuan ke b) Pengeluaran sebagai Pembayaran Kewajiban Pemerintah dari Kegiatan Usaha Hulu Migas c) Pengeluaran Lain-lain Khusus untuk transaksi pengeluaran sebagai pembayaran kewajiban Pemerintah, akan dilakukan pengalokasian atas pembebanan pembayaran kewajiban Pemerintah tersebut, yaitu sebagai beban atas penerimaan SDA Minyak Bumi dan beban atas penerimaan SDA Gas Bumi. Sebagai ilustrasi, kertas kerja dapat digambarkan dalam tabel berikut: PERIODE 1 SUB PERIODE JANUARI TOTAL SALDO 1 S.D. 23 S.D. 31 S.D. 23 TOTAL URAIAN AWAL APRIL MARET APRIL 20XX 20XX 20XX 1 2 3=1+2 4=2+3 5=1+4 [. PENERIMAAN xxxxxxxx IY..,.Y X .._.".,."XX X Y ".,.,;.: X v xxxxxxxx xxxxxxxx IL PENGELUARAN xxxxxxxx,x X X X xxxxxxxx xxxxxxxx --- A. PEMINDAHBUKUAN KE xxxxxxx IY .... X Y .... Y .... .J( XYYYXX xxxxxxx xxxxxxx REKENING KUN a. PEMINDA!-IBUKUAN xxxxxx xx xx X xxxxxx xxxxxx SDAMIGAS SDA MINYAK BUMI xxxxxx XX X X ,x X xxxxxx - SDAGAS BUMI ?\... ____ ---·-------------- -· b. PEMINDAHBUKUAN X xx --· X - X xxxxxx xxxxxx PNBP LAINNYA DARI KEG. !-IULU MIGAS B. PEMBAYARAN xxxxxxx Xv v_v XX X v .... v Xx_ IYYX\ ... ,tXX xxxxxxx KEW AJIBAN PEMERINTAH SEKTOR HULU MIGAS a. ALOKASI UNTUK SDA X A A A X XXX X xx X xx IAAXAAA MINYAKBUMI b. ALOI<ASI UNTUK SDA XX xxxxxx XX X X xxxxxx GAS BUMI www.jdih.kemenkeu.go.id -112 - C. PEMINDAHBUKUAN LAIN- xxxxxxx xxxxxxx AAX xx,_ xxxxxxx xxxxxxx LAIN III. SALDO PER 23 APRIL 20XX XXX A A A XAA A A A A A xxxxxxxx xxxxxxxx Metode penghitungan untuk pengalokasian pembebanan pembayaran kewajiban Pemerintah antara beban SDA Minyak Bumi dan SDA Gas Bumi sebagaimana tergambar dalam tabel di atas pada poin "II" tentang "PENGELUARAN" huruf "B" tentang "PEMBAYARAN KEWAJIBAN PEMERINTAH DARI KEGIATAN USAHA HULU MIGAS" dilakukan menggunakan metode yang sama dengan metode pengalokasian pencadangan dana saldo Rekening Minyak dan Gas Bumi untuk pembayaran kewajiban Pemerintah, yaitu dengan menggunakan pendekatan "proporsional atas kontribusi dari kedua Jems penerimaan, dalam hal ini penerimaan SDA Min yak Bumi dan SDA Gas Bumi)). Data kontribusi penerimaan SDA Minyak Bumi dan SDA Gas Bumi yang digunakan dalam perhitungan pengalokasian tersebut adalah Laporan Pengiriman Min yak Bumi Bagian Negara ke kilang non Pertamina s.d. Laporan atas pengiriman minyak mentah bagian kontraktor dalam rangka DMO yang diterbitkan oleh Instansi Pelaksana. Penjelasan secara lebih rinci terkait dengan proses pengalokasian dengan menggunakan metode dimaksud dapat dilihat pada Bab II, sub bab "Penghitungan Alokasi Pencadangan Dana atas Pembayaran Kewajiban Pemerintah dari Kegiatan Usaha Hulu Migas". Data Laporan Pengiriman Migas Bagian Negara dan Laporan atas pengiriman minyak mentah bagian kontraktor dalam rangka DMO yang digunakan adalah data laporan yang telah terbit pada saat dilakukannya proses penghitungan pemindahbukuan. 4) Berdasarkan transaksi penerimaan dan pengeluaran di Rekening Min yak dan Gas Bumi se bagaimana dijelaskan di atas, selanjutnya akan diperoleh nilai saldo atas dana di Rekening Minyak dan Gas Bumi yang dikelompokkan per jenis penerimaan sebagaimana www.jdih.kemenkeu.go.id -113 - diuraikan dalam tabel kertas kerja di bawah, yaitu pada poin "III" ten tang "SALDO PER 23 APRIL 20XX". Dalam hal ini termasuk penerimaan SDA Migas yang telah dikelompokkan untuk masing-masing penerimaan SDA Minyak Bumi dan SDA Gas Bumi, yang merupakan salah satu komponen yang akan digunakan sebagai dasar dalam melakukan penghitungan dan pengukuran nilai PNBP SDA Migas yang dapat dipindahbukukan dari Rekening Minyak dan Gas Bumi ke Rekening KUN Valas. Sebagai ilustrasi, kertas kerja dapat digambarkan dalam tabel berikut: PERIODE SUB 1 PERIODE TOTAL SALDO JANUARI 1 S.D. 23 S.D. 23 TOTAL URAIAN AWAL S.D. 31 APRIL APRIL MARET 20XX 20XX 20XX 1 2 3=1+2 4=2+3 5=1+4 I. PENERIMMN ;(.Y..,,v XX ,_)( xxxxxxxx xxxxxxxx xx X ,X XX X II. PENGELUARAN X xxxxxxxx ------------- ------- Ill. SALDO PER 23 APRIL 20XX xxxxxxxx xxxxxxxx 1>(.Y ..... v X v ..... Y..J( xxxxxxxx ,,c X VX A. SDAMIGAS ,X XX X" xxxxxxx xxxxxxx X xxxxxxx a. MINYAKBUMI xxxxxx -----~ xxxxxx - --· --- b. GAS BUMI xxxxxx xx Y-\ .. X xxxxxx xxxxxx IX...X...X xx TOTAL SDA MIGAS XX X X X xxxxxxxx xxxxxxxx -------- B. PNBP LAINNYA DARI xxxxxxx - X IY"""Y"'Y XX Y,.,,_\,, xxxxxxx l"•··;L..,.Y x>O( KEGIATAN USAHA HULU MIGAS C. LAlN-LAlN xxxxxxx xxxxxxx xxxxxxx XAAAXX xxxxxxx c. Melakukan penghitungan dana yang harus dicadangkan di Rekening Minyak dan Gas Bumi pada bulan yang bersangkutan dan mengelompokkannya menjadi 3 (tiga) kelompok besar sebagai berikut: 1) Cadangan atas Pendapatan Yang Ditunda 2) Cadangan atas Pembayaran Kewajiban Pemerintah 3) Cadangan Lain-lain Cadangan atas pendapatan yang ditunda sebagaimana tergambar dalam tabel kertas kerja pada poin "IV" tentang "PENCADANGAN SALDO PADA AKHIR BULAN APRIL 20XX" pada sub judul huruf "A" tentang "PENDAPATAN YANG DITUNDA" akan dikelompokkan per jenis penerimaan sebagaimana diuraikan dalam tabel kertas kerja, yaitu pada poin "I" ten tang "PENERIMAAN". www.jdih.kemenkeu.go.id -114 - Cadangan atas pembayaran kewajiban Pemerintah sebagaimana tergambar dalam tabel kertas kerja pada poin "IV" tentang "PENCADANGAN SALDO PADA AKHIR BULAN APRIL 20XX" pada sub judul huruf "B" tentang "PEMBAYARAN KEWAJIBAN PEMERINTAH DARI KEGIATAN USAHA HULU MIGAS" akan dilakukan pengalokasian seperti dilakukan terhadap transaksi pengeluaran atas pembayaran kewajiban Pemerintah, yaitu sebagai beban atas penerimaan SDA Minyak Bumi dan beban atas Penerimaan SDA Gas Bumi. Cadangan Lain-lain sebagaimana tergambar dalam tabel kertas kerja pada poin "IV" tentang "PENCADANGAN SALDO PADA AKHIR BULAN APRIL 20XX" pada sub judul huruf "C" tentang "LAIN-LAIN" merupakan dana Rekening Minyak dan Gas Bumi yang berasal dari penerimaan atas kesalahan transfer dan pembayaran kewajiban Pemerintah yang di-retur yang masih belum dan/ atau dalam proses pemindahbukuan. Sebagai ilustrasi, kertas kerja dapat digambarkan dalam tabel berikut: URAIAN I. PENERIMMN II. PENGELUARAN III. SALDO PER 23 APRIL 20XX IV. PENCADANGAN SALDO PADA AKHIR BULAN APRIL 20XX A. PEND AP A TAN YANG DITUNDA a. SDAMIGAS - MINYAKBUMI - GAS BUMI b. PNBP LAINNYA DARI KEGIATAN USAHA HULU MIGAS B. PEMBAYARAN KEWAJIBAN PEMERINTAH a. ALOI<ASI UNTUK SDA MINYAKBUMI b. ALOKASI UNTUK SDA GAS BUMI C. LAIN-LAIN SALDO AWAL PERIODE 1 JANUARI PERIODE 1 SUB TOTAL S.D. MARET 20XX 31 S.D. 23 S.D. 23 TOTAL APRIL 20XX APRIL 20XX 2 3=1+2 4=2+3 5=1+4 www.jdih.kemenkeu.go.id -115 - Penghitungan alokasi dana yang harus dicadangkan untuk masing-masing jenis pengeluaran tersebut di atas, prosesnya telah dijelaskan secara rinci pada Bab II, sub bab "Penghitungan Alokasi Pencadangan Dana atas Pembayaran Kewajiban Pemerintah dari Kegiatan Usaha Hulu Migas". d. Selanjutnya, dengan mengacu pada formula perhitungan PNBP SDA Migas sebagaimana telah dijelaskan di atas, maka jumlah saldo atas dana di Rekening Minyak dan Gas Bumi pada tabel kertas kerja sebagaimana dimaksud pada poin "III" tentang "SALDO PER 23 APRIL 20XX" dikurangkan dengan jumlah dana yang harus dicadangkan di Rekening Minyak dan Gas Bumi se bagaimana dimaksud pada poin "IV" tentang "PENCADANGAN SALDO PADA AKHIR BULAN APRIL 20XX", sehingga dapat diperoleh nilai PNBP SDA Migas yang dapat diusulkan untuk dapat dipindahbukukan pada periode yang bersangkutan sebagaimana terlihat dalam tabel kertas kerja pada poin "V" tentang "PEMINDAHBUKUAN BULAN APRIL 20XX" pada sub judul huruf "B" ten tang "SDA MIGAS". Sebagai ilustrasi, kertas kerja dapat digambarkan dalam tabel berikut: PERIODE SUB 1 PERIODE TOTAL SALDO JANUARI 1 S.D. 23 S.D. 23 TOTAL URAIAN AWAL S.D. 31 APRIL APRIL MARET 20XX 20XX 20XX 1 2 3=1+2 4=2+3 5=1+4 I. PENERIMMN xxxxxxxx xxxxxxxx ---------------------- A. SDAMIGAS xxxxxxxx xxxxxxxx _ XX xx xxxxxxxx X \,,,,_v XX VY .. a. MINYAKBUMI xxxxxxx xxxxxxx X X xxxxxxx -------- b. GAS BUMI xxxxxxx xxxxxxx - --· __ x_ X _Y,_ xxxxxxx B. PNBP LAINNYA DARI KEGIATAN xxxxxxxx xxxxxxxx _ XX xx IX ..., XX X v .... v XX Y...,Y,_ HULU MIGAS C. LAIN-LAIN XX X XX XX X XX A AX XX XX A A A A II. PENGELUARAN ----- xxxxxxxx -------------- ------- A. PEMINDAHBUKUAN KE ,_,_ -- X A AX X A A X A AX X A AX A A A All\. A A AAA xx ..JI. REKENING KUN a. PEMINDAHBUKUAN SDA AA X X AA A xxxxxxx ,x X X xxxxxxx MIGAS - SDA MINYAK BUMI xxxxxx xxxxxx - ---·---------- - SDAGAS BUMI xxxxxx xxxxxx XX Y...,Y..J<.,. _Y..., X Y_Y.., xxxxxx b. PEMINDAHBUKUAN PNBP xxxxxxx ..... ·- A A AX A A AAA ,x A A J\..,.,. .. ·-·-· IAA.AXAAJI. LAINNYA DARI KEGIATAN HULU MIGAS www.jdih.kemenkeu.go.id 2. -116 - B. PEMBAYARAN PEMERINTAH SEKTOR HULU MIGAS a. ALOI<ASI UNTUK MINYAKBUMI b. ALOI<ASI UNTUK SDA GAS BUMI IV. PENCADANGAN SALDO PADA AKHIR BULAN APRIL 20XX A. PENDAPATAN YANG DITUNDA a. SDAMIGAS MINYAKBUMI GAS BUMI b. PNBP LAINNY A KEGIATAN USAHA MIGAS B. PEMBAYARAN PEMERINTAH KEWAJIBAN a. ALOI<ASI UNTUK MINYAKBUMI b. ALOI<ASI UNTUK SDA GAS BUMI C. LAIN-LAIN V. PEMINDAHBUKUAN BULAN APRIL 20XX A. SDAMIGAS a. MINY AK BUMI b. GAS BUMI B. PNBP LAINNYA DARI KEGIATAN HULU MIGAS C. LAIN-LAIN Perhitungan PNBP SDA Migas Dalam Rangka Penyesuaian/Koreksi atas Proses Pengakuan dan Pengukuran Realisasi Pendapatan Yang Telah Dilakukan Secara Periodik Penyesuaian/koreksi terhadap proses pengakuan dan pengukuran realisasi pendapatan yang telah dilakukan secara periodik merupakan penghitungan kembali PNBP SDA Migas agar dapat menyajikan alokasi data realisasi PNBP SDA Migas untuk masing-masing akun pendapatan pada Laporan Realisasi Anggaran (LRA) secara akurat dan akuntabel. Proses perhitungannya dapat dilakukan dalam beberapa tahap, antara lain: a. Triwulanan; b. Semesteran; c. Menjelang akhir periode tahun anggaran; dan/ atau d. Setelah berakhirnya suatu periode tahun anggaran. www.jdih.kemenkeu.go.id 117 - Langkah-langkah perhitungannya secara umum hampir sama dengan proses yang dilakukan dalam penghitungan PNBP SDA Migas dalam rangka pengakuan dan pengukuran realisasi pendapatan secara periodik sebagaimana telah diuraikan pada angka "l" di atas, yang membedakan hanya terkait dengan periode perhitungan serta dokumen-dokumen yang digunakan. Data yang digunakan untuk penghitungan PNBP SDA Migas dalam rangka penyesuaian/koreksi pada periode triwulanan dan/ atau semesteran dan/ atau saat menjelang akhir periode tahun anggaran masih menggunakan gabungan antara data realisasi dan data perkiraan. Sementara itu, data yang digunakan untuk penghitungan PNBP SDA Migas dalam rangka penyesuaian/koreksi setelah berakhirnya suatu periode tahun anggaran, seluruhnya sudah menggunakan data realisasi. Hasil perhitungan atas penyesuaian/koreksi PNBP SDA Migas tersebut akan digunakan sebagai dasar melakukan koreksi re-klasifikasi pengakuan realisasi pendapatan pada LRA antara PNBP SDA Minyak Bumi dan PNBP SDA Gas Bumi, yaitu dari kode akun 421111 (Pendapatan Minyak Bumi) ke kode akun 421211 (Pendapatan Gas Bumi). Selain itu, koreksi re-klasifikasi pengakuan realisasi pendapatan pada LRA juga dapat terjadi antara PNBP SDA Migas ke PNBP Migas Lainnya atau sebaliknya. Dalam hal m1 apabila dalam proses penghitungan penyesuaian/koreksi dimaksud juga ditemukan kesalahan dalam posting penerimaan PNBP Migas Lainnya ke PNBP SDA Migas ataupun sebaliknya. Kurs yang digunakan untuk mentranslasikan nilai dalam valuta asing ke dalam rupiah menggunakan kurs tengah rata-rata hitung Bank Indonesia selama satu tahun anggaran yang bersangkutan. Koreksi re-klasifikasi pengakuan realisasi pendapatan pada LRA dilakukan melalui proses pengajuan usulan re-klasifikasi akun pendapatan oleh Satker PNBP Khusus BUN kepada Kepala KPPN Khusus Penerimaan. www.jdih.kemenkeu.go.id -118 - BABV PETUNJUK TEKNIS TATA CARA PENGHITUNGAN PNBP MIGAS LAINNYA DALAM RANGKA PROSES PENGAKUAN DAN PENGUKURAN MELALUI MEKANISME PEMINDAHBUKUAN A. Definisi dan Jenis PNBP Migas Lainnya merupakan penerimaan atas hak negara dari kegiatan usaha hulu Migas yang diatur dalam kontrak atau ketentuan perundang-undangan, diluar penerimaan yang telah dikelompokkan ke dalam PNBP SDA Migas. Jenis penerimaan yang termasuk kelompok PNBP Migas Lainnya, yang memerlukan proses pemindahbukuan dari Rekening Minyak dan Gas Bumi ke Rekening KUN pada saat pengakuan pendapatan dalam Laporan Realisasi Anggaran adalah penerimaan yang berasal dari denda, penalti dan bunga terkait kegiatan usaha hulu Migas. Hal ini mengingat penyetoran atas denda, penalti dan bunga tersebut melekat dengan nilai pokok hasil penjualan atau nilai setoran overlifting Kontraktor. Namun demikian, tidak menutup kemungkinan terdapat penerimaan salah setor atas PNBP Migas Lainnya yang seharusnya disetorkan ke rekening Kas Negara melalui bank persepsi, tetapi kemudian diterima di Rekening Minyak dan Gas Bumi, sehingga memerlukan proses pemindahbukuan dari Rekening Minyak dan Gas Bumi ke Rekening KUN untuk pengakuan pendapatan dalam Laporan Realisasi Anggaran. B. Dokumen yang diperlukan Dokumen sumber yang digunakan dalam proses pemindahbukuan PNBP Migas Lainnya meliputi: 1. Bukti penerimaan di Rekening Minyak dan Gas Bumi (Rekening Koran); 2. Laporan, surat tagihan, ataupun surat pemberitahuan dari Instansi Pelaksana terkait hak negara atas pengenaan denda, penalti dan bunga yang ditagihkan atau dibayarkan oleh pihak ketiga dari transaksi lifting Migas bagian negara. www.jdih.kemenkeu.go.id -119 - C. Mekanisme Pemindahbukuan Untuk pemindahbukuan dana yang berasal dari penenmaan negara dari kegiatan usaha hulu Migas ke Rekening KUN atas setoran PNBP Migas Lainnya, pada prinsipnya tidak memerlukan perhitungan karena setoran atas PNBP Migas Lainnya merupakanjenis penerimaan yang earning process-nya sudah selesai dan tidak memerlukan perhitungan dan/ atau pengurangan unsur apapun. Pemindahbukuan dana atas setoran PNBP Migas Lainnya yang telah diterima di Rekening Minyak dan Gas Bumi, dilakukan setelah diperolehnya kelengkapan dokumen sebagaimana dimaksud pada huruf "B". Dana yang dipindahbukukan ke Rekening Kas Umum Negara sebagai PNBP Migas Lainnya adalah sebesar nilai setoran yang diterima di Rekening Minyak dan Gas Bumi tanpa dikurangi kewajiban Pemerintah. Sebagian besar penyetoran atas denda, penalti, dan bunga melekat dengan nilai pokok hasil penjualan atau nilai setoran overlifting Kontraktor. Sementara itu, informasi dan dokumen pendukung berupa laporan, surat tagihan, ataupun surat pemberitahuan atas denda penalti dan bunga tersebut dapat diterima secara terlambat oleh Direktorat Jenderal Anggaran. Oleh sebab itu, kondisi tersebut dapat menyebabkan penerimaan atas denda, penalti, dan bunga yang tergabung dengan pembayaran pokoknya, ikut terpindahbukukan menjadi PNBP SDA Migas. Terhadap penerimaan denda, penalti, dan bunga yang telah terpindahbukukan menjadi PNBP SDA Migas akan dilakukan koreksi re-klasifikasi pendapatan dari PNBP SDA Migas menjadi PNBP Migas Lainnya melalui proses usulan koreksi yang disampaikan oleh Satker PNBP Migas kepada Kuasa BUN Tingkat Pusat. www.jdih.kemenkeu.go.id -120 - BAB VI PETUNJUK TEKNIS TATA CARA PEMINDAHBUKUAN P